Hingga saat ini, sudah cukup banyak babad di Lombok yang sudah dikenali bahkan sudah dtranskripsi ke dalam tulisan latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara babad-babad tersebut misalnya; babad Lombok, babad Seleparang, Babad Sakra, Babad Praya dan lain-lain. Pada umumnya, babad-babad tersebut mengungkapkan peristiwa penting yang pernah dialami ditempat-tempat tertentu, misalnya, Babad Sakra yang menceritakan penyerangan Karangasem ke daerah Sakra, atau babad Praya yang menceritakan penyerangan yang dilakukan Karangasem ke Praya. Babad Lombok menceritakan tentang riwayat dari Nabi Adam hingga hancurnya dua kerajaan besar di Lombok yakni Pejanggik dan Seleparang, sementara Babad Seleparang hanya mengambil sebagian dari rentang peritiwa tersebut yakni kehancuran Pejanggik dan Seleparang. Babad Lombok secara keseluruhan memuat 1218 bait (Suparman, 1994 : VIII)13. Isi babad tersebut secara secara umum; dari bait pertama hingga bait 977...
Musik ini terdiri atas bermacam-macam alat yakni : 1. Alat petik, gambus ada dua buah masing-masing berfungsi sebagai melodi dan akor. 2. Alat gesek, biola ada dua buah berfungsi sebagai pembawa melodi. Gambus terbuat dari kayu gerupuk dan kulit kambing sebagai resonatornya. Bentuknya menyerupai gitar, hanya pada bagian perutnya tidak berpinggang. Senarnya terdiri atas empat nada, masing –masing satu senar. 3. Alat tiup, suling dan pererat yang berfungsi sebagai pembawa melodi. 4. Alat pukul, gendang ada tiga buah, masing –masing berfungsi sebagai pembawa irama, pembawa dinamika dan tempo, juga sebagai gong. Rerincik digunakan sebagai alat ritmis. Fungsi orkestra ini adalah sebagai hiburan pada acara perkawinan, khitanan atau hari-hari besar nasional dan daerah. Orkestra ini datang pad...
Bagi semua orang tua, akan merasa berbahagia bila bisa melaksanakan pernikahan. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila pelaksanaan nikah diawali serta diakhiri dengan berbagai upacara adat sebagai luapan rasa bahagia dan syukur kehadapan Yang Maha Kuasa. Bagi masyarakat Bima-Dompu, upacara nika ro neku, merupakan upacara daur hidup yang sangat menentukan masa depan putra-putri mereka. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, dan warga terlibat dalam upacara ini. Karena itu upacara Nika ro neku termasuk “ Rawi Rasa” ( upacara yang harus melibatkan seluruh warga kampung). .Ada 17 proses kegiatan yang berkaitan dengan pernikahan dalam kebiasaan masyarakat Bima Dompu. Apa sajakah rangkaian prosesi itu ? 1. La Lose Ro La Ludi (Kunjungan Rahasia) 2. Katada Nggahi (Mengikrar Kata Hati) 3. Wa’a Mama Dan Sarau 4. Ngge’e nuru 5. Mbolo Ro Dampa 6. Nggempe 7. Wa’a Masa Nika 8. Kalondo Wei 9. Upacara Ka...
Dalam seni Tari Bima, semua jenis tari rakyat, disebut “mpa’a ari mai ba asi” atau tari di luar pagar istana (ASI). Hal ini berarti bahwa atraksi kesenian ini tumbuh dan berkembang di luar lingkungan istana, yang lazim disebut dengan Tari Rakyat. Biarpun tari rakyat tumbuh dan berkembang di luar istana, namun sultan melalui para seniman istana, tetap mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan tarian rakyat, dengan demikian mutu tari tetap terpelihara dan terpacu pada nilai dan norma agama dan adat yang islami. Mpa’a Gantao adalah salah satu tarian rakyat yang telah tumbuh sejak zaman kesultanan Bima. Atraksi keseniaan ini diperkirakan ada sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin( 1648-1685).Atraksi kesenian ini cukup popular bagi masyarakat Bima, karena hingga saat ini masih tetap eksis dan dipertunjukkan dalam berbagai acara dan hajatan baik di lingkup Pemerintah Daerah maupun masyarakat. Biasanya Gantao dipertunjukkan pada...
Pada masa kesultanan Bima dan Dompu, seni budaya islam berkembang pesat di daerah Bima dan Dompu. Jenis seni musik islam yang sangat digemari oleh masyarakat ialah “Jiki” (jikir), terdiri dari : Jiki molu (jikir maulud), dinyanyikan pada upacara perayaan maulud (ndiha molu) yang bersamaan dengan upacara UA PUA. Di nyanyikan oleh penyanyi laki – laki tanpa diiringi dengan musik. Pada masa kesultanan, upacara perayaan Islam antara lain aru raja to’I (hari raya idul fitri), aru raja na’e (hari raya idul adha) dan upacar UA PUA (upacara sirih puan), selalu dimeriahkan dengan pergelaran seni islam antara lain jiki marhaba (jikir asrakal. Syair lagu tiga jenis jiki, berisi pujian terhadap kebesaran dan keagungan Allah dan Muhammad Rasulullah, tanpa diiringi oleh musik. Jiki rati (jikir ratih), dinyanyikan pada upacara pernikahan, khitanan dan khataman Al- Qur’an, tanpa diiringi musik. Jiki kapanca (ji...
