Indonesia ini negara yang besar dan mempunyai banyak budaya budaya yang unik. Budaya merupakan ciri bangsa yang harus kita jaga kelestarianya. Indonesia memiliki beberapa kebudayaan yang sangat unik seperti Pasola yang berasal dari Sumba, NTT. Pasola artinya lembing kayu yang digunakan untuk melempar. Pasola berarti melemparkan lembing kayu sambil memacu seekor kuda. Tradisi ini biasanya diadakan setiap setahun sekali tepatnya di bulan Februari. Pasola ini seperti sebuah permainan perang-perangan, silsilahnya sebagai wujud kesedihan seseorang yang telah kehilangan istrinya. Prosesi upacara diawali dengan adat nyale, berupa syukuran dengan datangnya musim panen dan kedatangan banyak cacing dipinggir pantai. Cacingnya pun dijadikan sebuah pertanda, bila cacing itu gemuk warna-warni maka akan medapatkan kebaikan, dan sebaliknya maka akan dapet malapetaka. Dengan datangnya cacing-cacing tersebut, proses pasola akan dimulai. Beberapa orang seperti ksatria akan turut ber...
Ada dua orang pelaut bernama Sangguana dan To’o Luk, kapal mereka di hempas gelombang tinggi dan terdampar di pulau Ndana. Pada saat itu Raja Ndana bernama Raja Takala’a memiliki seorang gadis cantik bernama Duitaka. Anak Raja ini ternyata suka dengan sangguana padahal sangguan sudah memiliki anak-istri Ayah Duitaka tahu bahwa Sangguana suka dengan Duitaka, namun Raja tidak menyetujui hubungan mereka. Akhirnya Raja marah dengan Sangguana sampai Raja mencari cara untuk membunuh Sangguana, namun berita ini sampai di Thie sehingga anak Sangguana yang bernama Nale sangga mulai cari cara untuk balas dendam. Nale sangga memerintahkan semua orang Thie untuk membunuh orang Ndana. Pada saat itu Nale sangga membuat pesta di Ndana supaya mengumpulkan semua orang Ndana dan pada saat orang Ndana sudah berkumpul. Nale sangga menyuruh semua orang Thie untuk membakar semua rumah di pulau Ndana rumah Raja setelah itu mereka mulai membunuh orang-orang di pulau Ndana dan mayat mere...
Upacara ritual syukuran atas keberhasilan dalam perang atau panen di desa Lewatolo dan Desa Sinar Hadding Kec.Tanjung Bunga. Upacara ini dilaksanakan setiap saat tergantung pada keperluan. Sumber: http://beautiful-indonesia.umm.ac.id/id/foto/jelajah-daerah/nusa-tenggara-timur/ritual-bole-bundo.html
Ritual Patika adalah pemberian sesajen kepada leluhur di Danau Kelimutu. Hal ini dilakukan karena masyarakat Lio mempercayai Danau Kelimutu adalah tempat peristirahatan terakhir jiwa-jiwa yang telah pergi. Suku Lio percaya bahwa Danau Kelimutu adalah tempat peristirahatan terakhir kehidupan, tempat semua jiwa kembali setelah perjalanan hidup berakhir. Acara ini sekaligus penutupan dari seluruh acara Festival Danau Kelimutu yang dibuka di Kota Ende dan acara yang paling ditunggu turis di Danau Kelimutu. Dalam ritual ini, Suku Lio menawarkan berbagai jenis makanan kepada nenek moyangnya. Ritual mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan selama satu tahun yang telah dilewati melalui doa untuk kesejahteraan, kesehatan, dan kehidupan yang baik di tahun mendatang. Ritual Patika juga merupaka bagian dari Festival Danau Kelimutu. Ritual ini diadakan di Desa Moni, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur dan diselenggarakan setiap Agustus. Ritual ini menarik perhatian turis...
Ribuan peziarah dari seluruh Indonesia, umat Katolik di Kabupaten Flores Timur, bahkan mana negara, sejak Kamis Putih (13/4/2017), mendatangi Kapela Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Meninu di Kota Larantuka, serta Kapela Tuan Berdiri di Wure pulau Adonara. Sesaat setelah keturunan Raja Larantuka bersama Uskup Larantuka membuka Kapela Tuan Ma dan melakukan ritual Cium Tuan, peziarah dan umat yang antri dipersilahkan melaksanakan ritual tersebut. Saat ditemui Cendana News di Kapela Tuan Ma, Kamis (13/4/2017), Veronika Susanti, seorang peziarah asal Jakarta mengatakan, ia bersama rombongan tiba di Larantuka sejak Selasa (11/4/2017) sore dan mulai mengikuti ritual Trewa di hari Rabu serta ikut dalam ritual Cium Tuan. “Saya mengetahui Semana Santa di Kota Larantuka dari teman-teman di Gereja Katedral, Jakarta, yang sebelumnya sudah pernah ziarah ke sini, sehingga kami tertarik dan datang dengan rombongan,” ujarnya. Veronika mengaku sangat tertarik dengan ritual sela...
