Tradisi ini berkembang dalam kalangan masyarakat Suku Serawai di Bengkulu Selatan, provinsi Bengkulu. Api Jagau namanya, yang merupakan bagian dari serangkaian acara yang dilakukan masyarakat setiap tahun pada malam ke-27 Ramadan atau biasa disebut Malam Tujuh Likur . Tradisi ini berkaitan erat dengan kebudayaan Melayu yang merupakan induk budaya masyarakat setempat. Beberapa daerah Melayu lainnya di Indonesia juga melakukan tradisi serupa, seperti di Bangka Barat dan Kepulauan Riau. Bahkan, di Malaysia tradisi ini juga digelar. Bila di Bangka dan Riau masyarakat menamakannya tradisi Lampu Colok yang memakai obor botol atau kaleng bekas, sedangkan di Malaysia disebut tradisi Pelita menggunakan obor bambu. Masyarakat Bengkulu Selatan justru memakai Lunjuk , yakni sejenis obor yang terbuat dari tumpukan tempurung kelapa disusun vertikal—ditusuk kayu—menyerupai sate. Tinggi Lunjuk berkisar antara satu hingga dua meter yang ditanam di depan rumah warga...
Lema adalah sebuah nama makanan, khas Suku Rejang. Komposisinya terdiri dari rebung yang di cincang-cincang, kemudian dicampurkan mujair atau sepat. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan tersebut diaduk-aduk, maka adonan tersebut disimpan ke dalam wadah yang dilapisi dengan daun pisang dan ditutup rapat-rapat. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu minimal selama tiga hari. Setelah itu, baru adonan lema tadi dimasak dan dimakan dengan nasi. Cara memasak Lema dimasak dengan cara yang tidak berbeda dengan tempoyak. Lema beraroma agak tidak sedap baunya. Itu merupakan efek dari fermentasi dari ikan yang dicampur dengan rebung. Lema lebih nikmat bila dimasak dengan campuran santan dan ditambahkan dengan ikan air tawar maupun ikan laut. Pada umumnya, lema dimasak dengan ditambah ikan mas, tongkol, maupun ikan yang biasa dikonsumsi manusia pada umumnya. Lema memiliki rasa asam dan pedas, serta aroma yang unik tetapi gurih setelah dimasak. Setelah masak, lema bias...
Jeruk kalamansi (Inggris: calamondin atau calamansi ; Melayu: limau kesturi) adalah jenis buah jeruk yang berkembang pesat di Bengkulu, berbau harum, dan memiliki rasa yang asam ketika sudah masak, dan pahit ketika masih mentah. Jeruk kalamansi banyak dibudidayakan di Bengkulu, dan diproduksi secara besar-besaran untuk dijual dalam hasil olahan bernama sirup kalamansi. Permulaan gerakan budidaya jeruk kalamansi ditandai dengan pencanangan gerakan "satu desa satu produk" (OVOP: one village one product ) oleh Wakil Presiden Boediono pada tahun 2009. Jeruk kalamansi dapat dijual kepada industri-industri tertentu secara langsung, atau dapat dijual langsung ke pasar, atau diolah sendiri dan dijual dalam bentuk produk jadi. Sirup berbahan jeruk kalamansi menjadi oleh-oleh atau buah tangan andalan di sentral penjualan kerajinan dan makanan khas Kota Bengkulu. Sirup kalamansi dijual dengan harga bervariasi antara Rp25.000,00 hingga Rp30.000,00 per botol berisi 1.000 ml. Sebagian...
Lema adalah sebuah nama makanan khas Rejang. Komposisinya terdiri dari rebung yang dicincang-cincang, kemudian dicampur ikan mujair atau sepat. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan tersebut diaduk-aduk, maka adonan tersebut disimpan ke dalam wadah yang dilapisi dengan daun pisang dan ditutup rapat-rapat. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu minimal selama tiga hari. Setelah itu, baru adonan lema tadi dimasak dan dimakan dengan nasi.Sama halnya dengan tempoyak, jenis makanan ini dibuat dengan proses fermentasi. Bedanya, lema menggunakan adonan rebung (bambu muda) yang dicincang serta dicampur dengan ikan tawar. Efeknya, makanan khas daerah Rejang ini memiliki keasaman dan aroma yang cukup kuat. Namun, banyak yang menyukai rasanya dan menjadikannya sebagai lauk bersamaan dengan nasi dan lalapan. Lema dimasak dengan cara yang tidak berbeda dengan tempoyak. Lema beraroma agak tidak sedap baunya. Itu merupakan efek dari fermentasi dari ikan yang dicampur dengan rebung. M...
