Makanan adat pada puncak acara upacara Legu-Legu adalah Kukusang dan Wajik. Kukusang bentuknya kerucut, di buat dari beras pulen hasil panen dan Wajik bahannya adalah pulut. Untuk membuat Kukusang tidak terlalu sulit, namun harus dari beras pulen yang merupakan hasil panen masyarakat, karena konon menurut mereka, jenis beras ini lebih pulen dan hasilnya akan lebih bagus. Dinamakan Kukusang karena mengukusnya harus di wadah yang bentuknya kerucut, dibuat dari anyaman daun tikar. Cara Pembuatan: Beras yang telah dibersihkan, dimasak setengah masak, setelah itu barulah di masukan ke kukusan dan dipadatkan, kemudian dikukus hingga masak. Kukusan biasanya dilapisi dengan daun pisang muda, sehingga pada saat dilepaskan akan lebih mudah. Setelah dilepas di hiasi dengan kembang-kembang. Wajik bagi orang Maluku, merupakan salah satu makanan yang sudah tidak asing lagi. Cara pembuatannya tidak terlalu sulit, dibuat dari beras pulut, di kukus hingga matang (jangan teralu lembek), santa...
Nyaokimareu adalah makanan tradisional yang disajikan pada waktu makan-makanan adat. Makanan ini harus disiapkan oleh seluruh keluarga yang akan makan dalam pesta makan-makanan adat ini. Makanan ini sangat sederhana dan di mana saja dapat ditemukan, terdiri dari ikan yang digoreng dan telur yang dibuat dadar. Pada saat pelaksanaan upacara adat setiap keluarga harus menyediakan menu ini. Pada saat disajikan dimeja, ikan yang telah digoreng diatur di piring dan ditutup dengan telur. Pada saat makan, yang dimakan, hanyalah ikan, telur tidak boleh dimakan telur hanya sebagai penutup ikan. Ini menunjukan aturan yang berlaku bagi masyarakat desa Taraudu pada waktu makan adat. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=7127
Untuk membuat ikan kakap bakar ini, siapkan bahan-bahan berikut ini: Ikan kakap merah sebanyak 1 ekor. Bersihkan dan kerat-kerat hingga sisiknya terbuang sempurna. Jeruk limau sebanyak 2 buah. Kecap manis sebanyak 3 sendok makan. Minyak sayur/goreng secukupnya. Sementara itu, bumbu halus yang dibutuhkan untuk membuat ikan kakap bakar ini adalah: Bawang merah sebanyak 4 butir. Bawang putih sebanyak 3 siung, Cabe keriting sebanyak 4 buah. Cabe merah sebanyak 2 biji. Kecap manis secukupnya. Gula secukupnya. Garam dan penyedap sesuai selera Anda. Ikan kakap bakar kali ini bisa disantap dengan sambal kecap . Untuk membuat sambal kecap ini, bahan-bahan yang diperlukan adalah: Kecap manis sebanyak 5 sendok makan. Cabe rawit sebanyak 10 buah. Bersihkan dan rajang tipis. Bawang merah sebanyak 2 buah. Bersihkan dan rajang tipis. Mari Membuat Ikan Kakap Bakar Setelah...
Masyarakat Kampung Kalaodi, Kota Tidore, Maluku Utara, memiliki ritual ucap syukur nikmat alam dari Sang Kuasa usai panen. Tradisi ini disebut Paca Goya atau pesta pasca panen, mirip dengan Hari Raya Nyepi di Bali, semacam istirahat dari beragam aktivitas. Selama tiga hari masyarakat berhenti beraktivitas baik ke kebun atau pekerjaan lain. Mereka juga membersihkan tempat-tempat yang dianggap keramat seperti bukit dan gunung. Paca Goya jika ditarik ke pemahaman kekinian serupa upacara menjaga alam. Tradisi ini, diyakini memiliki kekuatan mistik berhubungan dengan alam, ritual masyarakat yang melalui para pemangku adat. Paca dalam bahasa Tidore bermakna ‘menyapu atau membersihkan’. Goya dari kata Goi berarti ‘sesekali berkunjunglah ke sana’. Atau bermakna tempat keramat dan sekali-kali harus dikunjungi. Upacara ini dipimpin sowohi atau pimpinan adat. Di Kalaodi, ada pemerintahan di bawah negara, ada pemangku adat yang dip...
