Mesuryak; bersorak atau berteriak merupakan tradisi di desa Bongan Tabanan, Bali yang digelar tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali (210 hari dalam kalender Bali) tepatnya pada hari raya Kuningan atau 10 hari setelah hari Raya Galungan.
Makna Tradisi Mesuryak
Untuk memberi bekal dan mengantarkan roh leluhur kembali ke alam nirwana dengan rasa suka cita. Oleh umat Hindu para roh leluhur turun ke dunia di saat hari Raya Galungan dan kembali ke surga di Hari Raya Kuningan, dan oleh warga desa Bongan Tabanan diberikan perbekalan seperti beras dan juga uang sehingga dilakukan tradisi Mesuryak.
Setelah sepuluh hari roh leluhur bersama keluarga di dunia, maka pada hari Raya Kuningan diantarkan kembali dengan suka cita, bersorak beramai-ramai dalam tradisi Mesuryak tersebut. Dalam tradisi tersebut warga melempar uang ke udara diperebutkan oleh warga lainnya, sambil bersorak gembira dan beramai-ramai, pelaksanaannya secara bergiliran. Sebelum acara puncak dari tradisi Mesuryak ini digelar, warga melakukan persembahyangan di pura keluarga dan di pura Kahyangan Tiga desa setempat, selanjutnya setiap warga melakukan persembahyangan di depan pintu masuk rumah bisa dipimpin oleh orang yang dituakan atau oleh Pemangku.
Sesaji depan rumah ini ditutup dengan Tradisi Mesuryak, anggota keluarga memberi bekal kepada roh leluhur yang akan kembali ke alam nirwana, perbekalan tersebut berupa uang kepeng, namun sekarang warga lebih cenderung memakai uang logam recehan dan juga uang kertas, bahkan sampai uang pecahan 100-ribuan, semuanya sesuai kemampuan dengan suka cita, tanpa paksaan. Uang-uang tersebut dilemparkan ke udara kemudian diperebutkan oleh warga yang telah berkumpul di depan rumah dengan sorakan dan kegembiraan. Tradisi Mesuryak ini dilakukan mulai pagi hari jam 9.00 kemudian berakhir berakhir jam 12 siang, dan setelah jam 12 siang ini leluhur diyakini telah kembali ke alam surga.
Tradisi Mesuryak atau lempar uang ke udara ini dilakukan bergiliran dari rumah ke rumah, sehingga setiap warga bisa berebut uang secara adil, bagi yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi ada kemungkinan memberi bekal yang lebih banyak juga dan semua dilakukan dengan ke iklasan dan tanpa paksaan. Dalam balutan kegembiraan setiap warga antusias menyaksikan tradisi Mesuryak ini dan sebagian warga juga berebut hujan uang tersebut. Jumlah yang didapatkanpun bervariasi oleh warga dan ini bukanlah tujuan utamaya, yang menjadi inti, makna dan tujuan tradisi Mesuryak ini adalah rasa bahagia, suka cita memberikan bekal pada leluhur agar kembali ke alam surga dengan damai dan tenang.
Secara Niskala bekal yang diberikan berupa persembahan atau sesajen, dan secara skala (nyata) memberikan bekal uang. Diyakini juga oleh warga dengan memberi bekal kepada leluhur tentu akan ada timbal baliknya juga seperti rejeki yang lebih muda. Saat tradisi Mesuryak digelar, terpancara rasa kebersamaan dan keakraban antar warga. Tradisi yang sudah mendarah daging ini juga menjadi sebuah atraksi wisata yang bisa dinikmati oleh para wisatawan, termasuk juga para warga yang terlibat langsung dalam tradisi tersebut baik itu anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki maupun perempuan, bercampur dan berbaur, berdesak-desakan, bersorak, penuh suka cita dan kegembiraan.
Sumber: http://www.balitoursclub.net/tradisi-mesuryak-di-bongan/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara