Diklasifikasikan sebagai bangunan utama dengan fungsinya seba gai semanggen atau piyasan di Pemerajan atau Sanggah. Letaknya di bagian kangin (timur) atau kelod (selatan) dengan fungsinya untuk bale semanggen, bangunan tempat upacara adat, tamu dan tempat bekerja atau serbaguna. Bentuk bangunan segi empat panjang dengan luas sekitar 4m x 5 m, tinggi lantai sekitar 0,60 m dengan tinggi atau empat anak tangga ke arah natah (natar). Bangunan dengan dinding penuh pada luan hulu, sisi kangin dan sisi kelod. Dinding setengah sisi dan setengah tinggi pada sisi teben buritan kauh dan terbuka ke arah natar. Konstruksi bangunan dengan satu balai-balai mengikat empat tiang dan empat tiang lainnya berdiri dengan sanggahwang sebagai stabilitas. Pemaku tiang pada balai-balai dengan sunduk dan lait, patok pada hubungannya. Konstruksi atap limasan dengan dedeleg pada pertemuan puncak atap. Bahan bangunan, lantai pasangan batu alam, dinding pasangan batu cetak atau batu bata peripihan, tiang dan ran...
Pulau Bali sangat kental akan budaya; dari gamelan hingga motif batik. Singa Barong ialah salah satu motif kain yang berasal dari Bali. Batik motif Singa Barong ini biasanya digunakan dalam proses upacara adat Bali. Motif Batik Bali memakai kain mori dan memiliki ciri khas berupa aroma yang berbeda dengan batik lain. Aroma ini berasal dari bahan-bahan pewarna alami, seperti kulit kayu dan bahan yang lainnya. Bobot dari kain batik ini terasa lebih berat daripada kain batik yang lain. Makna Batik Motif Singa Barong Makna motif batik singa barong berdasarkan nama dan sejarahnya dimana singa barong merupakan sejenis binatang mitologis atau ajaib karena dalam budaya jawa maupun Bali kata “barong” memiliki arti ajaib. Keajaiban wujud singa tersebut dapat kita lihat dari berbagai unsur yang merupakan penggabungan antara singa atau macan (tubuh, kaki, mata), garuda (bersayap), gajah (berbelalai), dan naga (mulut menyeringai dengan lidah yang me...
Batik Bali motif Ulamsari Mas merupakan simbolik dari masyarakat yang bermatapencaharian nelayan, yang bermakna kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang hidup didaerah pesisir pantai. Sumber: https://infobatik.id/sejarah-batik-bali/
Subak adalah sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali yang khusus mengatur tentang manajemen atau sistem pengairan/irigasi sawah secara tradisional. Sistem subak telah menjadi salah satu kekhasan Provinsi Bali. Sistem pengairan yang berkembang dalam pengaruh nilai-nilai ajaran Hindu yang kuat ini menjadi sebentuk kearifan lokal yang membuat masyarakat petani dapat serasi dengan alam untuk memperoleh hasil panen yang optimal. Diperkirakan sistem subak telah dikenal masyarakat Bali sejak abad ke-11 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada temuan Prasasti Raja Purana Klungkung (994 Saka/1072 M) yang menyebutkan kata “kasuwakara”, yang diduga merupakan asal kata dari “suwak”, yang kemudian berkembang menjadi “subak”. Sumber sejarah lainnya adalah Lontar Markandeya Purana. Dalam naskah yang menceritakan asal muasal desa dan Pura Besakih ini terdapat cerita mengenai pertanian, irigasi, dan subak. Hal ini mengindikasikan eksis...
Wajik Bali memang mirip seperti wajik pada umumnya dengan rasa yang legit dan manis. Bahan Membuat Kue Wajik atau Jaje Wajik adalah 200 gram gula merah, disisir, 300 gram beras ketan putih, di rendam hingga 1 jam, 125 ml air, 200 ml santan dari 1 butir kelapa, 1/2 sdt garam dan 2 lembar daun pandan. Adapun Cara Membuat Kue Wajik adalah dengan pertama-tama kukus beras ketan selama kurang lebih 15 menit hingga mekar, kemudian sisihkan. Kedua, rebus air beserta daun pandan hingga mendidih. Kemudian masukkan beras ketan kukus. Setelah itu masak hingga meresap. Langkah ketiga, Kukus beras ketan selama kurang lebih 20 menit hingga 3/4 matang. Setelah itu angkat dan dinginkan. Selanjutnya rebus santan beserta gula merah dan garam hingga larut dan terlihat sedikit kental. Kemudian masukkan ketan kukus, Setelah itu masak di atas api takaran kecil sambil anda aduk - aduk hingga meresap dan terlihat kering. Terakhir, tuang di dalam loyang ukuran 20x20x 4 cm( dengan tebal 11/2 cm) yang sebelumnya...
