7.617 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Klenteng Tjoe Hwie Kiong
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Semula Lasem merupakan pelabuhan yang ramai, dan pernah menjadi Kabupaten Lasem. Namun, keberadaannya mula digantikan oleh Rembang, setelah VOC memindahkan pelabuhan dan ibu kotanya ke Rembang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi perlawanan yang dilakukan oleh orang Tionghoa pada waktu.   Seiring itu, banyak juga orang Tionghoa yang juga berpindah ke Rembang untuk mengadu nasib di Rembang yang bergeliat ekonominya. Seperti halnya dengan Lasem, di Rembang juga masih banyak ditemui rumah dengan arsitektur tradisional Tionghoa, dan kota ini juga mempunyai dua klenteng kuno. Salah satunya adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Pelabuhan No. 1 Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini menghadap ke laut atau muara Sungai Karanggeneng.   Berdasarkan catatan sejarah, klenteng ini dibangun pada tahun 1841 oleh  Kapitein Lie. Awalnya klenteng ini didirikan di Desa Jangkungan, K...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Klenteng Tjoe An Kiong
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Satu lagi klenteng tua yang berada di Lasem yang akan saya kunjungi setelah  Klenteng Gie Yong Bio  dan  Klenteng Poo An Bio . Klenteng ketiga ini berada tak jauh dari jalan Pantai Utara (Pantura) Rembang, dan merupakan klenteng yang tertua yang berada di Lasem. Namanya adalah Klenteng Tjoe An Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Dasun No. 19 Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara rumah kuno Lawang Ombo atau sebelah timur Sungai Lasem.   Banyak orangtua setempat mengatakan bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke-15, tapi tidak ada bukti tertulis mengenai hal itu. Hilangnya bukti awal pendirian sebuah klenteng disebabkan karena klenteng (terutama di daerah pantai utara Jawa) sering mengalami berbagai peristiwa ‘jatuh bangun’, akibat pertikaian sosial. Sehingga sebuah klenteng sering rusak atau dirobohkan kemudian dibangun kembali setelah ke...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Klenteng Poo An Bio
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Klenteng tua kedua yang saya kunjungi di Lasem adalah Klenteng Poo An Bio. Klenteng ini terletak di Jalan Karangturi VII No. 13-15 Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah timur Gedung Balai Kedamaian atau Vihara Maha Karuna.   Klenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1740. Pada saat itu, permukiman orang Tionghoa yang semula berada di sekitar Sungai Lasem dan sekitar jalan arteri barat-timur, berkembang dan terus meluas ke selatan sampai Sungai Kemendung, Desa Karangturi. Di sebelah utara Sungai Kemendung inilah, Klenteng Poo An Bio didirikan karena keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari komunitas Tionghoa.   Sebuah kebiasaan para moyang orang Tionghoa yang merantau ke luar negeri, mereka selalu membawa patung Kong Tik Cun Ong. Orang Tionghoa percaya, Kong Tik Cun Ong adalah dewa yang suka melindungi orang yang sedang merantau. Patung itu tidak hanya disimpan tapi dipuja. Termasu...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Klenteng Gie Yong Bio
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Pulang dari Surabaya ke Solo mencoba jalur Pantura memang cukup jauh, namun juga mengasyikkan. Lelah, ya jelas! Tapi lelah itu terobati manakala menemukan bangunan  lawas  yang bisa ditulis untuk mengisi blog. Kali ini pengin ke Lasem.   Pada waktu memasuki Lasem, suasana Tiongkok memang sudah terasa. Bangunan khas Tiongkok banyak ditemui di Lasem hingga gang-gang kecil. Pantas bila Lasem ditetapkan sebagai Kota Pusaka di Kabupaten Rembang karena memiliki kekhasan bangunan Tiongkok tersebut, dan ada juga yang menyebutnya dengan  Le Petit Chinois  atau Tiongkok kecil.   Seperti biasa, bila memasuki kawasan dengan nuansa Tiongkok, saya akan menanyakan keberadaan klenteng. Di Lasem, klenteng yang pertama kali mudah ketemu adalah Klenteng Gie Yong Bio karena dari tepi jalan raya arah Rembang (dulu dikenal sebagai  Grotepostweg  – Jalan Raya Pos) terdapat papan penunjuknya. Klenteng ini terletak di Jalan Babagan No. 7 Desa Bab...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Babad Giyanti
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakarta dari Kartasura karena dibakar oleh orangTionghoa, maka Pangeran Mangkubumi pun keluar dari keraton dan marah sampai memberontak. Sebab tanah bengkoknya dikurangi banyak sekali. Maka berperanglah beliau melawan keraton Surakarta. Selama peperangan ini beliau dibantu oleh banyak pangeran dan bangsawan lainnya, antara lain Pangeran Samber-Nyawa (Mangkunegara I). Lalu Pangeran Samber Nyawa dibuat panglima perang.   Dalam peperangan ini, Pangeran Mangkubumi menaklukkan daerah-daerah di sebelah barat Surakarta, di daerah Mataram. Selanjutnya Pangeran Sambernyawa malahan bentrok dengan Pangeran Mangkubumi. Terjadinya bentrok ini karena kedua nya sama-sama ingin mendapatkan supremasi tunggal kedaulatan yang tidak terbagi. Sambernyawa menjadi pesaing yang serius dari Mangkubumi dalam mendapatkan duku...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Kur’an Kajawekaken
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Kur’an  Kajawekaken merupakan terjemahan atau tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa, yang dibuat oleh Bagus Ngarpah bersama dengan Ng. Wirapustaka sebagai editornya. Kemudian ditulis dalam tulisan Jawa oleh Suwonda yang dimulai pada 30 Juni 1905 di Surakarta.   Kur’an ini terdiri dari 3 jilid dan naskah ini merupakan jilid pertama yang memuat Surah al Fatihah hingga Surat Yusuf.   Sumber: Museum Radyapustaka Documentary Board  