Dalam menjaga alam, warga memiliki tradisi tak merusak dan tak mengambil berlebihan. Bagi mereka tabu merusak atau menebang pohon sembarangan. Bagi pelanggar, akan kena bobeto . Bobeto ini sumpah adat, sudah berjalan turun menurun. Sumpah diucapkan bobato adat atau pemimpin adat ( sowohi ). Bobeto semacam fatwa atau perjanjian oleh lembaga adat di Kalaodi. Warga menaati, sebagai hukum yang tak melanggar. Bunyi bobeto dalam bahasa Tidore, yakni nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon . Artinya, siapa merusak alam, nanti dirusak alam. Bobeto dipegang kuat masyarakat Kalaodi. Dalam tradisi setempat, ada kepercayaan tak bisa menebang atau merusak pohon-pohon tertentu, karena diyakini bisa kena dampak buruk, seperti sakit. Ada juga lembah dan bukit tak bisa dirusak karena diyakini ada penjaga. “Para tokoh adat kami sebenarnya mempertahankan ini semata-mata menginginkan alam terawat dan terjaga,” ucap Samsudin. Di huta...
Dahulu penduduk Lisawa, Halmahera Utara dihebohkan dengan munculnya air yang memancar di sela-sela bebatuan. Semakin lama air itu semakin membesar dan membentuk telaga. Kabar terbentuknya telaga pun tersebar ke mana-mana. Telah banyak warga bertanya-tanya mengenai asal-usul air itu. Ada sebagian dari mereka yang menganggap itu adalah sumber air dari dalam tanah yang terjadi karena aktifitas gunung berapi. Ada juga masyarakat yang menghubungkan kemunculan air itu dengan kekuatan gaib penjaga desa. Sungguh aneh, di daerah yang kesulitan air tiba-tiba muncul telaga. Upaya mengungkap misteri itu dilakukan dengan menggelar upacara adat. Akhirnya, diperoleh jawaban adanya telaga berwarna biru itu disebabkan akibat seorang gadis yang patah hati lantas menangis. Ia meneteskan air mata dan mengalir rnenjadi sumber mata air. Kepedihan hatinya yang terlalu mendalam telah menyebabkan ia berduka sepanjang hari. Ia menangis seraya meratapi kekasihnya yang telah pergi. Penduduk Dusun L...
Tari Lelehe adalah tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Tobelo. Tarian ini umumnya dibawakan oleh seorang penari pria dan wanita, dimana para penari tersebut bisa orang dewasa maupun anak-anak. Para penari Tari Lelehe umumnya akan memakai 2 alat yang berbahan dasar dari bambu dan berukuran 2 sampai 3 meter sebagai perlengkapan tarian. Dalam perkembangannya tarian ini biasanya dipertunjukan diacara-acara adat, malam perkawinan, dan di acara festival budaya. Sumber: https://www.kamerabudaya.com/2017/12/inilah-8-tarian-tradisional-dari-maluku-utara-dan-penjelasannya.html
Sasadu merupakan sebuah rumah sederhana dibentuk dari bahan kayu dan anyaman daun sagu. Sekilas mirip pendopo khas Jawa tetapi jelasnya ini adalah rumah adat peninggalan leluhur suku Sahu di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Rumah adat ini menjadi tempat warganya berkumpul, bersantap, dan berbagi nilai-nilai leluhur dan kearifan lokal yang terus dipegang teguh melekat dalam kesehariannya. Rumah adat ini b ermakna kestabilan dan kerendahan hati. Pembangunan rumah adat ini tanpa menggunakan paku tetapi sepenuhnya berbahankan alam dan kearifan lokal. Tanpa paku logam, tali ijuk tak terputus. B angunannya didominasi batang pohon sagu sebagai tiang dan kolom serta daun sagu sebagai pelapis atap. Pohon sagu sendiri mudah didapat di Halmahera dan menjadi makanan pokok. Selain itu, pohon sagu juga dilambangkan sebagai pohon kesejahteraan. Rumah adat ini memiliki enam pintu untuk jalan masuk dan keluar, meskipun setiap sisinya tidak berdinding. Dua pintu untuk jalan masuk keluar...
Hibualamo dalam bahasa daerah Tobelo, Hibua Lamo berasal dari kata Hibua = Rumah dan Lamo = Besar, berarti ‘Rumah Besar’. Kearifan lokal ini berakar dari pemahaman bahwa seluruh penduduk daerah Halmahera Utara adalah berasal dari satu keturunan dan menempati satu Rumah Besar sebagai tempat mereka hidup secara rukun, memecahkan masalah bersama, toleran dan satu tanpa terpisah-pisah oleh agama. Hibualamo sendiri mulai ada sejak tahun 600 Masehi dimana, disetiap desa yang ada di 10 Hona terdapat Hibua Lamo. Masuk pada 1606, oleh VOC membombardir seluruh Hibualamo dan pusat kerajaan Moro yang kala itu berpusat di Desa Mede (Keratonnya berarsitektur Hibualamo). Serangan itu, lalu pada 1926 lewat musyawarah pemangku adat dari Tobelo Galela dan Kao kembali membangun rumah adat mereka di desa Gamsungi untuk mempertahankan ekstistensi hibualamo. Namun, masuknya penjajah Jepang, kembali membuat Hibualamo yang sudah dibuat itu dihancurkan lagi. Lokasi rumah adat Hibualamo y...