Tiba Raki berasal dari dua suku kata, Tiba dan Raki. Tiba berarti membuang dan Raki berarti sesajen. Dalam konteks ini Tiba Raki dimaknai sebagai ritual pemberian sesajen dengan mengharapkan kesembuhan terhadap penyakit yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah SWT bahwa hanya karena Allah SWT penyakit tersebut dapat disembuhkan.
Ketua Adat Desa Pulau Bungin, Marsono, mengemukakan, bahwa selama prosesi Tiba Raki berlangsung, Sandro menggunakan mantra atau doa yang selalu diawali dengan kalimat Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) yang menandakan bahwa semua rangkaian ritual Tiba Raki tidak menggunakan kata-kata atau mantra di luar ketentuan ajaran agama Islam. Para tokoh agama dalam hal ini Imam Masjid di Pulau Bungin selalu menjadi figur untuk berkonsultasi terkait ritual adat suku Bajo di Pulau Bungin. Jika ritual adat bertentangan di ajaran Islam, maka para tokoh agama akan menentang dan melarang praktiknya. Adapun Raki dalam prosesi ini merupakan sebuah penghormatan bagi alam, bukan persembahan manusia kepada arwah leluhurnya yang bukan juga untuk menyembah arwah leluhurnya.
Di dalam pelaksanaannya, ritual Tiba Raki kerap kali menjadi daya pikat tersendiri. Seseorang yang bilamana telah berobat secara medis dan dinyatakan tidak memiliki kelainan yang disebabkan oleh suatu penyakit, selama itu pula ia tidak sembuh. Maka solusi terakhir yang dilakukan yakni mengobati dirinya melalui Tiba Raki. Selama ritual ini berlangsung, tidak terlepas dari adanya peran arwah yang diyakini sebagai penghubung si penyelenggara ritual kepada sang pencipta.
Adapun sejumlah bahan yang digunakan dalam melaksanakan ritual ini ini meliputi; beras empat warna, bente (gabah atau jagung yang disangrai menjadi popcorn), telur ayam kampung, buah kelapa, Leppi atau daun sirih yang telah dibentuk sedemikian rupa, mayang kelapa, Ayam 11 ekor (2 ekor ayam hidup, 5 dibakar dan 4 lainnya digoreng untuk dimasukan ke dalam Raki), damar Lilin, kain putih sert berbagai jenis jajanan tradisional.
Ada dua jenis Raki yang akan digunakan selama prosesi ini berlangsung. 1 Raki ditempatkan di darat dan 1 lainnya di laut. Khusus Raki yang ditempatkan di laut, nantinya harus tenggelam dan menghilang menuju ke suatu tempat yang bernama Limbangah atau Limbangang. Limbangah atau Limbangang adalah sebuah tempat penyeberangan yang keberadaannya gaib dan berada di Makassar. Raki yang hilang dan menuju Limbangah atau Limbangang diyakini sebagai salah satu bentuk kuasa Allah SWT.
Raki yang tidak diterima oleh arwah leluhur, maka tidak akan tenggelam dan akan mengapung selama mungkin. Hal seperti ini pernah terjadi karena kemungkinan bahwa si pemilik hajat dalam hal ini suami istri, salah satunya tidak satu kata untuk melakukuan ritual Tiba Raki. Atau pun mungkin isi Raki tersebut kurang atau dalam urutan penempatan isinya tidak berurutan.
Proses penempatan urutan isi Raki selalu diolesi minyak mandar dengan bacaan mantra yang selalu diawali dengan penyebutan nama Allah SWT di dalamnya. Isi Raki berupa, diantaranya beras empat warna (merah, hitam, putih dan kuning) bente, telur ayam kampung, leppi, rokok, 14 potong batang tebu, gamili, ubi, talas, jagung dan bahan pangan lainnya, nasi ketan empat warna (merah, hitam, putih dan kuning), buah kelapa, jajanan khas pulau Bungin, ayam goreng, gagaddu (kotak yang berisi bekal berupa beras, garam, uang logam rupiah, dan kacang ijo). Serta terakhir kue berbentuk buaya yang terbuat dari tepung beras.
Sedangkan Raki yang ditempatkan di darat, di atasnya ada Boko atau Penyu yang sudah diawetkan. Lalu sandro memasukan pisang susu di atas kue berbentuk buaya dan diikuti dengan pisang sabah. Setelah itu dipasangi mayang kelapa, di bagian kanan dan kirinya raki ditempatkan ayam panggang masing-masing 1 ekor.
