Prosesi pingitan merupakan ritual yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin yang melaksanakan pernikahannya menggunakan ada jawa, khususnya Yogya. calon pengantin putri tidak diperbolehkan keluar rumah atau bertemu calon pengantin putra sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, yaitu sebelum acara akad nikah. Kedua mempelai harus tidak saling bertemu dulu. Lalu, apa sih manfaat sebenarnya dari pingitan itu? Berikut ini dalam manfaat-manfaat pingitan: • tujuan dari pelaksanaan pingitan adalah agar pengantin terpantau setiap saat dan bisa merasa bugar pada saat hari pernikahan tiba. • Selain agar pengantin terpantau setiap saat, pingitan juga mempunyai manfaat supaya ada rasa rindu dan berdebar- debar yang muncul di antara kedua calon mempelai. Jadi ketika keduanya bertemu di hari pernikahan , ada rasa rindu yang memuncak. •Tradisi pingitan juga dilaksanakan guna merawat tubuh mempelai wanita, agar saat pernikahan tiba, a...
Diantara banyaknya tempat wisata kuliner di Jogja yang sudah saya singgahi, hanya House of Raminten yang memiliki atmosfer sangat berbeda. Tempat ini dihiasi literatur kebarat-baratan namun tetap mengusung corak Jawa. Tentu bagi warga Yogyakarta atau mereka yang tinggal di Jogja tempat ini pasti tidak asing lagi, bahkan saya yang baru beberapa kali mengunjungi tempat ini langsung jatuh cinta pada tempatnya. Catat ya kawan, ketika kalian ingin mengunjungi tempat ini malam hari atau weekend bisa dipastikan kita harus mengisi buku tamu terlebih dulu sebelum memasuki ruangan. Ini sudah menjadi trade mark-nya House of Raminten sebagai tempat wisata kuliner yang unik dan berbeda dari tempat lain. Saking tenarnya nih, setiap malam restoran ini sangaaaat penuh. Dilihat dari desainnya, House of Raminten ini lebih tepat disebut restoran bernuansa Jawa. Ini dapat kita lihat dari sebuah Kereta Kencana yang dipajang dan terekspose dari luar. Begitu masuk ke dalamnya, kita langsung dapat m...
Dalam adat istiadat Jawa banyak di ketahui beragam pusaka warisan leluhur, salah satunya yaitu Cupu, yang diberi nama Cupu Panjalo. Orang-orang Yogyakarta telah demikian familiar tentang pusaka ini lantaran tuahnya yang terkenal keramat. Dalam satu tahun sekali, kain pembungkus cupu di buka serta nampak sinyal tanda zaman sebagai peringatan untuk anak turun serta orang-orang yang meyakini. Ketenaran cupu tak lepas dari ketepatan perkiraan atau ramalan seperti ada dalam deskripsi yang tertoreh diatas lembaran kain mori pembungkusnya. Menurut kisah leluhur, Cupu Ponjolo berjumlah tiga buah, diketemukan di laut oleh Kyai Panjolo yang tengah menjala ikan di laut. Oleh orang-orang Desa Mendak, Girisekar, Panggang, Gunung Kidul diakui bisa memberikan perlambang (pertanda) serta ramalan perihal hari esok desa itu. Ketiga buah cupu ditempatkan didalam kotak serta dibungkus dengan beberapa ratus lapis kain mori, disimpan di ruang spesial. Waktu upacara Cupu Ponjolo, bungkus kai...
Tumenggung Wilatikta mempunyai dua anak, bernama Raden Sahid dan Rasa Wulan. Ketika kedua anaknya dewasa, sang Tumenggung menyuruh anak laki-lakinya untuk menikah, setelahnya akan disuruh menggantikannya. Mendengar hal tersebut, Raden Sahid kaget karena belum memiliki rencana untuk menikah. Sesudah itu, Raden Sahid pamit untuk memikirkan permintaan sang Tumenggung. Selanjutnya, sang Tumenggung juga menyuruh agar Rasa Wulan mempersiapkan diri untuk menerima lamaran orang lain. Malamnya, Raden Sahid gelisah. Ia tidak ingin menikah. Ia pun memutuskan untuk melarikan diri dari rumah. Mengetahui Raden Sahid melarikan diri, Rasa Wulan ikut pergi. Mengetahui kedua anaknya tidak ada di rumah, sang Tumenggung kebingungan. Ia segera menyuruh seluruh anak buahnya untuk mencari kedua anaknya, namun tiada hasil. Bertahun-tahun Raden Sahid mengembara. Ia mengamalkan segala ilmu yang dipelajarinya selama ini untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Hingga akhirnya, di kemudian hari...
Beksan Etheng, Beksan Lawung, Tari Bedhaya serta tari Srimpi Renggowati digolongkan sebagai tari-tarian keramat di Keraton Yogyakarta. Pada zaman dahulu tidak boleh dipergelar¬kan diluar tembok istana (kraton). Tarian ini yaitu tari Lawung dan Etheng serta beberapa tari Bedhaya dan Srimpi dicipta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-18. Tari-tarian ini sejak dahulu jarang sekali dipentaskan, kecuali untuk Upacara perkawinan Agung atau menjamu Tamu Agung Raja. Pada zaman dahulu hingga tahun 1918 dikala pengantin Kraton diboyong ke Kepatihan setelah upacara kepanggih di dalam Kraton, maka pada hari resepsi kedua di Kepatihan yang dihadiri oleh Sri Sultan, beliau selalu membawa Tarian Etheng ini untuk dipergelarkan di dalam Kepatihan. Pada malam resepsi pertama di mana menurut adat istiadat Kraton Sri Sultan tidak menghadiri upacara tersebut, melainkan beliau mengirimkan sebagai wakilnya yaitu suatu rangkaian beksan Lawung dan beksan Etheng. Adapun ma...
Tari Klana Alus merupakan salah satu judul dari tari klasik gaya Yogyakarta. Tarian ini merupakan tarian putra tunggal yang menceritakan seorang raja yang sedang jatuh cinta atau dalam pencarian kekasihnya. Karakter putra yang halus merupakan ciri tarian ini, bukan berarti menunjukan karakter yang lemah melainkan menunjukan karakter yang berwibawa dan tampan. Tari Klana Alus diciptakan oleh KRT. Sasminta Mardawa dan oleh KRT. Condro Radono, adapun tarian ini terbagi menjadi 3 judul dimana musik yang mengiringi dan tokoh yang digambarkan berbeda. Klana Alus Cangklek Klana Alus Cangklek merupakan penggambaran raja yang bernama Prabu Dasalengkara yang ingin menikahi Dewi Siti Sendari. Gending yang mengiringi berjudul Ladrang Cangklek laras slendro Klana Alus Sumyar Klana Alus Sumyar bercerita tentang wanita yang menyamar sebagai laki-laki, yaitu Dewi Arimbi yang menyamar menjadi Prabu Sri Suwela untuk mencari keberadaan Bima. Tari Klana Alus ini mengambil beberapa gerak...
Beksan Guntur segara merupakan salah satu Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang masih hidup hingga sekarang. Tarian in merupakan karya dari Sri Sultan Hamengkubuana I sekitar tahun 1700an. Beliau yang merupakan seorang militer dan pencinta seni menggunakan media seni tari sebagia sarana latihan kedisiplinan untuk para prajurit Kraton. Karakter pada Beksan Guntur Segara sangat menggambarkan karakter yang kuat, disiplin dan lugas. Beksan Guntur sega menceritakan kisah Raden Joyoseno dari kerajaan Jenggala dalam misinya membuktikan diri bahwa dia adalah pangeran kerajaan Jenggala. Akhirnya Joyoseno harus membuktikan dir dengan bertarung dengan pangeran Jenggala yang lain bernama Raden Guntur Segara. Pertarungan terjadi namun kedua pihak tidak ada yang menang ataupun kalah dan akhirnya Raden Joyoseno diakui sebagai pangeran Jenggala. Yang menjadi ciri khas dari tarian ini adalah ragam gerak yang disebut "Kambeng" dimana ragam tersebut merupakan bentuk gerakan...
Tari Klana Topeng Alus adalah tari tunggal putra yang merupakan salah satu jenis tari Klasik gaya Yogyakarta. Sesuai namanya tarian ini menggunakan topeng sebagai properti utama. Karater yang ditampilkan adalah tokoh Raden Panji Gunungsari, diambil dari cerita Panji atau Wayang Gedog. Karekter yang ditunjukan merupakan tokoh pangeran yang halus dan gerakanya hati-hati namun sesekali dinamis. dikisahkan dalam tarian ini yaitu Raden Panji Gunungsari yang sedang jatuh cinta kepada Putri Ragil Kuning. Sesuai dengan karakter tari topeng gaya Yogyakarta ada gerakan menjadi ciri khas yaitu ogek lambung dan Nyepak Wiron. M eski terkesan agak kasar namun dua gerakan itu yang membedalkan tari topeng dengan tari klasik gaya Yogyakarta yang lainnya. Kostum yang dipakai adalah: 1. Irah-irahan tekes 2. Kulitan: Sumping, Kelat bahu, kalung 3. Celana Panji 4. Kain Jarik parang gendreh 5. sampur cindhe dan sampur nglana 6. ker...
Pada zaman dahulu, di tanah Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama Majapahit. Salah seorang diantara raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Majapahit itu bernama Prabu Brawijaya V. Sang Prabu Brawijaya V atau Brawijaya Pungkasan (terakhir), mempunyai seorang permaisuri dan beberapa orang selir. Salah seorang diantara para selir sang Prabu ialah Ratu Mayangsari. Suatu hari, pada saat Ratu Mayangsari mulai menampakkan gejala-gejala mengandung, sang Prabu Brawijaya menitipkannya kepada salah seorang saudaranya yang tinggal di desa dan hidup sebagai petani. Nama saudara sang Prabu yang diserahi tugas untuk menjaga Ratu Mayangsari itu ialah Ki Juru Sawah. Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putera yang diberinya nama Raden Patah. Suatu ketika, saat Raden Patah sudah mulai beranjak remaja, ia melihat Ki Juru Sawah akan pergi ke kerajaan untuk posok glondong pangareng-areng atau mempersembahkan upeti berupa sebagian dari hasil sawahnya ke...