Tradisi ngapem adalah salah satu tradisi turun temurun Keraton Yogyakakarta yang ada sejak zaman Islam Jawa Kuno. Tradisi ngapem ini secara khusus diadakan untuk memperingati hari raya kenaikan tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X ( dalam bahasa Jawa : Tingalan Jumenengan Dalem ) yang memasuki tahun ke-23. Biasanya tradisi ini diadakan di bulan Ruwah, salah satu bulan di penanggalan Jawa dan diadakan setahun sekali. Kue apem ini hanya dibuat oleh wanita, baik istri Raja, anak dan keturunan raja, serta kerabat Keraton dengan alasan wanita adalah pelayanan dari pria. Nantinya, kue ini hanya dibagikan kepada abdi dalem Keraton yang sejak dahulu melayani Raja Yogyakarta dan keturunannya yang jumlahnya mencapai 2.500 orang. Namun kue apem yang dibuat pada acara Tradisi Ngapem ini berbeda dengan kue apem pada umumnya. Pada acara ini, ada dua jenis kue apem yang dibagikan yaitu apem mustaka (diameter kurang lebih 20 cm) untuk abdi dalem yang memiliki posisi tinggi, dan a...
Dalam rangka memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj yang jatuh pada tanggal 27 Rejeb tahun Jawa, Keraton Yogyakarta mengadakan Hajad Dalem Yasa Peksi Burak . Yasa berarti membuat atau mengadakan. Peksi adalah burung. Burak adalah Buraq, makhluk yang diyakini menjadi kendaraan nabi saat melakukan Isra' Mi'raj . Hajad Dalem ini diawali dengan membuat Peksi Burak , pohon buah dan empat pohon bunga. Peksi Burak dibuat menggunakan buah dan kulit jeruk bali. Kulit tersebut dibentuk dan diukir menyerupai badan, leher, kepala, dan sayap burung. Burung jantan diberi jengger (pial) untuk membedakannya dari burung betina. Masing-masing Peksi Burak akan diletakkan di atas sebuah susuh , atau sarang, yang dirangkai dari daun kemuning sebagai tempat bertengger. Peksi Burak dan susuh ini diletakkan di bagian paling atas dari pohon buah, dengan disangga oleh ruas-ruas bambu. Pohon buah dibuat dari tujuh macam buah lokal yang...
Beksan (tari) Golek Menak adalah sebuah genre drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). Gagasan penciptaan tari ini dicetuskan Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941. Apabila dramatari Wayang Wong menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, dramatari Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak . Serat Menak bersumber dari Hikayat Amir Hamzah yang dibawa oleh pedagang Melayu dan disebarluaskan di wilayah Nusantara. Nama-nama tokoh yang berasal dari belahan dunia lain tersebut kemudian di adaptasi ke dalam bahasa Jawa, seperti nama Amir Hamzah berubah menjadi Amir Ambyah. Secara garis besar Serat Menak memuat kisah munculnya agama Islam melalui tokoh Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana, seorang putra Adipati asal Mekkah. Mewujudkan Gerakan Wayang Golek Kayu ke Dalam Gerak Tari Untuk mewujudkan gagasannya, Sri Sultan Hamengku Buwono I...
Gunungan Estri memiliki bentuk seperti bokor . Bagian dasar gunungan lebih kecil daripada bagian tengah gunungan dan kembali mengecil pada bagian atas. Rangkanya dibuat dari bambu. Pada bagian atas gunungan , yang disebut sebagai mustaka , terdapat sebuah kue dari ketan berwarna hitam yang bentuknya menyerupai gunungan wayang kulit. Ilat-ilatan berwarna hitam dipasang mengelilingi mustaka . Ilat-ilatan merupakan kue ketan yang pipih panjang seperti lidah. Di bawah ilat-ilatan , dipasang sabunan . Sabunan , gulungan daun pisang ( klaras ) yang bagian atasnya diberi kucu dan upil-upil , ditata melingkar. Kucu berbentuk bulatan kecil berwarna putih sedangkan upil-upil berbentuk persegi panjang dan dibuat dalam lima warna, putih, merah, kuning, hijau, dan hitam. Keduanya dibuat dari beras ketan. Sedikit lebih rendah dan di luar lingkaran sabunan , rengginang ditata melingkar. Rengginang adalah kue ketan berwarna putih dan berbentuk bundar. Pada setia...
