Pada zaman dahulu, di Desa Marahai hidup satu keluarga. Mereka adalah sepasang suami isteri dengan seorang anak perempuan. Sang ayah bemama Daluku dan sang ibu bemama Haiti, sedangkan anak perempuan mereka bemama Bebeoto.
Hari-hari mereka lalui dengan bahagia. Bebeoto sangat disayangi oleh ayah dan ibunya. Agaknya, kebahagiaan di keluarga ini tidak berlangsung lama. Pada waktu usia Bebeoto enam tahun, Daluku meninggal karena sakit keras. Maka hari-hari berikutnya dilalui Bebeoto hanya berdua dengan ibunya. Untuk menghidupi anaknya yang masih kecil, Haiti menanam tanaman di kebun dan memelihara ayam.
Pada suatu saat, wabah penyakit temak melanda Desa Marahai. Semua ayam yang dipelihara Bebeoto mati kerena diterjang wabah penyakit. Seekor ayam betina yang baru bertelur lima butir pun ikut mati. Keadaan itu membuat Bebeoto dan ibunya putus asa. Mereka hanya berdoa kepada Tuhan agar bencana wabah itu cepat berlalu.
Dalam beberapa minggu si ibu masih bisa menjaga diri dan anaknya dengan memanen hasil kebun yang sebagian ditukar dengan ikan dari para nelayan. Namun, setelah beberapa minggu, Haiti kehabisan bahan makanan yang disimpan. Bahkan, bahan makanan di kebun juga habis. Yang ada di kebun hanyalah tanaman yang bam ditanam dan baru bisa dipanen dalam waktu dua hingga em pat bulan kemudian.
Akhimya, sang Ibu teringat bahwa dia masih mempunyai lima butir telur yang disimpan. Haiti memasak telur itu untuk anaknya. Sebutir sehari untuk dimakan. Pada hari kelima, telur pun tinggal sebutir. Telur terakhir itu direbus oleh Haiti. Karena takut cepat habis, Bebeoto menyarankan kepadanya ibunya agar telur jangan dimakan sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit.
“Meme, kalau kalu mo makang tolar, tara usa kase pica tapi ambe depe isi sadiki-sadiki dengan peneti supya jang capat abis tape tolar," demikian kata Bebeoto. Namun, sang ibu langsung mengambil telur itu dan langsung mengupasnya. Tampaknya sang ibu tidak menganggap apa yang diusulkan oleh anaknya yang memang masih kecil.
“Ah, kalu makan sadiki-sadiki. Ngana tara kanyang. Jadi, lebe bae makan satu kali saja," bentak sang ibu. Kata-kata ibunya tersebut tidak menyenangkan hati Bebeoto. Dia menangis dan merajuk, lalu pergi ke pantai.
“Mama so kase abis tape tolar, lebar kita balari dari rumah,” keluh Bebeoto. Setibanya di pantai, Bebeoto langsung berjalan sampai batas air kering dengan air laut yang dalam. Kebetulan pada saat itu pasang surut yang kering sehingga Bebeoto dengan mudah bisa menemukan batu-batu besar dan karang-karang laut yang memiliki lubang besar. Bebeoto memandang sebuah batu besar yang memliki lubang besar dengan wajah sedih.
“Lebe bae kita masuk ke dalam batu itu, supaya tape mama tara bisa dapa deng ambe pe kita," kata Bebeoto dalam hati. Setelah beberapa saat berpikir, Bebeoto masuk ke dalam lubang batu itu. Sementara itu, ibunya hanya dapat melihat perbuatan Bebeoto dari kejahuan sebelum Bebeoto masuk ke dalam lubang batu. Dengan tergesa-gesa Haiti berlari menuju batu itu dengan harapan agar bisa mengeluarkan Bebeoto. Sementara itu, air laut mulai pasang naik (aer nae) dan memenuhi lubang batu yang dimasuki Bebeoto. Hal ini membuat ibunya semakin takut dan sedih. Ia berusaha mencari cara untuk mengeluarkan Bebeoto dari dalam lubang batu. Sambil memeluk batu itu, Haiti memanggil Bebeoto dengan nada sedih.
“Bebeoto! Mama tau ngana ada! Mama lmrap ngana kaluar la torang pulang ke rumah. Nanti mama cari lagi ngana pe tolar la ngana bole makan beso,” pinta sang ibu dengan nada penuh kesedihan.
“Kita tara mau kaluar", kata Bebeoto dalam lubang batu.
“Tarada! Mama tara akan pukul pa ngana! Mama cuma harap nganan kaluar kong pulang," kata ibunya sedih. Demikianlah, berulang kali sang ibu memanggil Bebeoto. Namun, Bebeoto tidak mau keluar dari lubang batu. Ibunya hanya duduk di atas batu dan menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana eh, supaya Bebeoto bisa percaya pa kita la bisa kaluar dari dalam lubang batu?" tanya sang Ibu dalam hati. Pada saat berpikir si Ibu melihat sebuah kerang besar di sampingnya. Kerang ini bisa disebut Bia Kima. Bia Kima sedang membuka kulitnya dengan lebar.
“Lebe bae kita kase foya pa Bebeoto," kata sang ibu dalam hati.
“Bebeoto! Kalu ngana tara mau kaluar dari batu, lebe bae mama masuk dalam bia basar la mama mati suda!" teriak sang ibu. Secara pelan si Ibu menuju ke Bia Kima yang masih terbuka dan duduk di dalam Bia itu. Sementara itu, Bebeoto mulai sadar bahwa ibunya sangat menyanyanginya dan dia tidak mau kehilangan ibunya. Dia tidak mau bila ibunya sampai ditelan Bia Kima. Kalau sampai terjadi, berarti dia akan kehilangan orang tuanya. Untuk itu, Bebeoto keiuar dari lubang batu, kemudian pergi mencari ibunya yang berada dalam mulut Bia Kima. Namun, belum sempat sang ibu keluar dari mulut Bia, Bia Kima itu menutup kulitnya yang membuat ibu terjepit. Akibatnya, ibu sulit keluar dari Bia Kima. Terdengar teriakan minta tolong dari dalam Bia Kima. Namun, apa daya, karena tubuh Bebeoto lebih kecil daripada Bia Kima, ia tak mampu menolong ibunya.
"Mamaeee ... !!! Meme ... ! !! kaluar, karena kita so kaluar supaya torang pulang ke rumah!" pinta Bebeoto. Bebeoto hanya memandang Bia Kima. Semakin lama, air laut semakin naik sehingga Bia Kima pun hilang ditelan air laut. Akhimya, Bia Kima tidak terlihat lagi. Dari kejahuan Bebeoto hanya memandang dengan tangisan sedih, kemudian dia pulang ke rumah sendirian. Itulah akibatnya kalau tidak mendengarkan nasihat ibu, sekarang Bebeoto benar-benar kehilangan kedua orang tuanya.
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...