Kirab Gunungan Sekaten Solo Sekaten merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad saw pada tanggal 12 rabiul awal tahun hijriah. Tradisi ini diadakan di 2 tempat di Indonesia ini, yakni di Solo dan Yogyakarta. Prosesi tradisinya pun juga hampir sama, hanya terdapat sedikit properti dan urutan prosesi yang berbeda. Namun, pada dasarnya tujuannya sama, yaitu menyambut Maulid Nabi Muhammad saw. Untuk sekaten di Solo biasanya acara tersebut diselenggarakan di alun-alun Solo. Uniknya acara tersebut diakhiri dengan suatu prosesi kirab yang dinamakan kirab gunungan. Bagi orang awam, khususnya warga Solo, ketika mendengar kata "sekaten" maka pasti terbesit di pikiran mereka dibukanya pasar malam selama kurang lebih 1 bulan. Tidak hanya banyak pedagang-pedagang makanan di sana, melainkan juga terdapat wahana-wahana bermain seperti layaknya pasar malam pada umumnya. Beberapa wahana pun tetap berfungsi walaupun saat siang hari, walaupun tidak semuanya....
Sejarah Perjuangan Dan Peranan Ki Gede Sebayu Di Tegal 1586-1601 Ki Gede Sebayu atau bernama asli Maulana Muttaqinsebenarnya bukan orang asli Tegal melainkan keturunan asli dari Prabu Brawijaya ke-5 raja terakhir Mataram. Beliau adalah putera Pangeran Onje seorang Adipati Purbalingga yang merupakan bupati pertama dan sebagai pendiri Kota Purbalingga. Semenjak kecil Ki Gede Sebayu diasuh oleh eyangnya yaitu Ki Ageng Wungut. Setelah Ki Gede Sebayu dewasa tahun 1549 Masehi oleh ayahnya disuwitakan dalam Kesultanan Pajang sebagai prajurit tamtama dalam Kesultanan Hadiwijaya. Di sanalah Ki Gede Sebayu memperoleh pendidikan keprajuritan dan ilmu kanuragan. Ketika sedang terjadi perebutan tahta, Ki Gede Sebayu meninggalkan Pajang. Beliau lebih memilih meninggalkan keraton dan berniat mencari guru baru untuk mendalami ajaran agama islam. Walaupun beliau sudah banyak mendalami pelajaran agama islam, tetapi beliau tidak sombong dan ingin terus mendalami ajaran agama islam. Pada tahun 1586 Ki Ge...
Grebegan atau mulutan adalah sebuah tradisi keraton solo yang diadakan pada 12 rabiul awal yaitu pada saat hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Hal itu dilakukan oleh pihak keraton untuk diberikan kepada masyarakat yang ada di kota solo. Tradisi ini dinamakan grebegan diambil dari kata "grebeg" yang berarti menangkap, masyarakat menangkap apa yang diberikan masyarakat tersebut dan nama mulutan tersebut diambil dari kata maulid, orang jawa memudahkan hal itu dengan mengganti nama menjadi mulut dan kebiasaan orang jawa menambahkan huruf diakhir kata dengan akhiran -an sehingga menjadi mulutan. Tradisi ini terjadi secara turun temurun dari pertama kalinya keraton solo berdiri hingga sekarang. Tradisi tersebut dimaksudkan untuk menyebarkan agama islam. Masyarakat yang awalnya beragama hindu kemudian para pimpinan keraton memiliki ide untuk membuat agama islam dapat diterima dengan melakukan akulturasi budaya antara hindu dan islam. Dengan hal itu, meningkatkan jumlah orang yang beragama i...
