Bahan Sambal Lu’at 1 ons cabai rawit 5 buah jeruk nipis Satu genggam daun siba Satu genggam daun kemangi Garam secukupnya Cara Membuat Sambal Lu’at Pertama, siapkanlah bahan-bahan di atas. Cuci bersih sebelum diolah Kedua, iris tipis jeruk nipis dan uleg cabai rawit hingga halus Lalu, iris daun siba dan daun kemangi. Kemudian, campur semua bahan dan masukkan ke dalam toples bila sudah rata Selanjutnya, tunggu selama dua hari (kurang lebih) sebelum disantap supaya jeruknya tidak terasa pahit Berikutnya, sajikan bersama masakan favorit Anda. Selamat menikmati! http://recipesmasakanindonesia.blogspot.co.id/2016/09/resep-membuat-sambal-luat-khas-ntt.html Sumber :
Kuliner khas Sumba lainnya adalah Manu Pata’u Ni yang merupakan ayam kampung yang diolah dengan campuran santan. Disajikan secara terpisah, daging ayam kampung tersebut dimasak hingga empuk sampai bumbunya meresap ke dalam daging. Hidangan ini sering disajikan warga Sumba jika kedatangan tamu atau di hari-hari perayaan tertentu seperti, Idul Fitri dan Hari Natal. Sumber : https://magazine.job-like.com/mencicipi-lezatnya-kuliner-sumba/
Daging Sei adalah kuliner khas dari NTT, beberapa hari lalu dapat oleh2 dari seorang sahabat sepulangnya dari Kupang, dan hari ini di olah menjadi Sei Sapi Saos Tiram Bahan-bahan : 1/4 kg daging Sei Sapi, iris2 tipis, sisihkan, 5 siung bawang putih, cincang kasar, 8 siung bawang merah, iris tipis, 1 buah tomat, potong kotak, 50 gr cabe merah keriting, iris sering, 2 sdm saos tiram, 1 sdm kecap manis, 2 sdm lada hitam, uleg kasar, secukupnya gula, secukupnya kaldu bubuk (optional - jika suka), secukupnya garam, 100 ml air, secukupnya minyak goreng untuk menumis Cara memasak : Tumis bawang merah hingga wangi, masukkan bawang putih, tomat, dan cabe iris, aduk rata Masukkan daging sei, tambahkan air, aduk rata kembali Tambahkan saos tiram, kecap manis, lada hitam, garam, gula, koreksi rasa, jika ada yang kurang dapat ditambahkan Masak hingga matang dan kuah mengental https://cookpad.com/id/resep/928202-sei-sapi-saos-tiram
Menjelang Hari Raya Paskah yang merupakan salah satu perayaan suci dalam umat nasrani, kota Larantuka menjadi pusat perhatian bagi para peziarah, baik itu dalam negeri maupun luar negeri. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena di kota ini terdapat sebuah prosesia bernama Semana Santa, tradisi perayaan Pekan Suci Paskah yang telah berusia lebih dari 5 abad. Semana Santa merupakan sebuah perayaan dalam umat Katolik di Larantuka, yang merupakan warisan dari bangsa Portugis pada waktu itu. Akulturasi budaya, agama, dan tradisi – tradisi lokal yang cukup kental menjadikan tradisi ini kuat, mengakar, dan tetap dijalankan setiap tahunnya dan menjadi salah satu prosesi adat yang diminati masyarakat katolik di dunia. Tidak tanggung – tanggung, dalam setiap perayaan paskah, kota Larantuka bisa didatangi hingga ribuan peziarah dari berbagai negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, Brazil, Italia dan lain – lain. Semana Santa berasal dari dua kata, ...
Konsumsi pangan lokal seperti ubi dan singkong bagi warga kabupaten Sikka maupun provinsi NTT, mulai digandrungi sejak Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, gencar mempromosikan gerakan mengkonsumsi pangan lokal sejak sekitar 2015. Meski demikian, konsumsi ubi hitam bagi warga kabupaten Sikka dan di Flores Timur hampir sering dilakukan, mengingat makanan ini selalu dijual setiap sore di sepanjang jalan Gajah Mada, Kota Maumere, bersama aneka makanan lokal lainnya seperti singkong rebus, pisang, kacang rebus dan lainnya. Makanan lokal sudah menjadi konsumsi masyarakat Sikka setiap hari. Ubi hitam paling banyak dibeli masyarakat, sebab rasanya yang beda dan hanya beberapa warung senja yang jual makanan lokal saja yang menjualnya. Dalam membuatnya, ubi direndam semalam dan dibuang airnya, lalu ditutup dengan daun Reo atau Turi selama satu atau dua malam hingga tumbuh jamur dan berwarna kehitaman. Kalau sudah berwarna hitam, baru direbus hingga matang, lalu diangkat dan biasan...