Dalam Bahasa Indonesia Mpa’a Kawongga dikenal dengan nama “Main Gasing” (Kawongga = Gasing). Bentuk dan ukuran Kawongga dengan gasing dari daerah lain agak berbeda. Dibuat dari kayu yang keras dan kuat. Tidak mudah retak dan pecah. Dibagian kepalanya tidak dipasang paku atau kawat seperti gasing yang banyak beredar sekarang.Mpa’a Kawongga bisa dimainkan secara perorangan atau beregu. Dimainkan oleh anak-anak laki-laki umur 9 tahun sampai usia remaja. Menurut perannya, pemain Kawongga dapat dibagi dua kelompok, yang pertama disebut “Ma boe” (yang memukul) Kawongga lawan. Kelompok kedua berfungsi sebagai “Ma Te’e” (yang memasang) Kawongganya untuk dipukul atau lebih tepat dilempar oleh regu pemukul dengan menggunakan Kawongga pula. Ompu Sedo, salah seorang warga Sadia yang ditemui Sarangge pertengahan Maret 2013 menuturkan, Kawongga harus di Te’e (dipasang) dalam keadaan “Kabiri” (berputar) dengan p...
Masyarakat Bima memberikan label " Dou Woro " untuk arwah sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Entah kapan istilah ini ada, tetapi Dou Woro terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. Seiring dengan peningkatan pemahaman terhadap ajaran islam istilah atau label Dou Woro sudah mulai pudar, namun di beberapa desa dan tempat label ini masih saja ada. Pada masa lalu, membakar lampu dari biji jarak yang dikenal dengan" Ilo Peta " seperti ini sudah mentradisi di kalangan masyarakat Bima terutama tiga hari menjelang idul Fitri. Nenek saya menceritakan bahwa tujuh hari menjelang idul fitri para Dou Woro mendatangi dunia. Empat hari berkunjung ke Asi Mbojo dan tiga hari ke rumah para sanak keluarganya untuk bersilaturahmi. Oleh karena itulah, maka dinyalakanlah Ilo Peta untuk menyambut mereka. Tradisi Ka' a Ilo atau membakar lampu dari buah pohon Mantau dan biji jarak menjelang idul fitri ini adalah nostalgia masa silam bagi saya dan mungkin juga teman teman yang se zaman. Ka...
Ada yang menarik salah satu tradisi masyarakat pesisir Teluk Bima di Lewi Dewa yaitu Taji Lopi Toi yang berarti lomba perahu mini, tradisi ini biasa dilakukan tiga kali dalam satu bulan, awalnya tradisi Taji Lopi Toi dilakukan saat sesudah selesai panen dan para nelayan yang menunggu cuaca angin membaik saat musim angin barat. Perahu mini atau oleh masyarakat lokal menyebutnya Lopi Toi tersebut di buat dari kayu pohon kapuk karena sangat ringan. Panjang dari Lopi Toi yaitu 1,70 cm hingga 200 cm, layarnya terbuat dari plastik bekas atau dibeli permeternya. Ciri dari Lopi Toi tersebut adalah warna warni cat-nya, semakin banyak warnanya maka akan semakin kelihatan mencolok pada saat Lopi Toi di turunkan ke laut. Harganyapun bekisar dari 200 ribu hingga 500 ribu rupiah. Perlombaan Lopi Toi di adakan 3 kali dalam sebulan, pesertanya bisa mencapai 300 hingga 400 orang yang mendaftar. Satu Lopi Toi di daftar dengan biaya 10 ribu rupiah yang terbagi dalam dua kategori perlombaan...
Dalam Bahasa Bima, Mbaju berarti menumbuk padi. Sedangkan Rasa berarti kampung. Hal ini berarti bahwa kegiatan Mbaju Rasa adalah prosesi menumbuk padi secara massal yang dilakukan oleh masyarakat khususnya kaum perempuan Dana Mbojo pada masa lalu. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak masyarakat Bima-Dompu mengenal cara bercocok tanam dengan sistim pertanian menetap, yaitu tepatnya pada era Ncuhi, dimana pada masa ini sudah ada sistim paguyuban masyarakat yang dipimpin para Ncuhi. Masa Ncuhi itu sendiri berlangsung jauh sebelum Bima memasuki masa kerajaan sekitar abad 14 M. Pada Masa Lalu, tradisi Mbaju Rasa dilakukan usai panen padi atau menjelang hajatan-hajatan di masyarakat seperti pernikahan, khitanan, khatam Alqur’an dan lain-lain kegiatan di kampung. Dilandasi semangat kebersamaan dan gotong royong, Mbaju Rasa dilakukan pada suatu tempat yang telah ditentukan dengan cara, kaum ibu membawa padi dari lumbung masing-masing diserta Alu dalam bahasa Bima di...