Ritual
Ritual
Adat Sumatera Utara Sumatera
Adat Pernikahan Batak Toba "Paulak Une' dan " Tingkir Tangga'"
- 18 April 2016

Pelaksanaan prosesi adat pernikahan Batak Toba yang antara lain 'paulak une' dan 'tingkir tangga' kini sudah mulai mengalami pendangkalan makna dan terkesan dipaksakan. Bukan hanya terjadi di kota, tapi kini sudah merasuk ke pedesaan. Pendangkalan makna kedua prosesi adat pernikahan itu digantikan dengan 'ulaon sadari' yang dilaksanakan dalam satu hari saja.

Dikatakan, 'paulak une' dalam budaya Batak Toba dimaksudkan sebagai upacara mengunjungi mertua atau orang tua perempuan dengan menyampaikan bahwa perkawinan itu sudah berjalan bagus atau 'une'. Pada substansinya, prosesi itu adalah suatu acara antara keluarga kedua mempelai yang dilaksanakan setelah beberapa hari pesta selesai. Keluarga muda itu bersama orang tuanya datang ke rumah parboru dengan maksud bersilaturahmi, mengingat pada waktu pesta tidak banyak waktu bersama. Tetapi satu esensi penting, adalah ucapan terima kasih dari pengantin pria, bahwa orang tua pengantin wanita berhasil mengasuh, mendidik dan memelihara adab dan adat borunya, sehingga tetap menyandang status "gadis", sampai dengan hari perkawinannya.

Sementara tingkir tangga tambahnya, adalah kunjungan balasan dari orang tua pengantin wanita bersama kerabat terdekatnya ke rumah orangtua pengantin pria, untuk melihat keadaan sosial, ekonomi dan spritual pihak pria. Selain itu juga, dikenal sebagai implementasi bahwa dengan adanya pernikahan, maka hubungan kekeluargaan itu tidak hanya terbatas sampai pernikahan saja tetapi menyangkut juga keluarga besarnya.

Untuk Suku Batak lanjutnya, tradisi pernikahan merupakan momen besar. Dalam kebiasaan pernikahan orang Batak banyak pihak ikut serta berpartisipasi dan juga sebagai saksi proses tradisi yang berlaku dan turut bertanggungjawab di dalamnya. Dikarenakan banyak pihak yang ikut serta, pernikahan pada warga Batak ikatannya sangatlah kuat dan susah untuk bercerai. Pernikahan baru disebutkan resmi, bila dikerjakan berdasar pada Dalihan Na Tolu, yakni elek marboru, manat mardongan tubu, serta somba marhula-hula.

Pada jaman dahulu katanya, walau orang-orang Batak merantau serta tinggal jauh dari tanah kelahirannya, tetap memegang teguh nilai-nilai budaya. Baik mulai sistem kekerabatan, sampai kebiasaan istiadat dari mulai bayi, anak, remaja, perkawinan serta kematian, terus terpelihara dalam kehidupan keseharian. Namun anehnya, saat ini meski rumah paranak dan parboru (keluarga mempelai pria dan wanita) berhadap-hadapan atau hanya berjarak hitungan langkah, kedua belah pihak tetap melaksanakan "ulaon sadari" dan tidak ada lagi acara "tingkir tangga" dan "paulak une". Padahal dahulu, "ulaon sadari" dilakukan karena tempat tinggal kedua belah pihak sangat berjauhan sehingga sulit dirasa untuk saling mengunjungi lagi.

Ia berharap, para orangtua yang hendak menikahkan anaknya kemudian hari hendaknya jangan melakukan acara pernikahan ulaon sadari. Sebab, prosesi itu terkesan menyesatkan dan menghilangkan esensi substansi adat yang sesungguhnya ditunda, sampai tiba waktu yang tepat apalagi di zaman kemajuan teknologi ini, komunikasi sudah sedemikian baik dan lancar. Sebagai orangtua yang akan menikahkan anaknya, hendaknya menegakkan kedua prosesi itu sesuai pesan atau poda na tur, bahwa anak-anak gadis harus menjaga kehormatannya, dan anak lelaki harus mendukungnya, agar tetap beradat.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu