Secara harfiah Samsom dalam bahasa Suku Matbat yang berarti larangan. Tradisi Samsom merupakan sebuah aturan bersama bahwa masyarakatnya dilarang mengganggu satu wilayah dalam kurun waku tertentu. Ritual Samsom dilaksanakan setahun sekali selama kurun waktu enam hingga tujuh bulan lamanya. Ritual Samsom ini di pimpin oleh tokoh masyarakat yang disebut Mirinyo. Pelaksanaan upacara adat di mulai ketika seorang Mirinyo membacakan mantra yang ditunjukan kepada para penjaga laut. Suku Matbat percaya bahwa para penjaga laut itulah yang memberikan kesuburan kepada mahluk hidup laut sehingga hasilnya akan berlimpah. Mantra-mantra dibacakan saat matahari terbit, Mirinyo berdiri di depan kampung dan menghadap laut lalu menancapkan tanda larangan yang disebut Gasamsom. Tanda larangannya berupa batang pohon salam yang daunnya di pangkas. Cabang dan rantingnya dibiarkan utuh untuk menggantungkan sesajen seperti Sababete berupa rokok, pinang, tembakau, dan carik-carik k...
Kuliner khas dari berbagai daerah yang ada di nusantara ini memang sudah menjadi karakteristik dan keunikan bagi masing-masing daerahnya. Seperti halnya Papua yang memiliki salah satu sajian kuliner unik yaitu sate ulat sagu. Sate ulat sagu adalah ulat sagu yang ditusuk-tusuk pada lidi, bambu kecil atau tusukan sate lalu dibakar dan dimakan bersama pelengkap atau dimakan langsung. Kuliner khas Papua ini mungkin tergolong ekstrim dan perlu nyali untuk bisa memakannya. Mengingat bahan dasarnya berupa ulat yang ada di dalam pohon sagu yang telah membusuk. Melihatnya saja sudah geli dan jijik apalagi memakannya. Namun demikian, masyarakat papuan khususnya yang tinggal di wilayah dengan banyak pohon sagu sudah terbiasa dengan makanan ini. Bahkan sudah menjadi rutinitas saat mencari ulat saguuntuk dijadikan makanan bergizi meraka. Dalam mendapatkan ulat sagu, pohon sagu yang dicari adalah pohon yang sudah tumbang dan membusuk. Kemudian dibelah untuk dicari ulat sagunya. Warga sekita...
Insonem Jenis fauna laut yang cukup menjijikan. Insonem sebutan masyarakat biak untuk cacing laut yang sudah di asar. Cacing laut tersebut “di asar”, dikeringkan dengan cara dipanaskan dengan diasapin dengan perapian. Sama hal dengan perlakuan untuk asar hasil laut lainnya yang bernilai tinggi seperti teripang, batu laga dan isi bia (umumnya jenis gastropoda, siput). Insonem ialah salah satu satwa laut Raja Ampat yang biasa hidup di pasir timbul di peraian Raja Ampat. Masyarakat Raja Ampat biasa menyebut insonem sebagai cacing pasir. Namun jangan bayangkan Insonem sama dengan cacing darat yang kita kenal ya karena meskipun sama-sama disebut cacing namun Insonem dijamin bersih dan jauh dari kesan kotor. Habitatnya yang berada di pasir putih timbul di tengah lautan dengan laut biru sebagai pelindungnya menjadikan Insonem selalu dalam keadaan terjaga. Insonem berbentuk cacing putih panjang dengan warna putih di seluruh bagiannya. Besarnya seukuran jari-jari t...
Mansorandak (tradisi injak piring) biasanya dilakukan oleh suku Biak di Manokwari, Papua Barat dalam rangka menyambut kembali anggota keluarga dari rantau atau daerah luar papua yang jauh dalam jangka waktu yang lama. Tradisi ini bertujuan untuk menunjukan rasa gembira atas kepulangan anggota keluarga dan dikatakan bahwa mansorandak juga bertujuan untuk membersihkan orang tersebut dari roh-roh jahat yang berasal dari daerah rantau. Tradisi ini dimulai dengan proses mandi kembang di atas piring adat. Setelah itu, sang perantau akan masuk ke dalam ruangan khusus di rumah keluarganya dan mengitari sembilan piring adat sebanyak sembilan putaran. Di bagian akhir, sang perantau menginjak replika buaya yang melambangkan tantangan dan cobaan hidup yang akan dijalani oleh sang perantau.Setelah itu diadakan acara makan bersama yang uniknya, seluruh makanan akan digantung terlebih dahulu di bagian atas rumah lalu baru boleh disantap setelah aba-aba dari sesepuh adat Doreri, Manokwari....