Ngebluk merupakan kegiatan membuat adonan apem. Ngebluk dilakukan 2 hari menjelang upacara Hajad Dalem Labuhan . Bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton , sebuah tempat yang berada di lingkup Kaputren atau kediaman para Putri Raja. Ngebluk hanya boleh dilakukan oleh para wanita yang dipimpin Permaisuri dan Putri Raja tertua. Selain para Putri Raja, orang-orang yang terlibat pada prosesi ngebluk adalah para kerabat Keraton beserta Abdi Dalem Keparak . Proses pertama, para Putri dibantu oleh Abdi Dalem mencampurkan bahan yang diperlukan guna dijadikan jladren atau adonan. Adonan terus diaduk hingga tercampur. Proses pengadukan adonan menimbulkan suara “ bluk ”, sehingga prosesi ini disebut Ngebluk . Setelah menjadi jladren , adonan kemudian dipindahkan kedalam enceh (gentong berukuran besar), kemudian didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang. Pada waktu bersamaan beberapa Abdi Dalem Keparak memiliki tugas lain untuk me...
Dhaup Ageng adalah hajad seorang raja ketika menikahkan anak perempuannya. Dalam tradisi Jawa, gelaran pernikahan diselenggarakan oleh pihak perempuan. Pada umumnya raja-raja jaman dahulu memiliki banyak istri dan anak, untuk itu Upacara Dhaup Ageng hanya digelar jika calon mempelai wanita merupakan putri raja yang lahir dari seorang permaisuri. Disamping itu, tidak jarang upacara pernikahan kerajaan pada jaman dahulu digelar sekaligus untuk beberapa putra-putri Sultan. Tercatat pada Tahun 1939 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menikahkan 7 pasang pengantin secara bersamaan. Pada jaman dahulu Dhaup Ageng digelar dengan rangkaian prosesi yang dilakukan hingga berhari-hari. Bahkan pantangan yang harus dijalani oleh kedua mempelai berlangsung beberapa hari sebelum upacara pernikahan hingga 35 ( selapan ) hari setelahnya. Dari masa ke masa, upacara Dhaup Ageng telah mengalami banyak penyederhanaan. Walaupun demikian inti da...
Prosesi nyantri kemudian dilanjutkan dengan Siraman , yaitu ritual memandikan kedua calon mempelai. Siraman memiliki makna membersihkan atau mensucikan kedua mempelai dari segala keburukan secara lahir dan batin. Siraman dilakukan oleh ibu, calon ibu mertua, serta kerabat calon mempelai wanita yang dituakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk doa restu yang diberikan bagi kedua calon mempelai. Prosesi siraman dilakukan diwaktu dan tempat yang terpisah. Siraman pertama diperuntukkan bagi calon mempelai wanita, di Bangsal Sekar Kedhaton . Calon mempelai wanita dimandikan dengan menyiramkan air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang dicampur dengan bunga-bunga. Usai memandikan calon mempelai wanita, air dari tujuh sumber beserta kerabat yang memandikan mempelai wanita diboyong menuju Bangsal Kasatriyan untuk melakukan prosesi siraman bagi calon mempelai pria. Setelah melakukan prosesi siraman, kedua calon mempelai kemudian di rias untuk melaksanakan prosesi selanju...
Tantingan adalah sebuah prosesi pemanggilan calon mempelai wanita oleh Sultan. Dalam prosesi ini, Sultan akan menanyakan kemantapan hati dan kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan pria yang telah meminangannya. Dahulu prosesi tantingan merupakan hari dimana Sultan memberitahukan dengan siapa putrinya akan menikah. Pada umumnya para putri Sultan terdahulu menikah melalui proses perjodohan. Sebelum prosesi tantingan berlangsung ia tidak tahu siapa pria yang akan dinikahinya esok hari. Prosesi tantingan dilaksanakan sore hari setelah waktu magrib di emper Gedong Prabayeksa . sumber :https://kratonjogja.id/siklus-hidup/3/dhaup-ageng
Midodareni berlangsung malam hari sebelum prosesi inti pernikahan dimulai. Midodareni adalah bentuk dari permohonan calon mempelai wanita agar seluruh prosesi pernikahan esok hari berjalan dengan lancar. Midodareni berasal dari kata “bidadari”. Hal ini merupakan simbol dan permohonan agar saat menjelang pernikahan calon mempelai wanita berparas secantik bidadari. Pada malam midodareni , dipercaya para bidadari turun dari kayangan dan menjelma menjadi paras rupawan calon mempelai wanita. Peristiwa turunnya bidadari dipercaya berlangsung menjelang tengah malam. Konon, prosesi seperti ini meniru Ki Jaka Tarub yang akan menikahkan putrinya, Nawangsih. Ki Jaka Tarub meminta bidadari Nawangwulan agar bersedia turun ke bumi merias putrinya pada malam sebelum ia dinikahkan. sumber :https://kratonjogja.id/siklus-hidup/3/dhaup-ageng