Lumpang dan alu adalah sepasang alat dapur tradisional yang hingga kini masih banyak dijumpai pada masyarakat Jawa. Pada awalnya keberadaan alat dapur lumpang-alu ini lebih banyak dipakai untuk menumbuk padi menjadi beras, namun lambat-laun fungsinya berubah menjadi penumbuk beras menjadi tepung. Itulah salah satu alih fungsi yang terjadi pada alat dapur tersebut. Alat dapur yang sudah berumur ratusan tahun itu juga digunakan oleh suku-suku lain di Nusantara ini. Pada umumnya, alu terbuat dari kayu, seperti kayu jati, kayu nangka, atau kayu jenis lainnya yang kuat, sedangkan lumpang terbuat dari kayu, batu atau besi. Lumpang yang terbuat dari kayu atau batu berpasangan dengan alu yang terbuat dari kayu. Sementara lumpang besi, biasanya alunya juga terbuat dari besi. Hanya saja lumpang-alu dari besi ukurannya lebih kecil. Masyarakat Jawa telah menggunakan alat ini setidaknya sejak masa pertanian padi permanen. Kosa kata ini telah terekam dalam kamus Baoesastra Djawa...
Sebelum banyak dijumpai ember seperti sekarang ini, pada zaman dahulu setidaknya sampai sebelum Kemerdekaan, masyarakat Jawa masih banyak menggunakan klenthing sebagai tempat air sementara. Klenthing dipakai tidak hanya oleh masyarakat Jawa saja, tetapi juga banyak ditemukan di masyarakat lain. Masyarakat Jawa menggunakan klenthing untuk mengambil air dari sumber air, seperti sumur, belik, pancuran, telaga, sendang, dan sebagainya. Klenthing ada yang berukuran kecil dan besar. Dalam Kamus Jawa “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta (1939), klenthing biasanya berukuran kecil, sementara jun berukuran besar. Memang tidak dijelaskan secara rinci, ukuran kecil dan besarnya. Sayangnya, dewasa ini sangat sulit mendapatkan alat dapur satu ini. Bahkan ketika Tembi survei ke beberapa museum budaya di Yogyakarta, tidak ditemukan alat dapur klenthing. Padahal, alat ini sudah biasa digunakan oleh nenek moyang masyarakat Jawa. Bahkan sering ditemukan artefak...
Kalo termasuk salah satu alat dapur tradisional yang penting bagi masyarakat Jawa. Fungsi utama alat ini adalah untuk menyaring perasan air kelapa yang disebut dengan air santan, atau dalam bahasa Jawa disebut “santen”. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan alat penyaring santan. Walaupun kalo mempunyai fungsi utama untuk menyaring air santan, tapi kalo juga digunakan untuk fungsi lain, misalnya untuk meniris sayuran yang baru saja selesai dimasak, seperti bayam, kobis, kecambah, kangkung, dan lain sebagainya. Selain itu sekaligus untuk tempat menaruh sayuran-sayuran keperluan menu pecel, seperti di warung-warung makanan. Kalo tradisional terbuat dari bahan anyaman bambu. Cara pembuatannya hanya mengandalkan teknologi sederhana, yakni keterampilan tangan. Bentuknya bundar cekung dengan diameter sekitar 32 cm dan tinggi 8 cm. Biasanya satu sisi diberi tali untuk menggantungkan di dinding. Kalo memiliki anyaman yang tidak terlalu rapat, yang berfu...
Pangot hampir tidak pernah absen berada di dapur, walaupun hanya dibutuhkan tatkala untuk mencukil kelapa. Alat ini terbuat dari besi dengan pegangan dari kayu. Bentuknya pipih mirip pisau, tetapi agak besar dan bagian pangkal lebih lebar serta bagian ujung lancip. Jika di dapur tidak ditemukan alat pangot, biasanya para ibu rumah tangga akan merasa bingung dan kesulitan jika hendak mencukil kelapa. Maka, alat ini penting sekali dibutuhkan di dapur. Alat dapur pangot sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Setidaknya, kamus berbahasa Jawa yang berjudul “Baoesastra Djawa” terbitan JB Wolters’ Uitgevers Maatschappij NV Groningen Batavia tahun 1939 yang ditulis oleh WJS Poerwadarminta, telah mencatat eksistensi pangot. Pada halaman 470 kolom 2 disebutkan dalam bahasa Jawa, “pangot, bangsane lading kang pucuke lancip.” Artinya, pangot, jenis pisau dapur yang bagian pucuknya runcing. Dalam penggunaan sehari-hari, pangot digunakan untuk men...
