Dari berbagai sumber yang telah ditelusuri dan digali asal usul desa Bojong dimulai dari abad ke – 18 atau jaman kerajaan Mataram atau lebih tepatnya pada waktu perang Diponegoro melawan Belanda. Ketika jaman perang antara P. Diponegoro melawan Belanda, P. Diponegoro menggunakan taktik gerilya yang bermarkas di Gua Selarong , dan markas tersebut digempur oleh Belanda yang mengakibatkan P Diponegoro dan prajuritnya lari tunggang langgang berpencaran . Dalam pelarian tersebut, daerah yang dituju sebagai tempat pelarian adalah daerah sekitar Selarong sampai juga ke barat sungai Progo. Pada waktu itu P Diponegoro dan pengikutnya terbujung – bujung dari kejaran Belanda dan karena kecapaian maka berhentilah P Diponegoro di suatu tempat. Untuk mengenang kejadian tersebut maka tempat itu kemudian dinamakan Bojong yang artinya dikejar-kejar. Asal Usul ( Legenda ) Desa Bojong Cikal bakal desa Bojong sendiri adalah dari kisah Kyai Tirto Kusumo at...
(Mohon maaf jika cerita tidak akurat dan lengkap, didengar dari narasumber seorang warga Slawi, yang setiap malam berjualan Ronde di bilangan Ruko Slawi). Dahulu kala di sekitar Lebaksiu, tinggal seorang pencari ikan yang tinggal dengan istrinya di desa tepi sungai Gung. Suatu hari lelaki itu, yang dikenal dengan Pak Rumpung, seperti biasa pergi ke sungai Gung untuk mencari ikan. Hari itu belum banyak ikan di dapat. Ketika menyusuri sungai, ditemukan sebutir telur. Tidak diketahui itu telur apa. Dikiranya telur ayam yang mungkin secara tidak sengaja bertelur di tepi sungai. Di bawa pulang telur itu, ketika sore harinya dengan gembira, karena selain mendapat ikan, dia mendapat pula sebutir telur Setibanya dirumah diceritakan tentang telur yang ditemukannya kepada istrinya, lalu dia meminta istrinya agar merebus telur untuk sarapan besok harinya. Pagi harinya, sebelum mencari ikan, Pak Rumpung sarapan sendirian kartena istrinya telah lebih dulu berangkat ke sawah. Ketika s...
Naskah dengan kode AS 7 dan berjudul Pancakaki ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa. Naskah ini berjumlah 830 halaman. Wujud tulisan berbentuk prosa yang ditulis pada kertas folio bergaris, dengan ukuran naskah 34,5 x 22 cm. Isi naskah menceritakan perkawinan Bambang Pancadriya dengan Endhang Sonyawati, juga mengisahkan cerita tentang Resi Sabdatama dan lahirnya Resi Bawana. Naskah ini bernomer Rol 439.09 dan tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Sumber: http://aksakun.org/
Sunan Amangkurat I dan wadya balanya memasuki suatu wilayah, dimana ia dan rombongannya dihadapkan pada suatu kejadian yang amat serius dan sangat membingungkan. Hal ini terjadi setelah rombongan masuk sebuah desa bernama “DAHA”.[3] Tanpa sebab musabab yang jelas, mendadak kuda penarik kereta kencana yang tidak lama telah melewati masa kritis, tiba-tiba terkulai lemas dan mati. Bukan main sedihnya hati Gusti Sunan, terlebih Kyai Pancurawis yang merasa telah menyatu dengan kuda tersebut. Beberapa prajuritnya juga hilang tak berbekas seperti lenyap ditelan bumi. Dengan penuh rasa haru, dikuburkannyalah kuda itu di suatu tempat yang sekarang bernama KARANGJATI. [4] Agak lama Gusti Sunan dan rombongan berada di tempat tersebut. Ia telah mengalami beberapa peristiwa yang mengguncangkan hatinya. Ia sadar, jika ia telah lalai dalam menjalankan amanat sebagai Sultan Mataram sesuai dengan pesan dan petuah ayahanda dan kerabat keluarga kasultanan Mataram. Ia tidak memiliki siapa...
Naskah Gatholoco berisi teks ajaran mistis yang bernuansa anti-Islam. Ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa, menggunakan tinta warna hitam di dalam ruang tulis yang berukuran 11,2 cm. Naskah bertemakan piwulang (ajaran) dalam bentuk macapat sebanyak 18 baris per halaman. Jumlah keseluruhan halaman naskah yaitu 59 halaman yang berukuran 16,5 x 21,5 cm. Naskah terawat dengan baik, meski begitu naskah aslinya sudah mengalami kerusakan yang cukup parah pada halaman-halaman awalnya. Terdapat garis-garis tipis dalam naskah yang ditulis menggunakan pinsil secara horisontal dan vertikal. Cover jilid hardcover yang mungkin dibuat masa sekarang. Dan terdapat stempel “Gouvernement Eigendom” juga tanggal dan tanda tangan yang belum tentu itu adalah tanda tangan si penulis/penyalin. Naskah ini merupakan salinan naskah dari Kendal. Penyalinan diprakarsai oleh Bataviaasch Genooschapt di Batavia pada 11 Januari – 18 Januari 1888. Naskah ini pada awalnya adalah milik Dr....
