Keumaweuh adalah salah satu tradisi ketika ada ibu hamil yang kandungannya sudah berusia 7 bulan yang mengandung anak pertama. Keumaweuh dilakukan oleh pihak keluarga suami untuk membawakan makanan-makanan lezat dan berprotein serta buah-buahan untuk si istri(makan besar). Tujuannya adalah mengaharapkan si anak dapat lahir dengan selamat dan sehat. Dengan adanya keumaweuh ini kedua belah pihak keluarga bisa mempereratkan lagi tali persaudaraan.
Jika kita menelusuri lebih jauh mengenai ribuan kuliner khas sunda, kita dapat menemukan bahwa jajanan pasar sunda menjadi suatu bagian besar dari budaya tersebut. Diantara berbagai kue terkenal khas sunda seperti rengginang dan misro, ada kue opak. Zaman sekarang kue opak yang dulu menjadi bagian tiap anak anak muda jawa barat sudah kurang dikenal dan hanya menjadi bagian nostalgia generasi tua. Padahal kue opak ini sudah merupakan bagian yang khas selama bertahun tahun dalam budaya jawa barat. Kue opak ini memiliki berbagai jenis bergantung pada bahan utamanya. Ada opak ketan dan opak singkong. Opak ketan yang merupakan khas jambang kulon, sukabumi jawa barat memiliki rasa gurih dan renyah. Opak ketan juga terbagi antara yang asin dan yang manis atau disebut opak beureum dan terbuat dari beras ketan. Sedangkan, Opak singkong atau disebut juga opak sampeu yang terbuat dari parutan singkong dan bumbu bumbu seperti cabai merah dan garam. Sejarahnya, opak pertama kali dikenal...
Di daerah Sumatera Barat ada jenis ikan yang diberi nama "Ikan Larangan". Disebut ikan larangan, karena konon ceritanya siapa yang memakan ikan tersebut akan terkena musibah, entah itu sakit aneh, perut menjadi buncit, ataupun musibah lainnya. Tapi sebenarnya ikan ini bisa dimakan, dengan biasanya diambil secara bersamaan, dengan doa bersama yang disertai upacara. Menurut informasi yang dihimpun, dulunya di sungai tempat ikan larangan itu berada, ada seseorang yang sakti memberi ilmu teluh kepada bibit-bibit ikan yang ada di sini. Hal itu dilakukannya agar tidak ada yang berani mencurinya. Namun orang yang menaruh teluh pada ikan-ikan tersebut meninggal tanpa mencabut teluh itu terlebih dahulu. Ceritanya selalu ada kejadian aneh yang kerap kali terjadi di sana seperti ada yang kesurupan karena membuang sampah di sungai tersebut. Namun beberapa orang mengatakan bahwa itu hanya mitos. Alasan utama diadakannya batasan dan larangan pengambilan itu adalah untuk menjaga popul...
Asal Mula Marga Siboro Toga Simamora memiliki 3 orang anak yang diketahui oleh umum, yaitu Purba, Manalu, Simamora Debata Raja. Tetapi pada versi lain, bahwa ada anak Toga Simamora yang lain yang bernama Rambe, yang kemudian mengasingkan diri kedaerah Tapanuli Selatan. Dan marga Debata Raja sendiri bukanlah anak kandung dari Toga Simamora, ia adalah anak dari Marga Manurung, yang pada saat itu ibunya terancam kehidupannya, yang kemudian ditolong oleh Toga Simamora, dan anak itu dipelihara, dan kemudian diangkat menjadi anak. Toga Purba memiliki 3 orang putra, yaitu Pantomhobol, Sigulangbatu, dan Parhorbo. Nah, Dari keturunan Oppung Sigulangbatu, maka lahirlah Marga Siboro yang disebut DATU PARULAS (karena ia mampu membahas hal yang belum diketahui) PARULTOP (karena memang keahlian dan pekerjaannya adalah marultop ) Apakah Siboro adalah orang Simalungun? Pekerjaan Siboro I yang selalu berkelana berburu, telah menuntun hidupnya hingga sampai ke tanah Haranggaol. dan kemudian i...
Punden Makam Mbah Poncowati Punden berupa makam yang dikenal dengan nama Punden Makam Mbah Poncowati terletak di tengah-tengah area persawahan di Desa Juwah, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penduduk sekitar mengatakan bahwa makam Mbah Poncowati ini terletak di bawah batang pohon kamboja yang tumbuhnya melintang di atas makam, sehingga makam tersebut tertutupi pohon kamboja. Mbah Poncowati ini dikenal sebagai saudara dari Mbah Poncotoyo yang pundennya ada di kramatan atau makam yang berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Menurut legenda penduduk setempat, pada jaman dahulu ada empat pendekar, yaitu Raden Poncotoyo, Raden Poncowati, Raden Poncolegowo, dan Raden Anengpati yang membuka hutan untuk dijadikan pemukiman atau desa. Namun keempat pendekar ini kemudian berpisah untuk membuka hutan di daerah yang lain. Ketika terjadi peperangan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830 dan akhirnya Sang Pangeran kalah akibat pe...