Suasana beberapa kampung yang ada di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.masyarakat yang ada di kampung-kampung Kaliwungu tersebut sedang merayakan tradisi ketuwin atau Weh-wehan atau saling memberi. Warga saling berkunjung dan memberi makanan. Tradisi ini digelar dalam rangka menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Sumpil adalah makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun bambu. Bentuknya segitiga dan cara memakannya dengan sambal kelapa. sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/11/19/22262001/melihat-tradisi-weh-wehan-untuk-menyambut-maulid-nabi-muhammad
Upacara Maulid Nabi (Muludan) Upacara atau tradisi Maulid Nabi berlaku juga di Jawa Tengah. Muludan atau maulid nabi yang dalam adat Jawa mempunyai arti sebagai hari peringatan lahirnya nabi Muhammad Saw dan perayaan itu setiap tanggal 12 rabiul awal. Tradisi merayakan maulid nabi Muhammad Saw tidak hanyak berlaku di Jawa Tengah. Daerah lain seperti Sumatera Utara, banyak juga umat Islam yang melaksanakannya. Hanya saja dalam tertib acara disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di daerah setempat. https://www.silontong.com/2018/12/01/upacara-adat-jawa-tengah/
Ritual memandikan benda pusaka atau yang biasa disebut dengan jamasan sering dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah di pulau Jawa, termasuk di Bumijawa, Tegal. Pada 10 Rabiul Awal/Maulud, keturunan Mbah Cimuluk, disaksikan banyak masyarakat, mengadakan ritual jamasan di sebuah sumber mata air bernama Tuk Jimat. Benda pusaka yang dimandikan berupa bendi yang dianggap keramat. Di atas api dan kemenyan yang dibakar, bende keramat itu dimandikan. Selesai dimandikan, pensucian bende usai. Sesuai kepercayaan masyarakat, mereka berebut mengambil air bekas cucian. Air itu diyakini warga dapat mengobati berbagai penyakit. Ritual Jamasan Tuk Jimat Bulakan tidak berakhir dengan penyucian bende saja. Setelah jamasan, warga bersama-sama makan tumpeng hasil pertanian Bumijawa. Bende keramat diarak pulang untuk disucikan kembali tahun depan. Untuk menghibur warga, dipertunjukkan atraksi kuda lumping. Laksana orang kesurupan, kuda lumping memakan apa saja yang terlihat di depannya. I...
Nasi liwet merupakan makanan khas Indonesia yang berasal dari Pulau Jawa. Terdapat dua versi nasi liwet di kalangan masyarakat diantaranya yaitu nasi liwet khas Solo dan nasi liwet khas Sunda. Nasi liwet atau yang biasa disebut juga sebagai sego liwet merupakan salah satu hidangan populer khas kota Solo. Hidangan ini seringkali menjadi menu favorit masyarakat Solo untuk sarapan ataupun makan malam. Nasi liwet Solo memiliki ciri khas dengan nasi bumbu gurih yang disajikan dengan kuah sayur labu siam. Nasi liwet Solo biasanya dimasak bersama dengan santan, kaldu ayam, dan rempah-rempah seperti daun salam serta serai. Dengan campuran bahan yang digunakan, nasi ini memiliki cita rasa yang gurih dan beraroma kuat. Nasi liwet Solo kerap disajikan dengan santan kental, suwiran ayam, dan telur rebus. Diambil dari Diskominfo SP kota Surakarta (2022), sejarah nasi liwet berasal dari masyarakat desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo. Nasi liwet ini kemudian semakin digemari dan kini menjadi sala...
Pengaruh Wali Songo dalam kegiatan masyarakat di Jawa memang cukup kental. Salah satunya adalah tradisi gamelan sekaten di Surakarta. Tak hanya saat Idul Adha, gamelan sekaten juga menjadi tradisi Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad saw. Khusus saat perayaan Idul Adha, tabuhan musik gamelan akan mulai setelah shalat Idul Adha selesai. Acara ini terbuka untuk umum, jadi bisa banget kamu masukkan ke daftar kegiatan saat berlibur ke Surakarta. Biasanya, warga yang menyaksikan gamelan sekaten akan mengunyah kinang. Menurut warga setempat, kegiatan mengunyah kinang bertujuan agar mereka mendapat umur panjang dan bisa menyaksikan tradisi ini di tahun-tahun berikutnya. Referensi: https://www.traveloka.com/id-id/explore/activities/pl-tradisi-idul-adha-di-indonesia-unik-dan-penuh-makna/148790
Masyarakat merupakan kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia saling terikat oleh suatu sistem adat istiadat (Koentjaraningrat, 1996: 100). Masyarakat Jawa merupakan salah satu masyarakat yang hidup dan berkembang mulai zaman dahulu hingga sekarang yang secara turun temurun menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai ragam dialeknya dan mendiami sebagian besar Pulau Jawa (Herusatoto, 1987: 10). Salah satu produk dari masyarakat Jawa yang masih dilestarikan sekarang adalah tradisi Sekaten. Tradisi Sekaten merupakan tradisi tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo,Jawa Tengah selama tujuh hari. Ketika kembali mengulik sejarah, tradisi sekaten sebenarnya berhubungan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam yang ada di Pulau Jawa. Walisongo adalah tokoh utama dibalik lahirnya tradisi sekaten, yang di mana Sekaten digunakan oleh Walisongo untuk menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Saat itu, Walisongo memproyeks...