Naskah berjudul Serat Ajipamasa ini memiliki ketebalan 305 halaman. Ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa, berbentuk prosa, dengan ukuran halaman 21 x 33 cm dan ditulis pada kertas folio bergaris. Naskah ini disimpan di Perpustkaan Nasional RI dengan kode ZPG 21 dan nomer Rol 501.01. Naskah ini adalah karya R.Ng. Ranggawarsita yang disalin oleh R.M. Soemahatmaka antara tanggal 13 Maret s/d 4 April 1925, di Surakarta. Teksnya menceritakan kisah Prabu Kusumawicitra yang melakukan perjalanan dari Negeri Kediri sampai ke Negeri Pengging Wikaradya yang merupakan lingkungan Negeri Dwarawati. Waktu perjalanan tersebut dari suryasangkala 896 sampai 929, yang bertepatan dengan candrasengkala 923 sampai dengan 967. Sumber: http://aksakun.org/
Cerita rakyat merupakan dokumen kebudayaan yang dapat memberikan gambaran atau merefleksikan adat-istiadat dan tata kehidupan masyarakat. Sebuah cerita rakyat dapat mengandung berbagai macam nilai yang dapat menjadi panduan hidup masyarakat dalam berperilaku, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang akan mengarah pada pendidikan budi pekerti, sikap hidup, dan tata perilaku yang susila sehingga mampu membangun watak manusia yang luhur dan mulia (Santosa, 2010:141--142). Setiap tempat di Indonesia memiliki kebudayaan sendiri dan umumnya juga memiliki cerita rakyatnya sendiri. Hal itu disebut legenda setempat, yaitu cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topografi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, apakah berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984:75). Legenda setempat memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam rangka membangun karakter masyarakat. Jika mengingat masa kini, hadirnya gerakan globalisasi yang m...
Di sini ada dua versi sejarah Gili Tugel 1. Berkaitan dengan perang tanding sampyuh Tumenggung Martoloyo dengan Adipati Marto Puro (1670-an), pada masa Sunan Amangkurat Ing Alaga/ Sunan Amangkurat II (Putra dari Sunan Amangkurat/Sunan Tegalwangi/Sunan Tegalarum). Kejadian pada sumber versi yang lain terjadi setelah Sunan Amangkurat I telah mangkat. 2. Berkaitan dengan masa penentangan Bupati Kaloran/ R. Panji Cakranegara terhadap kebijakan kerja paksa pembuatan jalan Daendels tempat tersebut adalah pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro – AR. Hakim dan Sudirman di Kota Tegal. Pertigaan jalan tersebut merupakan jalur Tegal – Slawi dan Tegal – Jakarta. Sepintas kilas pertigaan itu seperti tidak ada yang istimewa. Tiap hari perlintasan tersebut disibukan berbagai jenis kendaraan yang lewat di situ. Juga pada malamhari, tak sedikit di trotoar sebelah Timur dan Barat menjadi tempat warung lesehan temporer teruta...
Seperti Kota Tegal, ternyata Slawi pun sudah berumur ratusan tahun. Awal riwayatnya sezaman dengan kehidupan tokoh Ki Gede Sebayu yang berhasil mendirikan Tetegal pada awal tahun 1600-an. Dikisahkan bahwa salah seorang anak putri Ki Gede Sebayu yang bernama Nini Dwijayanti memang terkenal cantik, cerdas, dan cekatan. Kegemarannya menunggang kuda membikin banyak orang semakin kagum. Konon, kalau Nini Jayanti sedang di atas pelana kuda kesayangannya akan tampak seperti bidadari yang turun dari langit biru. Jadi, wajarlah bila namanya populer di kalangan masyarakat. Wajar juga banyak pemuda atau perjaka yang ingin menyuntingnya. Ki Gede Sebayu sering didatangi utusan yang menanyakan keadaan NIni Jayanti. Ada yang berterus terang ingin melamar, ada juga yang hanya sekadar mencari-cari keterangan. Pendek kata, Ki Gede Sebayu harus melayani banyak orang yang sama-sama berharap dapat menyunting Nini Jayanti. Ternyata hal itu menimbulkan kerepotan sebab keputusan bukan di tangannya...