Lema adalah sebuah nama makanan khas Rejang. Komposisinya terdiri dari rebung yang dicincang-cincang, kemudian dicampur ikan mujair atau sepat. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan tersebut diaduk-aduk, maka adonan tersebut disimpan ke dalam wadah yang dilapisi dengan daun pisang dan ditutup rapat-rapat. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu minimal selama tiga hari. Setelah itu, baru adonan lema tadi dimasak dan dimakan dengan nasi.Sama halnya dengan tempoyak, jenis makanan ini dibuat dengan proses fermentasi. Bedanya, lema menggunakan adonan rebung (bambu muda) yang dicincang serta dicampur dengan ikan tawar. Efeknya, makanan khas daerah Rejang ini memiliki keasaman dan aroma yang cukup kuat. Namun, banyak yang menyukai rasanya dan menjadikannya sebagai lauk bersamaan dengan nasi dan lalapan. Lema dimasak dengan cara yang tidak berbeda dengan tempoyak. Lema beraroma agak tidak sedap baunya. Itu merupakan efek dari fermentasi dari ikan yang dicampur dengan rebung. M...
Merupakan salah satu resep kue khas Bengkulu. Kue bay tat ini berbentuk segi empat seperti tart namun dengan tampilan seperti pie, biasanya bertopping nanas atau keju. Masyarakat Bengkulu telah membuat kue ini sejak berabad-abad tahun lalu, dan diyakini para raja penguasa dataran Bengkulu menggemari penganan satu ini. Bagi anda yang penasaran dan ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah, tidak ada salahnya untuk mencoba resep kue bay tat berikut ini. Bahan Kue Tat 200 gram margarin 175 gram gula tepung 4 butir telur 600 gram tepung terigu 50 ml santan dari 1/4 butir kelapa 150 gram selai nanas siap pakai (aq pake sele jeruk) 2 kuning telur untuk olesan Membuat Adonan Kue Tat Kocok margarin dan gula tepung sampai rata. Masukkan telur, kocok kembali. Tambahkan terigu sambil diayak dan diaduk rata. Tuang santan, uleni dengan pelan-pelan sampai kalis Cara Membuat Anak...
Kue Lepek binti khas Bengkulu merupakan salah satu resep kue daerah yang akan kita bahas cara membuat dan menyajikannya. Lepek binti merupakan penganan yang terbuat dari bahan dasar ketan dengan isian gilingan daging sapi. Kalau hari-hari biasa, kue-kue tradisional mungkin sangat jarang disajikan tapi di hari Lebaran atau Idul Fitri, banyak kue yang dihidangkan. Mungkin saja, kue tradisional berikut ini bisa menjadi salah satu alternatif dan pilihan untuk keluarga besar di rumah. Semakin banyak variasi, menu kue kejutan, tentu akan semakin menambah semarak suasana. Ingin tahu seperti apa kue yang satu ini? Untuk membuat ini silahkan ikuti cara memasaknya berikut. A. Bahan Membuat Lepek Binti Bengkulu Bahan yang digunakan untuk membuat lepek binti ini yaitu ketan dan juga daging sapi giling. Bahan-bahan selengkapnya yaitu: 1. 200 gram tepung ketan yang baru 2. 75 ml santan kental...
Tari Kejei merupakan kesenian rakyat Rejang yang dilakukan pada setiap musim panen raya datang. Tarian Kejei tersebut dimainkan oleh para muda-mudi di pusat-pusat desa pada malam hari di tengah-tengah penerangan lampion. Kekhasan tari ini adalah alat-alat musik pengiringnya terbuat dari bambu, seperti kulintang, seruling dan gong. Tarian dimainkan sekelompok orang yang membentuk lingkaran dengan berhadap-hadapan searah menyerupai jarum jam. Tarian ini pertama kali dicatat oleh seorang pedagang Pasee, bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Bengkulu pada tahun 1468. Tapi, ada pula keterangan dari Fhathahillah Al Pasee, yang pada tahun 1532 berkunjung ke Bengkulu. Tari Kejei dipercaya sudah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit. Sejak para biku datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang digunakan sampai saat ini. Acara kejei dilakukan dalam masa yang panjang, bisa sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari at...
Dol Kyu, kulit binatang Dol dimainkan bersama alat musik tassa (sejenis rebana) saat perayaan tabot. Perayaan tabot di Sumatera dibawa oleh penganut Syi'ah dari Madras dan Bengali yang didatangkan oleh Inggris sebagai pekerja untuk membangun benteng Malborough. Seorang pekerja yaitu syeh Burhanuddin atau Iman Senggolo melaksanakan perayaan tabot yang pertama pada tahun 1685 yang kemudian menyebar ke Pidie, Meulaboh, Banda Aceh, Singkil, Sibolga, Barus, Padang, Pariaman (yang dikenal dengan perayaan tabuik). Pada perkembangannya, perayaan ini hanya dijumpai di Pariaman dan Bengkulu. Dol hanya dikeluarkan pada perayaan ritual tabot berlangsung, namun kini terjadi perubahan fungsi dol, yaitu bukan hanya dibunyikan pada saat ritual tabot saja namun untuk musik pengiring tarian.