Pulau Bali dikenal orang di berbagai negara, di seluruh belahan dunia. Tetapi tahukah kamu dari mana asal namanya? Dahulu kala seorang petapa sakti yang arif bijaksana tinggal di Gunung Semeru di Pulau Jawa. Dengan kesaktiannya, ia bisa membuat tanaman yang ia tanam tumbuh dengan subur dan lebat. Sedangkan hewan yang ia pelihara menjadi tambun dan sehat, serta beranak-pinak dengan cepat. Karena kesaktian dan kearifannya ini, rakyat di Pulau Jawa menghormatinya. Sang Petapa Sakti bersahabat dengan seekor naga sakti yang tinggal di Gunung Mesehe, di sebuah pulau yang tidak jauh dari Pulau Jawa. Sang Naga terkenal karena kesaktian dan kehebatannya dalam berkesenian. Menari, bermain musik, mengukir kayu, dan membuat berbagai kerajinan tangan, mampu ia lakukan dengan sangat memesona dan tanpa cacat cela. Tidak ada orang atau naga lain yang mampu menandingi kesaktiannya. Selain sakti, di seluruh tubuh naga ini bertaburan berbagai permata berharga yang berwarna-warni. Cah...
Bum! Bum! Bum! Di sebuah desa di Bali ada seorang raksasa berjalan dengan riang. Namanya cukup singkat, Kebo Iwa. Karena dia seorang raksasa, tubuhnya sangat besar, suaranya lantang. Tak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan yang luar biasa. “Selamat pagi, Pak kepala desa. Selamat pagi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu,” Kebo Iwa memperlihatkan gigi-giginya yang besar. “Selamat pagi, Kebo Iwa. Wah kebetulan sekali, dapatkah engkau membantu kami membuat pura?” ucap kepala desa. “Baiklah, tapi seperti biasa, sediakan aku makanan yang banyak dan enak ya?” pinta Kebo Iwa. Kepala desa mengangguk tanda setuju. Kebo Iwa, raksasa yang ringan tangan dan baik hati. Dia mau membantu penduduk desa untuk membuat pura, rumah atau apa pun yang dibutuhkan penduduk. Penduduk desa senang. Mereka menganggap Kebo Iwa sebagai teman. Hanya saja, Kebo Iwa selalu meminta makanan. Karena tubuhnya yang besar, dia dapat menghabiskan jatah ma...
Mesuryak; bersorak atau berteriak merupakan tradisi di desa Bongan Tabanan, Bali yang digelar tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali (210 hari dalam kalender Bali) tepatnya pada hari raya Kuningan atau 10 hari setelah hari Raya Galungan. Makna Tradisi Mesuryak Untuk memberi bekal dan mengantarkan roh leluhur kembali ke alam nirwana dengan rasa suka cita. Oleh umat Hindu para roh leluhur turun ke dunia di saat hari Raya Galungan dan kembali ke surga di Hari Raya Kuningan, dan oleh warga desa Bongan Tabanan diberikan perbekalan seperti beras dan juga uang sehingga dilakukan tradisi Mesuryak. Setelah sepuluh hari roh leluhur bersama keluarga di dunia, maka pada hari Raya Kuningan diantarkan kembali dengan suka cita, bersorak beramai-ramai dalam tradisi Mesuryak tersebut. Dalam tradisi tersebut warga melempar uang ke udara diperebutkan oleh warga lainnya, sambil bersorak gembira dan beramai-ramai, pelaksanaannya secara bergiliran. Sebelum acara puncak da...
Mepandes, Metatah atau Mesangih; pemotongan/pengikiran 6 gigi taring. Tradisi ini untuk anak yang menginjak usia remaja; laki-laki ketika ia mengalami perubahan suara dan perempuan ketika ia sudah menstruasi. Makna Menghilangkan sifat Sad Ripu ; enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat asubha karma atau perbuatan yang tidak baik dalam diri manusia itu sendiri, yaitu: Kama , sifat penuh nafsu indriya. Lobha , sifat loba dan serakah. Krodha , sifat kejam dan pemarah. Mada , sifat mabuk dan kegila-gilaan Moha , sifat bingung dan angkuh. Matsarya , sifat dengki dan irihati. Tujuan Menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, pisaca dan raksasa dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sad Ripu s ehingga dapat menemukan hakekat manusia yang sejati. Untuk dapat bertemu kembali dengan bapak dan ibu yang telah berwujud suci....