Tarian antama merupakan tradisi turun-temurun yang sudah dilakukan masyarakat di daerah itu. Tarian ini mengisahkan tentang perburuan hewan yang sudah jadi budaya masyarakat Rai Belu. Tarian Antama (berburu) yang dibawakan 1.500 penari memukau para wisatawan dan tamu yang hadir dalam Festival Fulan Fehan. Tarian berdurasi satu jam tersebut mempertontonkan salah satu kekhasan masyarakat tradisional Belu berburu di hutan. Kebiasaan itu membudaya hingga diabadikan dalam tarian Antama. Ragam tarian menggambarkan orang berburu mulai dari bergegas menuju hutan hingga menikmati hasil buruan. Drama tarian Antama cukup memukau, sehingga menarik dan menyedot perhatian hadirin Festival Fulan Fehan. “Ini acara yang sangat menakjubkan. Betapa tidak, di batas negara ternyata ada tarian yang sangat menarik seperti ini. Ini sebuah pertunjukkan tarian kolosal yang secara nasional maupun internasional bisa ditampilkan,” kata Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus di Ful...
Meninggalkan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan rasa berat hati dan akan kerinduan terhadap bentang alamnya di waktu berikutnya. Dari atas langit saja, bukit-bukit sudah terlihat menjulang indah terlukis, dan lukisan indah itu asli buatan Tuhan. Atambua mungkin terdiri dari ratusan bukit dengan lekuk-lekuk sungainya yang tidak dialiri air. Wilayah ini memang sangat tandus. Karena tandusnya, rasa cabai yang tumbuh di wilayah ini sangatlah pedas, karena memang cabai cocok ditanam di wilayah seperti ini. Kemudian rumah warga, dari atas langit terlihat hampir jarang, hanya terpampang hamparan tanah nan luas. Jika bertemu masyarakat Atambua yang gaya bicaranya keras, tapi hati mereka baik sekali. Pantainya membentang di sepanjang pulau dengan air yang biru, serta warna pasir yang putih. Wilayah yang kaya akan budaya itu, membuat Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melirik tanah mereka un...
Gula Merah Asal Timur Indonesia Itu Wajahnya Tak Terlalu begitu terkenal oleh khalayak padahal gula tersebut memiliki khasiat yang cukup memberikan dampak yang positif bagi tubuh. Siapapun pasti kepincut dengan dengan gula yang satu ini, asal muasal gula tersebut merupakan bagian dari kearifan local budaya yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang yang berasal dari Kolang (* Salah satu Hamente Yang Meliputi Kecamatan Kuwus Dan Macang Pacar Berada Di Kabupaten Manggarai Barat NTT Indonesia ). Secara Sepintas Gula Merah Ini Memiliki Warna dan Juga Aroma yang Sangat menggugah hati Para Peminat maupun Yang Melihat, tentu hal ini merupakan hal yang ada secara alamiah yang terkuak dalam hati penikmat dari gula merah ini. Gula merah ini di produksi dalam dua bentuk ada yang berbentuk mall persegi panjang yang lima cm 2 dan ada yang berbentuk serbuk halus yang terkini orang menyebutnya gula semut. Proses Pembuatan Gula Merah Ini Sebenarnya Kelihatan...
Sagu menjadi varian pangan utama dan favorit masyarakat Indonesia timur. Teksturnya yang cenderung lebih lembut ketimbang tapioka membuatnya jadi pilihan bahan kuliner unik seperti papeda. Kreativitas olah sagu ternyata tak sebatas papeda. Di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Aka Bilan terbilang populer sebagai kudapan pagi ataupun sore hari. Nama lain panganan ini ialah sagu bakar yang dibentuk berupa lempengan tipis karena merujuk ke cara pembuatannya. Terbuat dari campuran sagu, kelapa parut, kacang hijau yang diberi sejumput garam lahirlah perpaduan unik antara kerenyahan, rasa manis, dan gurih di lidah. “Aka Bilan termasuk makanan pokok di sini selain umbi-umbian dan jagung yang bergizi tinggi,” urai Bupati Belu Willybrodus Lay beberapa waktu lalu. Pernyataan Willy bukan promosi belaka. Dari panduan gizi Bidang Kesmas Dinkes Belu, dalam 100 gram sagu kering terkandung karbohidrat sebesar 94 gram, protein 0,2 gram, serat makanan 0,5 gram, zat besi 1,2 mg,...