Bahan-bahan 2 ekor ikan kerapu Jeruk nipis Tepung sajiku Bahan sambal 1 buah tomat hijau, potong dadu 2 buah serai, iris halus bagian putihnya 2 buah daun jeruk, iris halus 8 buah cabai rawit, iris bundar 5 siung bawang merah, potong dadu 1 sdm air jeruk nipis Sejumput garam Seukupnya minyak panas Langkah Bersihkan ikan, kucuri dengan perasan jeruk nipis, diamkan sebebtar, bilas....
Bahan-bahan: 9 porsi Bahan kulit : 10 sdm tepung terigu 1 btr telur ayam 2 sdt fermipan *saya peres tdk penuh* 1/4 sdt baking soda 1/2 sdt garam 2 sdm gula pasir 1 sdm mentega *blueband* 100 ml air hangat Bahan isi : 1 ekor ikan tongkol ukuran sedang yg sdh matang *beli di warung versi ikan cue* 1/2 buah jeruk nipis 4 siung bawang putih 3 siung bawang merah 3 butir kemiri 1 sdm gula pasir 5 biji cabe merah keriting 20 biji cabe kecil 1/2 sdt bubuk jahe *bisa skip* 1/2 sdt bubuk ketumbar *bisa skip* 1/2 sdt merica bubuk 1/2 bks royco Secukupnya sus tiram *bisa skip* Secukupnya kecap ikan *bisa skip* 2 sdm kecap manis 300 ml air Langkah Membuat is...
Ritual ini dilengkapi dengan masakan-masakan khas batak dengan masing-masing nilainya, seperti Manuk napinadar agar sehat jasmani saat bekerja menggarap kemenyan, selain itu untuk mendapat berkat dari yang maha kuasa agar dilindungi dari roh-roh yang ada di dalam hutan; Itak gurgur agar hasil getah kemenyan keluar melimpah; dan terakhir adalah Sagu-sagu. Semua makanan ini harus di santap pada saat ritual berdoa selesai dilakukan. Kemenyan yang dalam bahasa lokal sering disebut haminjon (Styrax Paralleloneurum), adalah komoditi yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Batak, terutama yang berdomisili di kawasan Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Barus, dan wilayah sekitarnya. Dahulu sekitar abad ke-5 (bahkan jauh sebelumnya), kemenyan pernah menjadi komoditi yang nilainya setara atau bahkan lebih bernilai dari emas. Keahlian turun-temurun serta ritual terkait dengan pemanfaatan tumbuhan kemenyan melekat pada masyarkat (petani) sekitar. Legenda terkait kemenyan...
Istilah kata palapudu sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Hanya yang jelas motif alat ini dimainkan adalah untuk menembak. Menurut penuturan informan yang bernama Kasim Langgapa (57 tahun) tinggal di desa Molu'o Kecamatan Kwandang, bahwa permainan Palapudu sudah dikenalnya sejak kecil, dan ayahnya pernah membuat palapudu ini. Alat Palapudu ini terbuat dari bulu (bambu) dengan menggunakan peluru dari ketumbar (ketumbari). Mainan ini, adalah mainan yang paling digemari pada waktu itu dan pada umumnya sangat diminati oleh anak laki-laki, namun demikian tidak menutup kemungkinan anak perempuan juga dapat memainkan permainan tersebut. Munculnya permainan ini menurut informasi yang didapati, pada waktu masih zaman penjajahan belanda, warga masyarakat gorontalo menggunakan alat palpudu ini sebagai senjata seadanya untuk menembak musuh-musuh yang ada, dan akhirnya alat palapudu ini berkembang menjadi mainan anak-anak, namun saat ini permaianan palapudu sudah mulai hilang dri peredar...
Ampaha adalah nama sebuah tempat di desa Mangaran, yang artinya aliran sebuah sungai air terjun karena hulunya terletak pada suatu tanah ketinggian aliran airnya deras sehingga jadilah air terjun yang sangat indah. Air terjun ini terjadi oleh suatu peristiwa alam pada zaman dahulu, dimana kepulauan Talaud tidak lepas dari gangguan bajak laut yang datang dari kepulauan Sulu Mindanow selatan yang dikenal ganas dan tidak berprikemanusiaan. Karena sudah bosan dengan perlakuan para bajak laut ini, leluhur Mangaran mencoba menghadapi para bajak laut ini dengan tidak memperhitungkan kalah atau menang. Setelah mereka mencoba melawan bajak laut ini ternyata senjata yang mereka gunakan berhasil menembus tubuh para bajak laut sehingga darahnya memancar dari tubuhnya dan akhirnya mati. Dengan kejadian ini maka tempat itu diberi nama Ampaha yang artinya, napam pahan nu rasya atau tempat memancarnya darah orang Balangingi. Kisah ini berawal dari, kedatangan suku Balangingi di kepulauan Talaud...
