Akar ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit lever, malaria, hepatitis. sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/05/02/obat-obatan-dayak-part-2/ #SBJ
Ini adalah salah satu obat kuat Dayak. Akar ini berhasiat melancarkan peredaran darah sehingga mempengaruhi kekerasan organ genital pria pada saat ereksi, efek lain adalah rentang antara penetrasi dengan ejakulasi jadi lebih lama bisa sampai di atas 30 menitan. Selain saluang belum yang dikenal juga adalah akar pasak bumi yang memiliki khasiat kurang lebih sama. sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/05/02/obat-obatan-dayak-part-2/ #SBJ
Tamiang Layang adalah sebuah kelurahan di kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, Indonesia dan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Barito Timur. Ejaan Belanda untuk Tamiang Layang adalah Tameang Laijang . Penduduk asli daerah ini adalah Dayak Ma’anyan. Menarik untuk mencermati mengenai asal-usul nama Tamiang Layang ini. Berikut beberapa versi dari hasil diskusi di group Folks Of Dayak: 1. TAMIANG LAYANG BERASAL DARI NAMA DAMANG TAMIANG Konon asal usul nama TAMIANGLAYANG berasal dari nama Damang yang tersesat. Nama Damang ini Tamiang. Menurut beberapa kisah ia tersesat dalam usahanya mencari daerah Sangarasi, untuk melamar Puteri Mayang Sari atau dalam bahasa Maanyannya LAYANG = tersesat, walaupun pada akhirnya ia berhasil sampai di Sangarasi namun ternyata Puteri Mayang Sari telah lebih dahulu wafat. Sehingga kota ini dikenal menjadi kota TAMIANG LAYANG atau Damang Tamiang yang layang / tersesat. 2. TAMIANG LAYANG DIAMBIL DARI...
BADEWA, upacara ritual khas Suku Bakumpai yang merupakan sub suku Dayak Ngaju. Upacara ini bertujuan untuk menyembuhkan orang sakit, yang dalam bahasa Banjar disebut Batatamba. Upacara Badewa tumbuh dan berkembang sebelum Islam merasuki Kabupaten Barito Kuala. Berawal dari sebuah keluarga yang masih tergolong Suku Bakumpai, mereka mempercayai serta meyakini kekuatan roh-roh Gaib. Dengan kesederhanaan hidup dan pengetahuan tentang kesehatan yang masih rendah, suatu ketika salah satu di antara keluarga terserang sakit. Sang orang tua berupaya mencari ramuan tumbuh-tumbuhan yang akan digunakan sebagai obat. Hal ini sudah menjadi kelaziman yang dilakukan para leluhur mereka sebelumnya. Kendatipun ramuan tumbuh-tumbuhan tersebut telah digunakan, namun keluarga yang terserang sakit tak kunjung sembuh. Akhirnya mereka pasrah kepada Yang Maha Kuasa, yang ketika itu disebut para Dewa. Dengan berbagai mantera, sang ayah memanggil roh-roh nenek moyang mereka yang dianggap mempunyai k...
Tarian dengan lenturan tubuh yang meliuk-liuk, menarik dengan nilai unsur seni yang lumayan seperti burung elang yang terbang meliuk-liuk. Syair yang dilafazkannya melahirkan nuansa magis dan dilantunkan dengan nada sederhana namun cukup membuat bulu roma berdiri. Syair itu berbunyi; Anak itik teuwai-uwai Anak la kumbang telato-lato Dai la kocik punenen buwai Olang godang pun main mato Olang ku sayang Salak kutai di tonga padang Pisang seondah cundung ke awan Menengok olang la menai-nai Tinggilah ondah munyisik awan olang Badontum bunyi kaki olang Olang badontum bunyi kaki Kaki mumakan obo muontang Badontum bunyi kaki Olang balik bualun pulang Pulang ruh pulanglah insan pulanglah badan soto nyawo Pulang katokan dalam kalimat la ilahaillah Lirik dari syair atau mantera ini dilafazkan berulang-ulang seiring dengan gerakan seperti burung terbang. Dalam ritual ini ada tarian yang dikhususkan untuk pengobatan. Menariknya, Taria...