Mage Wair atau Kuah Asam merupakan salah satu makanan khas masyarakat Sikka. Makanan sederhana ini biasa dihidangkan setiap hari di kebanyakan keluarga. Mempergunakan bumbu-bumbu tradisional rasa Mage Wair tetap lezat dan aromanya memikat di tengah cuaca panas yang melanda kota Maumere. Memasak Mage Wair gampang dilakukan, bumbu–bumbu yang dipergunakan mudah dijumpai dan dibeli di kios atau pasar. Pertama, kita perlu menyediakan bumbunya terlebih dahulu. Bawang putih, bawang merah, kunyit, halia, daun sere atau kemangi,asam, garam dan lombok.Bawang putih dan bawang merah diiris. Kunyit dan halia di memarkan. Lombok kecil dihaluskan atau jika memakai lombok besar maka sebaiknya diiris saja. Garam dan asam disiapkan secukupnya. jika mau asamnya lebih terasa, sebaiknya memakai asam kering. Daun Kemangi bisa ditambahkan sedikit buat pengharum. Bila memakai ikan basah ukuran besar maka saran Maria,ikannya dipotong kecil– kecil sesuai selera.Tapi kalau ikannya seleba...
Etnis Tana Ai di wilayah timur Kabupaten Sikka dikenal masih kental mempertahankan adat dan budaya. Makanan lokal sederhana namun terasa memanjakan lidah sering kali disajikan setiap ada perhelatan pernikahan, sambut baru (komuni pertama) maupun ritual adat. Ohu Ai Prungan salah satunya, kuliner dari Ubi kayu kering (gaplek) yang diambil dari kebun menjadi bahan dasar untuk pembuatan Ohu Ai Prungan. Langkah awal, ubi dikupas dan dikeringkan dengan cara dijemur minimal dua minggu. Ubi kayu ditumbuk di Lesung hingga halus lalu ditapis memakai Nyiru. Ubi yang ditumbuk harus sampai halus menyerupai tepung. Persiapan lainnya, yakni parutan kelapa. Kelapa yang dipakai sebaiknya jangan terlalu tua biar hasilnya lebih renyah dan baunya lebuh harum. Kelapa parut dan tepung ubi kayu (Ohu Ai) diaduk merata di Nyiru (Lida) seraya diremas kedua tangan. Saat diaduk tambahkan sedikit air saja biar legket. Biasanya cuma dicampur kelapa saja tanpa dicampur gula. Tapi kadang juga campur denga...
Buras adalah salah satu makanan khas etnis Tidung Bajo di perkampungan nelayan Wuring merupakan satu keharusan, di mana kuliner ini selalu disuguhkan kepada para tamu yang berkunjung ke kampung ini sebagai sebuah penghormatan. Buras sering dijual di pasar senja Wuring dimana empat buahnya dijual seharga 5 ribu rupiah. Hampir semua masyarakat Wuring yang merupakan suku pelaut selalu menyajikan makanan khas ini terlebih saat hari raya Lebaran dan saat pesta. Buras dibuat dari beras ketan atau beras biasa yang dimasak dengan santan dan dibungkus di daun pisang lalu dikukus. Ada juga yang membungkusnya di daun bambu lalu dibakar agar bisa tahan lama. Cara membuat Buras, yakni kelapa yang sudah tua diparut dan diambil santannya. Santan dimasak hingga mendidih lalu beras yang sudah dicuci dan direndam di air dimasukan ke dalam santan. Beras yang sudah dicampur santan tersebut terus diaduk hingga merata sampai santannya mengering. Setelah dibiarkan dingin, Buras tersebut dibung...
Konon, di Desa Metilopu, Pulau Rote, hiduplah keluarga petani bernama Tukateik bersama dengan seorang isteri yang tercinta, Bingalete namanya. Keduanya dikaruniai tiga orang yang yang ganteng-ganteng. Si sulung bernama Lelu Welang, lalu diikuti oleh Pelang Galing dan Tipa Soli. Pekerjaan keluarga ini sehari-hari bercocok tanam. Meski begitu, keluhan hidup yang dihadapi tidak pernah terdengar dalam setiap pembicaraan dengan tetangganya. Mereka tidak pernah menyesali hidup sebagai petani kecil. Sang suami pandai menciptakan kondisi yang kondusif. Tak heranlah bila saban hari mereka menghadirkan canda ria, ditambah lagi sang isteri yang senantiasa pasang senyum di tengah anak-anaknya yang rada-rada nakal. Sayang kehidupan yang harmonis itu harus segera berakhir tatkala sang istri tercinta meninggal. Sang ayah bingung. Siapa yang bakal menjadi pengganti istrinya dalam mendidik anak-anak yang masih kecil itu? Setelah lama hidup menduda, sang pengganti pun ditemukandi desa seberang. K...