Tari topeng Klana menggambarkan sifat manusia yang penuh amarah, bertabiat buruk, dan serakah. Tari topeng Klana ini adalah salah satu dari lima topeng Panca Wanda (Panji, Rumyang, Tumenggung, Klana, dan Samba/Pamindo).
Tari Topeng Cirebon sudah ada sejak abad 10 atau 11 Masehi. Dulu tari topeng hanya dipertunjukkan untuk kalangan tamu kerajaan dan para patih kerajaan, atau kalau ada tamu dari luar negeri, tari topeng Cirebon hanya ditonton oleh orang-orang tertentu. Sedangkan rakyat biasa hanya bisa menonton dari kejauhan atau kalau di dalam keraton tariannya. Masyarakat hanya melihat dari teralis jendela luar seperti mengintip.
Pada masa itu kebanyakan masyarakat masih memeluk agama islam kejawen atau islam yg bercampur dengan kebudayaan hindu seperti membakar dupa dll. Pada zaman itu terdapat wali atau tokoh-tokoh pemimpin islam, mereka selain menyebarkan agama islam mereka juga mendalami kebudayaan masyarakatnya. Karena pada masa itu para wali/tokoh pemimpin agama islam sangat sulit sekali untuk mengajak masyarakat memeluk islam. Maka setelah para wali itu menguasai kebudayaan Indonesia diantaranya seni tari topeng, mereka berinisiatif mengajak masyarakat untuk memeluk agama islam. Dalam dakwahnya mereka sisipkan kebudayaan tari-tarian, yaitu dengan mengajak masyarakat yg tertarik untuk menonton atau melihat tari-tarian, syaratnya mereka harus membacakan dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang menunjukkan niat seseorang untuk masuk agama islam. Jadi untuk masyarakat yang ingin melihat langsung pertunjukkan tari topeng atau wayang kulit merek diwajibkan terlebih dahulu memeluk agama islam.
Cara ini dilakukan oleh salah satu Sunan Kalijaga. Sehingga kini kadang2 ada beberapa seniman topeng menyebut yang menciptakan tari topeng adalah Sunan Kalijaga padahal sebenarnya tarian itu sudah ada sebelumnya. Sedangakan sunan kalijaga hanya mempopulerkan saja sehingga lebih dikenal sampai sekarang.
#OSKMITB2018
Sumber artikel: Guru Kesenian SMAK 1 BPK Penabur Cirebon, Bapak Ade.
Sumber foto: Gratia Gonzales dalam acara One Moment with SMAK 2017
Sayur sop ayam adalah salah satu masakan rumahan yang sangat populer di Indonesia khas ala Nur Kitchen . Rasanya yang ringan, segar, dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau saat ingin makanan yang menenangkan. Selain enak, sayur sop ayam juga kaya akan nutrisi karena terdiri dari berbagai sayuran dan protein dari ayam. Bahan-Bahan Sayur Sop Ayam Berikut bahan yang perlu disiapkan: 500 gram daging ayam (potong sesuai selera) 2 buah wortel (iris bulat) 2 buah kentang (potong dadu) 1 batang daun bawang (iris) 1 batang seledri (ikat atau iris) 1 liter air Bumbu Halus: 4 siung bawang putih 1/2 sendok teh merica Garam secukupnya Bumbu Tambahan: 1/2 sendok teh gula Kaldu bubuk secukupnya (opsional) Cara Membuat Sayur Sop Ayam Rebus Ayam Didihkan air, lalu masukkan potongan ayam. Rebus hingga setengah matang. Buang kotoran atau busa yang muncul agar kuah tetap jernih. Tumis Bumbu Haluskan bawang putih dan merica, lalu...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...