Pulau Ternate merupakan pulau yang tidak hanya sangat kaya akan rempah-rempahnya, tetapi juga mengenai cerita rakyat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya secara turun-temurun. Salah satu kisah rakyat Ternate yang menjadi sebuah legenda dan selalu dikenang sampai saat ini adalah cerita mengenai asal-usul terjadinya Danau Tolire. Nuansa mistis bercampur dengan rasa haru mewarnai kisah klasik rakyat di Ternate ini. Uniknya lagi, lokasi yang menjadi bagian dari cerita ini masih bisa disaksikan sampai saat ini. Alkisah ada seorang ayah yang berhubungan intim dengan putri kandungnya sampai-sampai sang putri tersebut mengandung. Padahal, konon katanya sang ayah merupakan seorang pemimpin desa yang berada tepat di kaki Gunung Gamalama, serta cukup dihormati oleh masyarakatnya. Setelah kejadian tersebut diketahui oleh para penduduk desa, sang ayah dan si putrinya itu pun mendapatkan hukuman sosial dengan cara diusir dari desa. Dalam kondisi perasaaan sangat malu, sang ayah dan si...
Sasadu merupakan sebuah rumah sederhana dibentuk dari bahan kayu dan anyaman daun sagu. Sekilas mirip pendopo khas Jawa tetapi jelasnya ini adalah rumah adat peninggalan leluhur suku Sahu di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Rumah adat ini menjadi tempat warganya berkumpul, bersantap, dan berbagi nilai-nilai leluhur dan kearifan lokal yang terus dipegang teguh melekat dalam kesehariannya. Rumah adat ini b ermakna kestabilan dan kerendahan hati. Pembangunan rumah adat ini tanpa menggunakan paku tetapi sepenuhnya berbahankan alam dan kearifan lokal. Tanpa paku logam, tali ijuk tak terputus. B angunannya didominasi batang pohon sagu sebagai tiang dan kolom serta daun sagu sebagai pelapis atap. Pohon sagu sendiri mudah didapat di Halmahera dan menjadi makanan pokok. Selain itu, pohon sagu juga dilambangkan sebagai pohon kesejahteraan. Rumah adat ini memiliki enam pintu untuk jalan masuk dan keluar, meskipun setiap sisinya tidak berdinding. Dua pintu untuk jalan masuk keluar...
Popeda adalah bubur yang dibuat dari tepung sagu yang diberi air panas yang baru mendidih sambil di aduk" sampai benar" mengental papeda banyak dikonsumsi sebagai makanan kesukaan dan merupakan makanan khas masyarakat Maluku,Maluku Utara dan Papua. Buburnya sepintas mirip lem kanji. Papeda biasanya dimakan bersama kuah ikan dengan rasa asam dan pedas yang seger dan juga ikan kuah kuning khas ternate , ditambah aneka lauk lainnya yang tersedia di meja, ada ikan, aneka lalapan, tahu tempe, sagu bakar,sambal terasi,sambal mentah, singkong rebus bahkan pisang rebus! Cara makannya pun unik, pertama untuk memindahkan papeda dari baskom besar ke piring kita digunakan dua batang kayu, seperti sumpit dengan ukuran besar, kemudian bubur diputar-putar menggunakan kayu tersebut sampai terputus baru disajikan ke piring kita. Nah untuk makannya juga disarankan tidak menggunakan sendok, tapi cukup gunakan dua jari kita saja: jempol dan telunjuk untuk mengambil popeda dari atas piring menuju mulut ki...
Nasi Kuning Ternate identik dengan pilihan lauk yang berbeda dari nasi kuning pada umumnya. Nasi kuning yang ini biasanya disertai dengan ikan, telur, mie goreng dan sambal goreng. Nasi kuning ini diberi harga sebesar Rp. 20,000 per porsi. Ikan yang dipakai sebagai lauk adalah Ikan Tongkol yang dibumbui gula merah, kecap dan merica. Ikan kayu ini juga merupakan masakan khas Ternate yang digemari masyarakat Ternate. Nasi kuning merupakan pilihan favorit masyarakat Ternate sebagai menu sarapan sehingga pada umumnya rumah makan yang menjual nasi kuning dibuka pada pagi hari. Rumah makan nasi kuning ini kerap dapat ditemui di pasar kota serta di antara kumpulan ruko oleh-oleh khas Ternate. Nasi Kuning Gamalama merupakan salah satu contoh rumah makan yang menyajikan nasi kuning ini. Tempat kuliner ini telah berhasil membuka cabang di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara karena mempunyai banyak peminat dan harga yang cukup terjangkau. Jika mengunjungi Ternate, rasanya belum lengkap...
