WARANEY - Ujung tombak suku minahasa Waraney dalah Prajurit perang pemberani dari bangsa Malesung (Orang Minahasa) yang tidak pernah mundur dalam setiap peperangan yang terjadi di zaman kolonial maupun sebelum zaman kolonial. Sebelum jadinya kolonial Belanda, Waraney merupakan tentara bangsa Malesung yang menjadi uejung tombak di setiap suku di Minahasa dalam melawan segala sesuatu yang dapat mengancam bangsa Malesung baik itu berupa binatang buas maupun manusia. Empat suku besar Minahasa yaitu Tontemboan, Tonsea, Tolour dan Tombulu akan menyiapkan para Waraney untuk selalu siaga dalam menjaga daerahnya masing-masing dengan mengadakan pelatihan kepada pemuda pemudi mereka untuk dijadikan penerus dalam menjaga daerahnya masing-masing. Di zaman itu para calon Waraney disebut SAWANG yang artinya calon Waraney seorang laki-laki maupun perempuan yang masih dalam pelatihan PAPENDANGAN (Sekolah Untuk Waraney) mereka akan di...
Sebelum mebahas pokok pembicaraan, mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu tonggak Tonggak adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Arti dari tonggak dapat masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan tonggak dapat bukan dalam arti yang sebenarnya. Tonggak memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga tonggak dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Tonggak memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga tonggak dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Tonggak yang berada di benteng moraya, tepatnya di kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara merupakan saksi dari tragisnya peristiwa perang tondano yang terjadi diminahasa. Pemicu terjadinya perang Tondano ada dua hal. Yang pertama, soal Kopi. Dulu cengkih, kopra dan beras belum dilirik Belanda...
Tari Gunde adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Sangihe, Sulawesi Utara. Tari Gunde ini biasanya ditarikan oleh para penari wanita dengan gerakannya yang khas dan musik tradisional. Tari Gunde merupakan salah satu tarian klasik yang cukup terkenal di Sangihe, Sulawesi Utara, dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti upacara adat, penyambutan dan berbagai acara budaya lainnya. Pada mulanya tari Gunde dilakukan pada saat pelaksanaan upacara penyembahan dan menolak bala yang dikenal dengan sebutan “ Menahulending “, sehingga tari ini berfungsi sebagai tarian pemujaan. Tari Gunde memiliki pengertian perlahan - lahan atau lemah lembut atau halus melambangkan kelemah lembutan jiwa sebagai gambaran hidup bahagia. Sejalan dengan perkembangan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, maka tari Gunde dimasukkan menjadi salah satu unsur kesenian Kerajaan. Gerakan Tari Gunde yang dilakonkan oleh para wanita dengan gerakan yang lemah gemulai, melambangkan kehalusan jiwa...
Ada seekor kancil bertemu dengan siput darat. Kancil berkata "Cara untuk pergi adalah apabila kita sampai yang dituju?" "Siput darat menjawab "Maukan kita berjalan cepat?" Kancil membalas "Baik!". Selanjutnya siput-siput darat berembuk dan menyampaikan kata dari raja siput darat. "Kami semua akan berbaris di pinggir sungai smapai di hulu sungai". Setelah para siput darat membentuk barisan, kancil segera berlari. Ketika dia merasa lelah, dia berhenti dan berkata "Di mana kamu, siapa yang tercepat di antara kita?" Jawba siput darat "Saya juga di sini!" Kancil berlari kencang sampai batas kemampuannya. Ketika dia merasa lelah dia berhenti sebentar dan berkata, "Di mana kamu, siapa yang tercepat?" Siput darat puyn menjawab dengan suara keras "Saya juga di sini!" Kancil pun berlari sampai kehabisan napas dan langsung mati. sumber: https://belajar.kemdikbud.go.id/BahasaSastra/Repositorys/Kumpulan%20Ce...
Pinolisian artinya tempat yang dipisahkan oleh Bagundaali (Gagundaali), seorang pahlawan Mongondow, kepala dari pahlawan Bintauna yang bernama Dongitan. Bagundaali dan Dongitan saling bertemu di hulu sungai Pinolisian. Setelah keduanya bertemu di hulu sungai, serta merta oleh Bagundaali dan Dongitan dipenggal dan terbagi dua. Selanjutnya, kepala Bagundaali dibawa ke Kotobangun. Di sana dia membuat tiang bendera yang akan ditancapkan di puncak gunung Pasi. Dan sejak hari itu tempat itu disebut oleh para tetua sebagai Pinolisian karena di sana terbelah Bagundaali seorang pahlawan dari Mongondow, dan kepala dari pahlawan Bintauna. Pada masa itu ada dua bersaudara. Keduanya adalah seorang pemburu. Nama mereka adalah Hondong dan Bangiloi. Keduanya dari Sinomantompi. Ketika berburu mereka sampai di hutan di pinggir sungai. Di dorong rasa lapar, mereka menangkap seekor kera dan membaginya di pinggir sungai. Kepla kera itu juga dibelah dua oleh mereka . https://belajar.kemdikbud....