Bagi ayam yang dibawa ke laut harus ayam berwarna hitam. Lalu Sandro Tiba Raki akan memasukan kiriman warga yang memiliki keturunan Karaeng ke dalam raki tersebut. Diikuti dengan lilin yang dipadankan bersama Dampi yang berisi daun sirih berbalut benang berwarna putih. Setelah itu barulah Raki ditutup menggunakan kain putih sepanjang 1 meter dan dibalut pula dengan janur kuning dan ditindih oleh kain bernama Lempu’ Pulangeh.
Setelah bahan-bahan Raki lengkap, barulah dibawa ke laut bersama ancak kecil sebanyak 2 buah bersama piring yang berisi minyak mandar, dan beras berwana hitam sesuai isi raki. Sandro pun akan memanggil si pemilik hajat ketika Raki hendak memasuki laut. Sandro menyampaikan piring yang berisi sejaji. Kemudian piring-piring itu diletakan di pintu depan rumah, di dapur dan diikuti penempatan ancak kecil di pinggir pantai. Ancak kedua di darat, digantung di atas pohon kayu. Ancak besar dibawa ke laut bersama Raki. Sebelum meletakan Raki, Sandro harus menyampaikannya kepada pemilik hajat.
Setelah prosesi di atas rumah selesai, dilanjutkan dengan pemberian Raki atau ritual inti Tiba Raki ke laut yang disebut Boa Bungin. Boa Bungin berada di Selat Pulau Bungin dan Pulau Kaung. Proses menuju ke Boa Bungin diiringi dengan permainan musik tradisional berirama Pakanjaran, Atun dan Ola-Ola. Setibanya di lokasi dimaksud, Sandro pun memberikan kode atau aba-aba untuk berhenti untuk menurunkan ancak besar berikut 1 ekor ayam ke dalam laut. Perjalanan pun dilanjutkan menuju titik kedua untuk menurunkan Raki. Penurunan Raki ditandai dengan pembuangan Bente ke dalam laut di mana Raki akan diturunkan. Tahap berikutnya, Sandro akan mengambil Belida (Kayu yang digunakan untuk menenun). Usai dua tahap pra pembuangan Raki, Sandro akan berkonsentrasi untuk memanggil arwah nenek moyang yang akan menerima Raki. Apabila arwah yang dimaksud sudah berada di sekitar sampan, maka 1 ekor ayam akan dipersembahkan terlebih dahulu, dilanjutkan dengan penurunan Raki. Setelah Raki diturunkan, di situ akan diketahui apakah Raki akan diterima atau tidak. Kalau Raki yang diterima, saat itu juga akan tenggelam dari permukaan menuju kedalam laut Boa Bungin. Artinya prosesi itu sudah sesuai dengan pemilik hajat. Begitu pula dengan Sandro yang tidak akan melepas Raki jika belum menyampaikan niat pemilik hajatan. Dalam prosesi ini, biasanya pemilik hajat meniatkan kesembuhan dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis, juga sebagai ungkapan terimakasih atas rejeki yang diberikan sang pencipta dan untuk sesuatu atau niat besar lainnya.
Setelah Raki diterima oleh penjemputnya, Sandro pun segera melepas Raki. Dalam hal ini, ada dua yang menerima Raki. Mereka berbagi tugas, satunya sebagai penjemput dan satunya lagi sebagai pengantar Raki. Wujud kedua arwah ini hanya bisa dilihat oleh Sandro, keduanya berwujud manusia. Usai berdialog atau berkomunikasi dengan penerima Raki, Sandro pun melepas Raki ke dalam laut. Dalam sekejap mata Raki itu akan hilang.
Berakhirnya proses penurunan Raki ke laut, ditandai dengan pemberian Dampi dan benang putih ke kening pemilik hajat. Sandro akan membuka Dampi lalu menandai dengan mengecap kening, dada dan bawah leher pemilik hajat. Adapun benang pembungkus Dampi akan diikatkan ke lengan kanan pemilik hajat. Benang putih ini juga berfungsi sebagai gelang.