Wedang Tahu adalah minuman yang beromakan jahe dan berisi kembang tahu yang terbuat dari sari kedelai. Minuman ini berkhasiat sebagai penghangat tubuh dan sangat cocok bila dinikmati pada musim hujan, pada pagi ataupun sore hari. Wedang Tahu terbuat dari susu kedelai yang dicampur dengan air garam, dan bubuk agar-agar yang dimasak sehingga menjadi kembang tahu atau tahu sutera, yang akan dijadikan sebagai isi dari wedang Tahu tersebut. Ada kesamaan rasa dalam kuah wedang tahu ini dengan wedang ronde, hanya saja yang membedakan adalah wedang ronde terdiri dari beberapa macam komposisi yang penuh warna sedang wedang tahu sendiri hanya minimal warna saja. namun soal rasa tak beda jauh. Penjual wedang tahu biasa menjajakannya dengan pikulan atau berada di pinggir jalan dan untuk menarik perhatian para calon pembeli, mereka membunyikan peranti musik teng-teng berukuran mini dengan pemukul dari kayu. Wedang Tahu konon berasal dari negeri Tiongkok yang dibaw...
Kue jajanan tradisional ini punya ciri khas warnanya yang hijau dengan parutan kelapa muda diatasnya yang memberi kesan menarik dan lezat. Kue putu ayu dimasak dengan cara dikukus. Jika biasanya anda membeli kue putu ayu di penjual kue tradisional, maka sekarang anda bisa mencoba membuat sendiri kue putu ayu. Berikut resep dan cara membuat putu ayu : Bahan-bahan membuat kue putu ayu Tepung terigu 200 gram Gula pasir 250 gram Santan 200 ml Telur ayam 4 btr Kelapa muda ½ butir, diparut untuk bagian atas Garam halus 1 sendok teh ½ sendok teh pewarna makanan (hijau) Cara membuat kue putu ayu Kocok telur dan gula sampai tercampur rata Tambahkan tepung terigu kedalam campuran telur dan gula, aduk rata. Tambahkan santan dan pewarna makanan hijau, aduk sampai adonan tercampur sempurna. Siapkan parutan kelapa muda, masukkan garam halus, aduk rata. Siapkan...
Masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah lading, peso, atau pengot. Dalam bahasa Indonesia benda itu dikenal istilah pisau. Pelacakan kata lading sebagai alat dapur bisa ditelusuri dari bahasa Jawa Kuno yang digunakan oleh masyarakat Jawa sekitar abad 9 Masehi. Sementara itu kata peso yang berarti pula pisau, dapat ditemukan di dalam kamus “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta (1939) pada halaman 481. Ini menandakan bahwa istilah peso sebagai alat dapur digunakan oleh masyarakat Jawa masa kini jauh setelah penggunaan istilah lading. Setidaknya istilah peso digunakan sebelum awal abad 20. Ternyata kata lading juga masih tetap terekam dalam kamus Jawa baru ini. Pada halaman 254 disebutkan arti kata lading, yaitu “piranti dianggo ngiris-iris” atau dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia berarti sebagai alat (dapur) yang berfungsi untuk mengiris (bumbu dapur dan sebagainya). Tentu wujud fisik lading atau (pisau) sebagai alat dapur di...
Enthong digunakan masyarakat Jawa untuk menanak nasi dan persiapan makan. Maka keberadaannya pasti ada di setiap dapur tradisional dan meja makan. Enthong biasanya terbuat dari kayu berbentuk lonjong dan dibuat pipih. Sementara pangkalnya dibuat mengecil yang berfungsi untuk pegangan. Fungsi utama enthong adalah untuk mengaduk beras yang sedang ditanak sekaligus sebagai alat untuk mengambil nasi yang sudah masak ke dalam wakul maupun saat hendak menuangkan nasi dari wakul ke piring makan. Ukuran enthong bermacam-macam, ada yang kecil, sedang, dan besar. Ukuran kecil, panjang sekitar 15-20 cm. Sementara yang besar bisa berukuran panjang hingga 45 cm. Besar kecilnya enthong disesuaikan dengan kapasitas tempat memanak beras atau tempat nasi. Jika menanak nasinya untuk ukuran rumah tangga, pada umumnya menggunakan enthong kecil. Begitu pula saat nasi sudah tanak dan ditempatkan dalam wakul. Namun, apabila menanak nasi untuk hajatan yang membutuhkan tempat menanak beruk...
Bagi masyarakat Jawa, besek berfugsi untuk menyimpan bumbu-bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, kunyit, dan sebagainya. Barang ini hadir di dapur tradisional. Dalam kamus Jawa “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta (terbitan tahun 1939), halaman 37 disebutkan, “besek yaiku araning wadhah saemper tumbu nanging cilik sarta nganggo tutup”. Dalam bahasa Indonesia, artinya besek adalah wadah sejenis tumbu/wakul wujudnya kecil serta ada tutupnya. Dalam kenyataannya, bentuk besek lebih seperti kubus yang memang ada tutupnya. Hanya saja, tingginya rata-rata sekitar 4-8 cm saja, sementara sisi lainnya sekitar 25-40 cm, tergantung besar kecilnya besek. Besek terbuat dari anyaman bambu. Umumnya yang dipakai bagian dalam atau sering disebut bagian hati. Yang masih alami, sisi luar dan dalam, warnanya sama putih kekuningan. Namun sekarang lebih bervariasi, sudah diberi warna yang berbeda-beda. Hingga kini besek tradisi...