Pernah terjadi, Mohinu dan Angkele' pergi memancing dengan jala sebulan lamanya. dimulai dari bawah, di sungai Nonapan sampai ke sungai Ambang, tetap imereka tidak mendapatkan seekor ikan pun. Keitka mereka pulang dan melemparkan jalanya di sebuah pusaran air mereka melihat tidak ada ikan melainkan sehelai rambut panjang kira-kira lima jengkal. Mereka kembali ke arah timur dan bertanya kepada Papua "Rambut siapa ini?" Papua menjawab "Rambut putri raja yang termuda". Mohinu berkata kepada Papua "Tolong simpankan untuk saya di tengah-tengah rumput". Setelah Papua menyembunyikannya, matahari sangat kuning, ia mendengar kepakan sayap para putri yang turun dari langit untuk mandi. Saat itu mereka tiba di bumi dan melepaskan sanggul untuk mandi, dia tahu bahwa rambut yang disembunyikan adalah rambut dari putri yang termuda karena rambutnya lima jengkal panjangnya. Sementara mereka mandi, Mohinu yang sedang bersembunyi pun muncul dan segera mengambil saya...
Ada seorang putri yang menikah dengan seorang raja, Setelah menikah, putri itu hamil dan melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik tetapi selalu menangis. Kalu diberi makan dia tak pernah mau bahkan diberi pakaian pun juga tidak mau. Pada suatu hari, anak itu pergi dan sampai di dekat sebuah pohon mangga. Dia melihat bahwa banyak buahnya yang sudah matang dan memutuskan untuk memanjat pohon itu. Ketika ia sudah berada di atas pihon, ia melihat ke bawah ada seekor babi yang selalu berjalan di atas ombak untuk makan buah dari pohon mangga itu. Putri raja yang melihat itu pun juga melihat jika ada cincin di bagian bawah kaki babi itu, segeralah a turun dan menarik cncin itu ketika babi itu tertidur pulas. Ketika babi itu bangun ia tidak menyadari jika cincin nya telah dicuri oleh putri, babi itu pun bangun dan pergi berjalan di atas ombak namun sayang ia tenggelam. Putri yang berhasil mengambil cicin dari babi itu pun menggunakannya dan berjalan kian-kemari di atas ombak...
Ada seorang laki-laki bernama Loloda Mokoagow. Laki-laki ini sangatlah bijaksana, kuat dan berani. Dia memerintah seluruh negeri Mongondow dan mempunyai dua orang istri yang berasal dari keturunan raja dan yang seorang lagi keturunan seorang budak. Kemudian kedua istrinya masing-masing melahirkan seorang anak laki-laki. Anak dari putri raja itu diberi nama Makalunsenge dan anak dari putri budak diberi nama Manopo. Makalunsenge sangat disayang oleh ayah dan ibunya bahkan sang Makalunsengen dan sang ayah tidak bisa dipisahkan. Setelah kedua anak itu besar, Manopo dibawa ke Minahasa tepatnya ke desa Bansik dan bersekolah di sana sehingga ia menjadi pandai. Selanjutnya, Manopo oleh Kompeni diangkat sebagai seorang raja di Manado. Dia segera kembali ke Mongondow, di antar dengan perahu dari Manado dan bendera kompeni selalu berkibar bersamanya. Setelah yaahnya mengerti bahwa Manopo, anaknya dari budak menjadi seorang raja, ia pun menjadi marah dan menenggelamkan dirinya ke sungai. Se...
Garista adalah Rumah Adat Karo di Kota medan yang dikenal sebagai Siwaluh Jabu. Rumah adat ini dipindahkan dari lokasi asalnya di Tanah Karo. Rumah Adat Karo Garista menarik perhatian karena menjadi Rumah Adat Karo satu-satunya di Kota Medan. Asal-usul Rumah Adat Garista Berdasarkan keterangan dari Marde, pengurus Rumah Adat Karo Garista, Rumah Adat Karo Garista adalah Rumah Siwaluh Jabu pertama di Kota Medan. Siwaluh Jabu berasal dari bahasa Karo yang artinya rumah yang dihuni oleh delapan keluarga. Bangunan ini dipindahkan dari dari tanah Karo, lokasi asalnya. Awalnya rumah ini dibangun pada tahun 1893 di Tanah Karo, kemudian direkonstruksi di Medan pada tahun 2018-2019. Rumah Siwaluh Jabu di Garista dulunya milik seorang mantan tentara dan sudah lama tidak berpenghuni. Akibat lamanya tidak berpenghuni, rumah tersebut menjadi tidak terurus di tempat asalnya dan akhirnya dipindahkan ke Medan untuk dijadikan tempat wisata. Daya tarik Rumah Adat Karo Garista Keunikan Rumah Adat...