Di malam hari usai pemberian Raki ke laut, Sandro Raki mempersiapkan air untuk dimandikan kepada pemilik hajat. Proses penyampuran air mandi tersebut selalu diiringi oleh irama gendang berupa irama Pakanjaran, Ola-Ola dan Atun. Penyampuran air mandi ini, diawali dengan pengambilan minyak mandar secukupnya kemudian dihadapkan ke arah Gaukah atau wadah utama ritual berupa pohon pisang susu bersama buah pisang sabah, dan pisang katingan. Lalu minyak dibawa ke gentong yang berisi air untuk memandikan pemilik hajat dengan menggunakan mantra tertentu. Diikuti dengan pengisian air ke gentong sampai penuh. Jika gentong sudah penuh dengan air, maka dimaksukanlah satu butir telur ayam kampung, Leppi seba (daun sirih yang dilipat), menyalakan damar lilin. Usai melakukan semua tahapan itu, Sandro kemudian menunjuk keris adat ke dalam air di dalam gentong dengan membaca mantra. Sandro juga memasukan bunga tujuh warna ke dalam air misalnya daun Pandan, bunga Mawar dan bunga Kenanga. Mayang buah Pinang dan daun Paselle juga tidak ketinggalan menjadi bagian dari air tersebut. Setelah semua bahan-bahan itu lengkap dimasukan ke dalam gentong. Barulah gentong ditutup dengan kain putih berukuran 1 meter. Sandro selanjutnya menyalakan damar lilin sebanyak tujuh batang yang diputar ke atas air, tiga kali putaran ke arah kanan dan tiga kali putaran ke arah kiri sembari membaca mantra.
Keesokan harinya, prosesi memandikan pemilik hajat pun dimulai. Pemilik hajat ditempatkan di sebuah wadah bernama Bobokoh dilapisi selembar daun pisang. Di depan kaki pemilik hajat ditempatkan sebilah kapak dan dibelakang pemilik hajat didepankan kayu Belida. Kemudian pemilik hajat yang akan mandi diminta untuk mengeluarkan telur, mayang dan daun paselle dari dalam gentong yang telah diisi semalam sebelumnya. Setelah tiga bahan itu dikeluarkan, lalu Sandro mengambil keris bersama telur dan ditempatkan di atas kepala pemilik hajat sambil membaca mantra dan memutarinya sebanyak tiga kali putaran dari arah kanan ke kiri dan dari arah kiri ke kanan. Usai memutari kepala, Sandro melempar telur itu ke depan pemilik hajat. Hal itu dimaksudkan sebagai pembuang semua hal-hal yang tidak baik. Lalu pemilik hajat pun dimandikan dengan segera.
Setelah air pemandian habis terpakai, gentong kembali diisi air tujuh jenis campuran. Berupa, air Sumbawa (Sandro meminta air kepada warga keturunan suku Samawa), air Mandar, air Selayar, air Bugis, air Makassar, air Limbangah (air asin/air laut) dan air keturunan pemilik hajat.
Setelah pemilik hajat selesasi mandi, kemudian Sandro mengambil mayang pinang dan daun paselle untuk diputari sebanyak tiga kali ke kanan dan ke kiri di atas kepala pemilik hajat. Sandro mengakhirinya dengan meniup kening pemilik hajat. Adapun pakaian pemilik hajat yang digunakan selama prosesi mandi harus disedekahkan kepada orang lain oleh Sandro.
Usai memandikan pemilik hajat, Sandro melanjutkan pekerjaannya dengan memberikan bantan atau cap berwana kuning yang terbuat dari bedak tradisional bercampur kunyit, dengan menggunakan sebilah keris adat. Pemberian bantan ditempatkan di kening atas, jidat kiri dan kanan, di bawah leher, dagu bagian dalam kiri dan kanan, siku bagian dalam atas dan bawah kiri dan kanan, pergelangan tangan kiri dan kanan luar dan dalam, lutut kiri dan kanan luar dan dalam, pergelangan kaki kiri dan kanan.
Usai prosesi menandikan tersebut, Sandro membelah buah kelapa yang artinya bahwa berakhirlah semua Pamali atau pantangan yang melekat pada diri Sandro dan pemilik hajat selama prosesi ritual Tiba Raki. Tahapan ini sekaligus menandai berakhirnya semua rangkaian ritual Riba Raki. Selanjutnya, tergantung pemilik hajat untuk menggelar joge atau tarian untuk mendatangkan arwah nenek moyang. Jika pemilik hajat menyepakatinya, maka Sandro akan melaksanakanya. Jika dirasa tidak dibutuhkan maka tidak akan dilaksanakan. Karena jika pun tidak dilaksanakan tidak akan akan berpengaruh terhadap semua rangkaian ritual Tiba Raki.
Sumber:
https://www.kabarsumbawa.com/2014/02/11/tiba-raki-sebuah-tradisi-penghormatan-bagi-alam-sekaligus-ritual-pengobatan-di-pulau-bungin/
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...