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Cariyos Dajjal Utawi Kadis Kawandasa
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Naskah Hadist ini merupakan tulisan kuadratik tua di Kraton Surakarta, ditulis dalam aksara Jawa namun dengan bahasa Arab dan dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa pada tiap barisnya. Naskah ini ditulis di Surakarta pada tahun 1845 sebanyak 45 halaman dengan ukuran naskah 31 x 20 cm.   Isi naskah tersebut yakni tentang perkataan Abdullah kepada Nabi Muhammad tentang hari kiamat yang didahului dengan kelahiran Dajjal-Laknat. Kemudian diskusi tentang 40 tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi. Selain itu, juga terdapat penjelasan arti tulisan pada tubuh manusia, serta bagaimana mengobati orang yang kesurupan dengan membaca tulisan tersebut.   Sumber: Kekunaan.blogspot.com  

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Legenda Ki Ageng Butuh
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnyapun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan BUTUH. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat disekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Dia adalah seorang ki ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakan sebenarnya Ki Ageng Butuh itu. Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Pangeran Handaya Ningrat yang menetap di daerah pengging dengan merubah namanya menjadi Ki Kebo Kenanga. Ia hidup bersama istrinya tercinta. Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta trampil dalam bidang...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Legenda Gunung Kemukus
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

akam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah, dianggap bertuah. Tiap hari makam ini didatangi banyak orang. Selain ziarah, Anda bisa mengukur kekuatan jantung dengan menapaki anak tangga menuju makam. Gunung Kemukus (GK) terletak di Kabupaten Sragen. Bisa dicapai dengan menggunakan bis, naik dari terminal Tirtonadi Solo, jurusan Solo-Purwodadi, lalu turun di Barong. Dari situ, tinggal naik ojek menuju puncak bukit. "Sekarang ini Waduk Kedungombo lagi kering. Jadi bisa langsung ke lokasi makam Pangeran Samudro. Tidak perlu menyeberang pakai perahu," kata Surti, penjaja bakso di areal parkir mobil kawasan objek wisata GK. Namun, bila datang ke sana pada musim penghujan dan air waduk sedang penuh-penuhnya, Anda harus menyeberang dengan perahu motor. GK sendiri merupakan kompleks makam Pangeran Samudro dan ibunya, Ontrowulan. Kompleks ini tepat berada di puncak bukit setinggi 300 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini terdiri dari bangunan utama berbentuk ruma...

avatar
Deni Andrian