Tiba Raki berasal dari dua suku kata, Tiba dan Raki. Tiba berarti membuang dan Raki berarti sesajen. Dalam konteks ini Tiba Raki dimaknai sebagai ritual pemberian sesajen dengan mengharapkan kesembuhan terhadap penyakit yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah SWT bahwa hanya karena Allah SWT penyakit tersebut dapat disembuhkan. Ketua Adat Desa Pulau Bungin, Marsono, mengemukakan, bahwa selama prosesi Tiba Raki berlangsung, Sandro menggunakan mantra atau doa yang selalu diawali dengan kalimat Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) yang menandakan bahwa semua rangkaian ritual Tiba Raki tidak menggunakan kata-kata atau mantra di luar ketentuan ajaran agama Islam. Para tokoh agama dalam hal ini Imam Masjid di Pulau Bungin selalu menjadi figur untuk berkonsultasi terkait ritual adat suku Bajo di Pulau Bungin. Jika ritual adat bertentangan di ajaran Islam, maka para tokoh agama akan menentang dan melarang praktiknya. Adapun Raki dalam prosesi ini merupakan sebuah penghormatan bagi ala...
Memang anjing didalam budaya Dayak bukan dianggap binatang yang suci tetapi bagi orang Dayak anjing menempati posisi khusus sebagai sahabat manusia. Sebagai contoh didalam kebudayaan Dayak Kenyah-Kayan mereka tidak akan berani memukul atau menendang anjing, bahkan ketika seekor anjing meninggal di dalam Lamin atau Betang, maka bangkainya akan didorong keluar menggunakan kayu untuk dihanyutkan di sungai dan tempat dimana anjing itu meninggal akan diberi pagar untuk beberapa hari untuk mencegah anak-anak melewatinya. Anjing merupakan sahabat setia yang menjaga pemiliknya dan menemani pemilinya berburu dan dianggap jika orang banyak memlihara anjing maka bisa mendapat banyak harta sebab anjing -anjingnya bisa membantu mendapatkan banyak buruan seperti babi, rusa dll. Oleh sebab itu didalam kepercayaan Kaharingan masa lalu apabila anjing ini meninggal maka dilakukan upacara khusus untuk memakamkan anjingnya yaitu suatu upacara Tiwah. Tiwah anjing dengan Tiwah manusia be...
Ritual Tiwah adalah upacara keagamaan suku dayak untuk oengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah dibuat. Sandung adalah tempat semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Ritual Tiwah ini sangatlah sakral bagi suku dayak. Pada acara ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah meninggal tersebut diantar dan diletakkan ke tempatnya, mereka melakukan banyak sekali ritual, tarian, suara gong dan masih banyak hiburan lainnya sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya. Ritual Tiwah memiliki tujuan yaitu untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menutu “Lewu Tatau” (Surga) sehingga bisa hidup tentram dan damai bersama Yang Kuasa. Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan atau penyempurna agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Tiwah ini sendiri juga memiliki tujuan untuk melepas ikatan status janda...
Percaya atau tidak percaya, ini adalah tradisi atau ritual mayat berjalan di Tana Toraja, Sulawesi yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Masyarakat disana percaya bahwa leluhur mereka yang telah meninggal sekalipun harus tetap dirawat. Mayat akan digali dan diangkat dari kuburnya, lalu didoakan, dibersihkan, dipakaikan baju, diarak keliling kampung dan kemudian dikembalikan lagi ke dalam peti. Kabarnya, mayat dapat berdiri tegak dan berjalan sendiri. Sumber: http://www.tentik.com/10-ritual-menyeramkan-yang-pernah-dipraktekan-di-indonesia/