Tugu Siagian Tata kekerabatan pada suku Batak didasarkan pada filsafat “Dalihan Na Tolu”, yaitu tiga pilar kekerabatan yang mendasari seluruh acara budaya Batak. Yang pertama “Somba mar hula-hula” yaitu harus hormat yang tinggi kepada pihak besan yang menjadi mertua anak kita. Pihak besan akan selalu diberikan tempat duduk paling hormat dalam setiap ada Batak, dan mereka akan dimintai pandangan-pandang bijak atas acara-acara yang akan dilakukan. Pilar kedua “Manat Mardongan tubu” yaitu harus hati-hati, cermat dan tidak gegabah dengan teman satu marga, karena seringnya satu kampung sehingga banyak konflik kepentingan. Pilar ketiga “Elek Marboru” yaitu harus banyak empati dengan pihak boru, yaitu marga yang menjadi suami dari boru kita. Pihak boru ini menjadi pendukung pembantu dalam banyak acara-acara orang Batak. Setiap acara orang Batak dilaksanakan oleh kelompok marganya (Pilar kedua) bukan pers...
Caca burane (atau sering disebut juga caca burange) merupakan salah satu permainan dari tanah Sunda yang dimainkan dengan cara dinyanyikan atau dalam bahasa Sunda kawih. Permainan ini dilakukan minimal oleh 3 orang tapi lebih baik jika dilakukan banyak orang. Untuk melakukan permainan ini dibutuhkan 1 orang yang berperan sebagai penebak yang akan membungkuk di tengah peserta lain, sedangkan peserta lain akan menyanyikan lagu dan menyembunyikan barang yang di kepal di tangan mereka. Ketika bernyanyi, peserta akan menyembunyikan barang di salah satu tangan peserta. Setelah lagu berakhir ,penebak yang membungkuk akan bangun dan menebak dimana barang itu di sembunyikan. Jika penebak benar, maka orang yang menyembunyikan harus bergantian menjadi penebak. Sedangkan jika penebak salah, maka ia tetap akan menjadi penebak. Lirik lagu permainan : Caca burané Burané tali gobang Gobang pancarané Anak gajah bebayuné Jing gojing l&eacut...
Pantai Ngliyep adalah salah satu pantai yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Pantai Ngliyep yang terletak di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Jawa Timur ini lebih dikenal dengan nama "Pantai Selatan" yang penuh dengan legenda tentang Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul sendiri adalah dewi penjaga Pantai Selatan. Konon, Nyi Roro Kidul merupakan seorang putri kerajaan yang cantik jelita bernama Dewi Kadita. Namun, Raja Munding Wangi, ayah Dewi Kadita menginginkan anak laki-laki. Akhirnya sang raja menikahi Dewi Mutiara untuk mewujudkan keinginannya. Dewi Mutiara menginginkan putranya menjadi raja dan mengusir Dewi Kadita. Hal tersebut mengundang kemurkaan sang raja. Dewi Mutiara pun menempuh cara lain untuk mengusir Dewi Kadita, yaitu dengan mendukuni Dewi Kadita sehingga tubuhnya penuh dengan bisul dan berbau busuk. Raja pun menganggap kehadiran Kadita akan membawa dampak buruk bagi kerajaannya sehingga ia mengirim putrinya ke luar negeri. Dewi Kadita pun pergi seor...
Pupuh adalah salah satu jenis kesenian tradisional khas Sunda, merupakan lagu yang terikat oleh aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan tersebut antara lain jumlah baris ( padalisan) dalam setiap paragraf, jumlah suku kata dalam setiap baris, serta bunyi vokal terakhir dalam setiap baris dalam satu paragraf. Pupuh Sunda berjumlah kurang-lebih 17 jenis, dengan aturan dan makna serta fungsi yang berbeda-beda dalam setiap jenisnya. Ada yang berisi humor dengan fungsi menghibur seperti pupuh balakbak, pupuh magatru yang berisi kesedihan, pupuh asmarandana yang berisi pengingat, dan lain-lain. Pada pupuh Pucung, aturan yang berlaku adalah sebagai berikut; a. baris pertama berjumlah 12 suku kata dengan vokal akhir (u) b. baris kedua berjumlah 6 suku kata dengan vokal akhir (a) &n...