Tau atau ada juga yang menyebutnya aries adalah makanan tradisional suku bangsa Wamesa. Makanan ini terbuat dari sagu dan kelapa parut yang dibungkus dengan daun sagu. Kemudian, bungkusan tersebut dibakar di atas bara api. Tau merupakan makanan sehari-hari yang juga disajikan sebagai pelengkap pada setiap acara adat. Sumber: https://www.senibudayaku.com/2018/01/makanan-tradisional-papua-barat.html
Salah satu cara masyarakat Mandoni bertahan hidup adalah dengan memanfaatkan area dangkalan laut untuk berburu hewan karaka. Perangkap yang digunakan untuk menangkap karaka = rotan, pemberat batu, dan di atasnya diberi botol plastik yang diikat menggunakan tali sebagai penyambung antara botol dengan perangkap, tujuan diberi botol plastik ini adalah agar dapat mengapung dan mudah ditarik ke permukaan,. dan di tengah-tengah perangkap diberi daging ikan segar sebagai umpan. Umpan yang digunakan harus ikan. Karaka, dapat dijual atau pun di barter dengan hasil bumi lainnya. Karaka juga bisa dimasak dengan berbagai cara. Sebagian masyarakat Papua memasaknya dengan cara ditumis bersama bumbu dan sebagian lagi hanya membakarnya dengan bumbu garam. Tebalnya daging dengan cita rasa manis alami jadi keunggulan kepiting karaka. Tak heran, banyak yang merekomendasikan karaka sebagai sajian wajib saat berkunjung ke Papua. Tempat yang menyediakan: Warung...
Sagu forno atau sagu lempeng dapat dibuat dengan cara, sagunya diayak sampai halus dan siap untuk dicetak. Fornonya, alat tradisional untuk mencetak sagu lempeng, dipanaskan di api hingga membara. Sagu yang telah dihaluskan kemudian dimasukan ke dalam forno yang sudah di panaskan tadi lalu ditutup dengan daun apa saja yang sudah disiapkan. tunggu selama 15 menit sampai matang lalu dikeluarkan dan hasil cetakan sagu ditaruh di atas asaran hingga keras. Setelah itu baru dibersihkan dengan cara dikikis hingga bersih menggunakan ekor ikan pari. Sumber: https://batanme.tumblr.com/post/63823742058/sagu-sebagai-makanan-pokok-masyarakat-misool
Mahe Tumi adalah istilah dalam bahasa Baham mata (Iha) untuk menyebut tembakau negeri yaitu tembakau lokal yang diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat etnis Baham di Semenanjung Onim, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Cara mengkonsumsi yaitu ; Daun tembakau diiris-iris kemudian dikeringkan dengan cara dijemur, untuk mengkonsumsinya digunakan daun khusus yang dilinting sebagainya layaknya rokok. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=1542
Han adalah makanan tradisional etnis Baham, salah satu etnis yang mendiami semenanjung Onim, wilayah pemerintahan Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Han merupakan nama dari cara pengolahan sagu (makanan pokok lokal penduduk Papua), yaitu pengolahan sagu dengan cara dibakar dengan media daun ofin (sejenis daun pandan yang tumbuh di pantai). Cara Pengolahan: Cara/teknik pengolahan seperti ini sudah lama dilakukan oleh suku bangsa Baham, jauh sebelum penggunaan peralatan memasak dari tanah liat maupun dari logam. Dalam teknik pengolahan ini, tepung sagu yang masih basah/masih baru dibungkus dengan daun ofin kemudian dikaitkan dengan menggunakan lidi dan dibakar pada api, jika daun sudah tampak gosong dan sagu telah matang maka sagu telah dapat dimakan atau disimpan sebagai bekal untuk dimakan bersama lauk ikan atau sayur. Bagi masyarakat suku Bangsa Baham dan pada umumnya masyarakat Papua sagu merupakan makanan tradisional yang banyak dikelola dengan berbagai an...