Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Sragen
Legenda Ki Ageng Butuh
- 14 Juli 2018

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnyapun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan BUTUH. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat disekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Dia adalah seorang ki ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakan sebenarnya Ki Ageng Butuh itu.

Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Pangeran Handaya Ningrat yang menetap di daerah pengging dengan merubah namanya menjadi Ki Kebo Kenanga. Ia hidup bersama istrinya tercinta. Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta trampil dalam bidang apa saja termasuk bidang pertanian, pemerintahan lebih-lebih bidang keagamaan yakni agama Islam. Yang mana beliau adalah salah satu murid kesayangan dari Syeh Siti Jenar. Karena kepiawian beliau dalam memimpin daerah dan banyaknya pengikut ajaran agamanya. Maka Sultan di Demak Bintoro khawatir bilamana menjadi pesaingnya di dalam memerintah ditanah Jawa. Kemudian Sutan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menghadapkan Kebo Kenanga di Keraton Demak, namun tidak berhasil. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus Sunan Kalijaga untuk mendatangi kembali Ki Kebo Kenanga di Pengging di temani oleh Sunan Kudus. Dengan mandat Kanjeng Sultan, ”Bilamana Kebo Kenanga tidak mau sowan ke Demak maka Purbawasesa di tangan kedua Sunan tersebut” ( di izinkan untuk membunuhnya ).

Dalam pertemuan itu terjadi dialog yang alot antara Ki Kebo Kenanga, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, sampai-sampai Sunan Kudus sempat marah mengancam untuk membunuh Ki Kebo Kenanga namun dihentikan oleh Sunan Kalijaga. Akhir dari dialog itu di sepakati Ki Kebo Kenanga tidak dihukum melainkan dia diminta untuk mengasingkan diri pergi dari bumi perdikan dengan menghilangkan nama sebenarnya. Tetapi Ki Kebo Kenanga punya permintaan bahwa bayi yang sedang didalam kandungan istrinya kelak kalau sudah besar harus menjadi seorang Raja di tanah Jawa. Permintaan tersebut disetujui oleh Sunan Kalijaga dan ia berjanji dia sendiri yang akan mendidik dan membimbing anak Ki Kebo Kenanga hingga menjadi Raja. Beginilah dialog antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kalijaga :

Sunan Kalijaga : Ngger..... Kenanga, hidup itu harus adil dan bijaksana..... Begini bagaimana kamu selamat bersama keluargamu sedang Sultan Demak juga tidak malu, kami berdua mempunyai rencana buat angger.
Kebo Kenanga : Maaf..... Kanjeng Sunan Kalijaga sekiranya jalan keluar itu baik untuk semuanya hamba akan melaksanakannya.
Sunan Kalijaga : Begini..... jika kamu untuk sementara mengasingkan diri, masalah laporanku ke Demak Bintoro nanti aku dan Sunan Kudus yang akan mengaturnya. Dan bila kamu punya permintaan kami berdua akan membantu meluluskan, angger.....
Kebo Kenanga : Baiklah Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus jika saya harus mengasingkan diri dari bumi pengging, saya Kebo Kenanga memohon agar kelak keturunan saya dapat menjadi raja dan menurunkan raja di tanah Jawa ini.
Sunan Kalijaga : Allahu Akbar..... ya..... yaa..... aku berjanji untuk mengantarkan putramu kelak menjadi Satria Pinunjul dan dapat menjadi raja di tanah Jawa. Tetapi aku minta selama engkau mangasingkan diri mohon untuk merahasiakan jati dirimu yang sebenarnya sebelum putramu kelak menjadi raja.

Kemudian Ki Kebo Kenanga beserta istri dan murid-muridnya yang setia mengasingkan diri meninggalkan perdikan Pengging menuju ke arah timur tepatnya di dukuh BUTUH, Desa Gedongan termasuk wilayah Sragen yang letaknya di Kecamatan Plupuh.

Ketika Ki Ageng Pengging ( Ki Kebo Kenanga ) menetap di daerah tersebut sambil melanjutkan mengajar ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain pada murid dan masyarakat setempat, sesuai dengan kesepakatan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ia sengaja menyembunyikan jati dirinya dan berganti nama KI AGENG BUTUH.

Sumber: http://perpustakaansragen.blogspot.com/2010/03/legenda-ki-ageng-butuh.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker