Permainan anjang-anjangan adalah permainan anak-anak sunda yang meniru seolah-olah mereka sudah berumah tangga. biasanya dilakukan oleh perempuan tapi kadang anak laki-laki pun sering ikut memainkannya. Ada yang berperan sebagai Ayah, Ibu, anak, tetangga, tukang dagang, dokter dan lain sebagainya dalam permainan ini, mereka harus menghayati peran masing-masing. Kadang ada juga anak yang menjadi ‘sutradara’ dalam permainan ini. Dia mengatur skenario permainan ini agar tetap ramai. Permainan ini adalah permainan anak perempuan favorit di jaman dahulu selain permainan anak BP-BP an. Sumber : salamadian.com/permainan-tradisional-sunda-jawa-barat/
Tak ada yang menjadi kucing dalam permainan sunda dengan lagu dan tangan sebagai media bermainnya ini. cara memainkannya yaitu tangan ditumpuk mengepal menyerupai telur, kemudian pemain yang minimal terdiri 2 orang bernyanyi bersama. Endog – endogan peupeus hiji pre. Endog – endogan peupeus hiji pre. Endog – endogan peupeus hiji pre. Endog – endogan peupeus hiji pre. Ketika sampai di syair “pree” tangan yang tadinya dikepal di tembrakan dari yang paling bawah, setelah semua tangan tidak ada yang mengepal, kemudian anak-anak melanjutkan nyanyian lagi dengan syair; “Goleang-goleang mata sapi Bolotot. “ Biasanya anak-anak menanyikan lirik terakhir sambil memegang dan membelalakan matanya. Sumber : salamadian.com/permainan-tradisional-sunda-jawa-barat/
Permainan tradisional sunda ini dilakukan Orang Tua pada saat mengasuh anaknya, biasanya sang anak duduk di punggung kaki dan diayunkan ke depan dan belakang sambil menyanyikan ; “Ucang-ucang anggé, Mulung muncang ka papanggé, Diudah ku anjing gedé, anjing gedé nu ki lebé, Ari gog..gog cungunguuung …. “ Permainan ini dimainkan orang tua pada anaknya ketika sang anak menangis atau sekedar memberikan hiburan untuk putra-putri kesayangannya. sumber : salamadian.com/permainan-tradisional-sunda-jawa-barat/
Permainan tradisional yang sangat sederhana di mana tidak menggunakan alat apa pun, dan hanya memerlukan 3 sampai 4 orang pemain biasanya di Jawa Barat disebut dengan Perepet Jengkol . Manfaat Permainan Perepet Jengkol Permainan Perepet Jengkol memiliki manfaat yang berguna bagi tubuh, yaitu : Melatih keseimbangan para pemainnya. Melatih kekompakan antar pemainnya dalam satu kelompok. Melatih kekuatan kaki para pemain, karena kaki sebagai penopang dalam permainan, kalau kaki para pemain tidak dapat menahan maka para pemain akan jatuh. Melatih kecerdikan, agar kaki para pemain tidak mudah terlepas supaya pemain tidak mudah terjatuh. Melatih kelincahan tubuh, karena para pemain harus meloncat-loncat sambil berputar-putar. Cara bermain dari permainan tradisional Perepet Jengkol, yaitu : Yang pertama harus dilakukan ialah Para pemainnya berdiri sambil membelakangi temannya masing-masing kemudian para pemainnya saling be...
Permainan dam – daman ini permainan mirip catur. setiap pemain harus bergantian menjalankan pionnya. cuma disini nggak ada skak math. adanya, cuma makan/dimakan. Biasanya anak – anak dalam permainan ini cukup menggunakan kapur kemudian digambarkan di lantai. Kemudian pemain pertama menggunakan batu dan pemain ke dua menggunakan pecahan genteng agar berbeda. Dalam permainan dam – daman semua pion dapat bergerak sama yaitu maju, mundur, serong dan kesamping. Biasanya untuk dapat memakan lawan yang banyak maka harus mengumpan salah satu pion-nya. Saat di beri umpan maka lawan harus memakan dengan cara melompati musuhnya. Permainan ini yang kalah adalah yang habis pion-nya. sumber : mainantradisionalindonesia.wordpress.com/2014/11/04/permainan-dam-daman/
OTOK - OTOK ..... apakah itu??? hehehe... nama yang aneh memang. Tapi itu nama permainan yang saya kenal. itu lho...mainan dari bambu / kaleng, yang dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan bunyi bila didorong. Yaa...klo mungkin istilah modern'ny traktor - traktoran..hehehe.. karena bunyinya yang keras dan menimbulkan suara otok-otok-otok jadi orang menyebutnya otok - otok. Permainan yang tergolong murah di dapat karena harganya yang cuma Rp. 2500 perak. Anak - anak sudah senang dengan mainan ini. Dimainkan bersama bareng temen - temen akan rame banget jadinya. Buat sendiri juga bisa. Ada juga otok - otok yang dibuat dari karet sandal dan semacamnya untuk bahan roda atau pemanis bentuk lainnya, Bisa menimbulkan suara otok - otok tapi tidak sekeras yang menggunakan kaleng bekas. Mudah - mudahan permainan - permainan tradisional lain pun tidak hilang , kalah oleh aneka permainan modern zaman ini. Sebaiknya kita sebagai orang tua juga tid...
Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Raja dan ratu sangant bijaksana sehingga kerjaan yang dipimpin makmur dan tenteram. Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka. Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka m...
Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang. Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri pa...
Konon, di suatu daerah di Jawa Barat, sekitar daerah Cianjur, hiduplah seorang lelaki yang kaya raya. Kekayaannya meliputi seluruh sawah dan ladang yang ada di desanya. Penduduk hanya menjadi buruh tani yang menggarap sawah dan ladang lelaki kaya tersebut. Sayang, dengan kekayaannya, lelaki tersebut menjadi orang yang sangat susah menolong, tidak mau memberi barang sedikitpun, sehingga warga sekelilingnya memanggilnya dengan sebutan Pak Kikir. Sedemikian kikirnya, bahkan terhadap anak lelakinya sekalipun. Di luar sepengetahuan ayahnya, anak Pak Kikir yang berperangai baik hati sering menolong orang yang membutuhkan pertolongannya. Salah satu kebiasaan di daerah tersebut adalah mengadakan pesta syukuran, dengan harapan bahwa panen di musim berikutnya akan menjadi lebih baik dari panen sebelumnya. Karena ketakutan semata, Pak Kikir mengadakan pesta dengan mengundang para tetangganya. Tetangga Pak Kikir yang diundang berharap akan mendapat jamuan makan dan minum yang menyenangk...