Roti Pancis adalah makanan khas Ternate sejenis makanan penutup yang biasanya dikonsumsi pada sore hari dengan seruputan teh hangat.Makanan ini rasanya manis karena dilapisi oleh mentega cair dan gula cair.Makanan ini memiliki bentuk yang sangat mirip dengan panekuk ( pancake ) tetapi memiliki wujud yang lebih tipis,bentuk bulat pipih kemudian dilipat empat. Bahan : - Terigu seperempat kg - Telur 1 butir - Garam (secukupnya) - Gula putih (secukupnya) - Mentega (secukupnya) - Air (secukupnya) Cara Membuat: - Campurkan terigu,telur,garam,dan air lalu aduk hingga merata - Buatlah topping dengan cara mencairkan kan mentega dengan taburan gula pasir - Panaskan teflon - Oleskan mentega dengan kuas pada teflon tersebut - Ambil adonan sebanyak satu sendok sayur,tuangkan di atas teflon - Ratakan adonan tersebut - Masak dengan menggunakan api yang kecil - Setelah matang,angkat pindahkan ke suatu tempat - O...
Dahulu, jauh di belahan bumi sebelah utara kepulauan Maluku, terdapat sebuah daerah yang disebut Tobelo. Konon daerah yang diliputi laut yang membiru itu menyimpan suatu kisah yang menarik. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdindingkan daun rumbia, tinggallah satu keluarga. Ayahnya seorang nelayan yang siang dan malam hidupnya diatas lautan bertarung nyawa untuk menghidupi anak istrinya. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang setia dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. Yang sulung seorang anak perempuan bernama O Bia Moloku. Kecantikannya melebihi ibunya. Sedangkan adiknya bernama O Bia Mokara, tampan dan berperawakan mirip ayahnya. Pada suatu hari mereka pergi melaut dan seperti biasa. Sebelum mereka bertolak ke laut, tak lupa ditinggalkannya makanan dan telur ikan pepayana di rumahnya. Beberapa hari setelah kepergian ayahnya melaut, ibunya pergi ke kebun. Sebelum ibunya pergi ia berpesan kepada kedua anaknya, "Hai anak-anakku, jangan kamu maka...
Pada zaman dahulu ada sebuah desa berada di dekat Galela. Sekarang desa itu dikenal dengan nama Desa Mamuya. Tidak diketahui sejak kapan desa itu dinamai Mamuya. Konon, nama desa itu berasal dari seseorang suku terasing di hutan. Kata orang Tobelo, namanya Nihiri, yang berarti sakit. Awalnya, orang dari hutan itu mengganggu penduduk di luar hutan. Dia mencuri temak penduduk sehingga penduduk menjadi marah dan merencanakan untuk menangkapnya. Para tua-tua (orang yang dianggap tua) di karnpung itu merencanakan untuk menangkap Nihiri pada malam hari ketika ia melaksanakan aksinya. Penduduk pun setuju. Pada saat malam tiba, penduduk bersiap-siap menangkapnya. Ketika Nihiri melaksanakan aksi mencurinya, penduduk secara beramai-ramai menangkapnya dengan menggunakan gomutu (tali yang dibuat dari pohon enau), kemudian dipukul hingga babak belur. "Mengapa kau mengganggu desa kami?" tanya Kepala Adat. "Kami butuh makanan dan tempat tinggal," jawab Nahiri sambil merintih-rintih. Kepala...
Pada zaman dahulu, di Desa Marahai hidup satu keluarga. Mereka adalah sepasang suami isteri dengan seorang anak perempuan. Sang ayah bemama Daluku dan sang ibu bemama Haiti, sedangkan anak perempuan mereka bemama Bebeoto. Hari-hari mereka lalui dengan bahagia. Bebeoto sangat disayangi oleh ayah dan ibunya. Agaknya, kebahagiaan di keluarga ini tidak berlangsung lama. Pada waktu usia Bebeoto enam tahun, Daluku meninggal karena sakit keras. Maka hari-hari berikutnya dilalui Bebeoto hanya berdua dengan ibunya. Untuk menghidupi anaknya yang masih kecil, Haiti menanam tanaman di kebun dan memelihara ayam. Pada suatu saat, wabah penyakit temak melanda Desa Marahai. Semua ayam yang dipelihara Bebeoto mati kerena diterjang wabah penyakit. Seekor ayam betina yang baru bertelur lima butir pun ikut mati. Keadaan itu membuat Bebeoto dan ibunya putus asa. Mereka hanya berdoa kepada Tuhan agar bencana wabah itu cepat berlalu. Dalam beberapa minggu si ibu masih bisa menjaga diri dan ana...
Alkisah, di pulau yang terpencil di pedalaman hutan Gunung Sali hiduplah keluarga kecil yang terdiri atas satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Kedua orang tua mereka telah tiada setelah mereka beranjak dewasa. Pakaian mereka compang-camping. Mereka bertiga sering kekurangan makanan karena menanti panen hasil kebun. Tidak makan dua atau tiga hari atau seminggu adalah hal yang biasa bagi mereka bertiga. Mata pencaharian mereka adalah melaut dan berkebun. Biasanya, kakak laki-laki yang pertama dan kedua pergi ke laut untuk menjaring ikan. Alat-alat yang disiapkan adalah bubu dan jaring. Sementara itu, saudara perempuan mereka pergi ke kebun untuk menanam ubi dan ketela. Setelah itu, ia bermain-main di hutan areal kebun mereka untuk mencari sayuran dan apa saja yang bisa dimakan dan dibawanya pulang untuk mengganjal perut. Itulah kehidupan mereka sehari-hari. Pada suatu ketika saat matahari mengeluarkan cahaya penerang kepada alam pada pagi hari, dua orang k...