Di Walangitang ada sebuah tempat yang disebut Molibagu dan mempunyai raja bernama Wundulangi. Suku dari Bobentohu adalah turunan dari raja Wundulangi dengan istrinya Ganting-Ganting (Sangiang Tiang) keduanya mempunyai seorang putri yang bernama Taumatiti. Suatu keanehan sang putri mempunyai seorang suami yang hanya ada dalam mimpi, mereka bercumbu rayu dalam mimpi. Awal kisah laki-laki dalam mimpi adalah, konon pada waktu orang-orang membuka hutan untuk ladang padi, raja Wundulangi juga membuka hutan untuk ladang padi. Ditebangnya pohon-pohon besar maupun kecil, kecuali satu pohon besar yang terletak dipinggir hutan yang oleh orang Bobentehu disebut kayu lampawanua. Ketika Wundulangi pulang hampir petang datanglah Taumatiti ke kebun sendirian untuk mencaru kayu api, tetapi ia tidak mendapat kayu kering yang banyak. Setelah ia mengikat kayu bakar yang hanya sedikit duduklah ia dibawah pohon lampawanua,kapaknya ditancapkan ke pohon karena ia asyik mendengar suara...
Ritual ini dilengkapi dengan masakan-masakan khas batak dengan masing-masing nilainya, seperti Manuk napinadar agar sehat jasmani saat bekerja menggarap kemenyan, selain itu untuk mendapat berkat dari yang maha kuasa agar dilindungi dari roh-roh yang ada di dalam hutan; Itak gurgur agar hasil getah kemenyan keluar melimpah; dan terakhir adalah Sagu-sagu.Semua makanan ini harus di santap pada saat ritual berdoa selesai dilakukan. Kemenyan yang dalam bahasa lokal sering disebut haminjon (Styrax Paralleloneurum), adalah komoditi yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Batak, terutama yang berdomisili di kawasan Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Barus, dan wilayah sekitarnya. Dahulu sekitar abad ke-5 (bahkan jauh sebelumnya), kemenyan pernah menjadi komoditi yang nilainya setara atau bahkan lebih bernilai dari emas. Keahlian turun-temurun serta ritual terkait dengan pemanfaatan tumbuhan kemenyan melekat pada masyarkat (petani) sekitar. Legenda terkait kemenyan...
Zaman dahulu hiduplah tiga orang bersaudara di negeri Dagho pulau Sangihe, yang sulung bernama Angsuangkila, kedua Wangkoang, dan yang bungsu bernama Wahede. Mereka bertiga merupakan pahlawan di negeri ini dan mereka disebut Kulano. Mereka disebut pahlawan karena mereka bertigalah yang senantiasa membela dan mempertahankan rakyat dari serangan suku Mindanow yang selalu datang merampok dan membunuh rakyat pulau Sangihe. Pada suatu hari terjadi perampokan oleh suku Mindanow di sebuah pulau kecil yang terletak di depan teluk Dagho, pulau ini melindungi pandangan ke negeri Dagho dari laut. Pulau ini disebut Sambo karena konon pernah ada seorang yang sedang memancing mendengar ada seseorang yang sedang menyanyikan lagu Sasambo di negeri Dagho. Mendengar Sasambo itu ia melihat tanjung itu berjalan menuju laut, menyaksikan peristiwa ini orang yang sedang mengail tersebut merasa heran maka dipanggilnyalah orang yang sedang menyanyi itu. Sasambo berhenti dan tanjung&nbs...
“Mahangsumangi” demikianlah nama sebuah pulau kecil yang terletak di selat Mahumu. Selat Mahumu adalah selat yang memisahkan pulau Mahumu dengan pulau Sangihe Besar. Pulau itu kecil sehingga sekarang ini di pulau itu hanya terdapat sebuah rumah yang didiami oleh beberapa anggota keluarga. Sekali peristiwa kira-kira pada abad 18, tibalah di selat Mahumu, sebuah perahu layar yang berasal dari Talaud. Salah seorang dari anak buah perahu yaitu selaku nahkodanya, bernama “Borang”. Adapun maksud kedatangan Borangdan kawan-kawannya ke pulau Sangihe Besar, ialah menjual tikar rotan serta akan membeli bahan makanan dari pulau Sangihe Besar. Perahu mereka masuk dari teluk Dhago lalu berbelok ke kanan, melalui Tanjung Hego di sebelah kiri dan Tanjung Bataeng disebelah kanan. Akhirnya perahu mereka sampai di selat yamg sempit dan tenang airnya.sekarang perahu Borang sudah berada di selat Mahumu, mereka berdayung menyusur pantai Uai dan Lapepahe di sebelah kiri da...