Tradisi Buang Ayam / Bebek. Tradisi ini dilaksanakan setelah prosesi Ijab Qabul pernikahan. Namun tradisi ini dikhususkan bagi calon mempelai yang rumahnya dibatasi oleh sungai yang agak besar. Jadi ketika iring-iringan calon pengantin tersebut melewati jembatan, diwajibkan membawa sepasang bebek atau ayam untuk dibuang. Menurut kepercayaan setempat, apabila tidak melaksanakan tradisi tersebut, bisa dipastikan kedua pengantin tersebut bakal celaka.
Pada jaman dahulu, dibuang dalam artian adalah bebek / ayam tersebut dijadikan semacam tumbal agar terbebas dari celaka. Sehingga bebek / ayam yang dilempar tersebut akan hanyut dan mati terbawa arus sungai.
Namun kini seiiring dengan berjalannya waktu, prosesi “pembuangan” tersebut tidak sepenuhnya dibuang, namun nanti diperebutkan oleh anak – anak yang sudah menunggu di bawah jembatan. Setiap pengantin membawa bebek / ayam satu persatu, dan dalam hitungan ketiga, hewan tersebut dilemparkan dan dijadikan rebutan. Suasana di bawah jembatan menjadi riuh ramai oleh anak- anak yang saling berebut. Biasanya, hasil tangkapannya pun nanti dimasak untuk disantap bersama-sama dengan anak- anak yang lainnya.Tradisi yang awalnya sebagai penolak bala, kini berubah menjadi sedekah. Karena biasanya anak – anak yang berebut hewan tersebut adalah dari golongan yang kurang mampu. Untuk lebih meramaikan acara, kedua hewan tersebut biasanya dihias yaitu diberi pita agar menarik perhatian. Unik bukan?
Tradisi ini masih dilakukan oleh desa yang dilewati oleh sungai besar dan lokasinya terbilang jauh dari jalan utama. Ketika melakukan survey via twitter @infotegal, daerah yang tercatat masih melakukan tradisi ini adalah di Larangan (Kramat), seputaran Pagiyanten (Adiwerna), Sindang (Dukuhwaru), dan beberapa daerah lainnya.
Semoga artikel ini bisa menambah wawasan teman-teman mengenai tradisi unik yang adai di wilayah Tegal.
Sumber:
https://infotegal.com/2013/05/tradisi-buang-ayam-atau-bebek-di-tegal/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...