Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Arsitektur Jawa Barat Bandung
Candi Bojongmende
- 25 Februari 2015

Candi Bojongmenje berada dalam kawasan Kampung Bojongmenje RT.03 Rw.02, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, dengan keletakan geografis pada garis koordinat 107º 48'110" - 06º 57'958" dan daerahnya merupakan dataran tinggi ± 698 m di atas permukaan laut. Candi itu tepat berada di bawah tanah pemakaman umum masyarakat Desa Cangkuang dengan luas 843 m² , dikelilingi oleh tembok pabrik tekstil, lahan kebun penduduk dan dekat dengan aliran Sungai Cimande yang berjarak ±  75 m dari situs.  Candi Bojongmenje terletak sebelah tenggara ± 24 km dari pusat Kota Bandung, di sisi selatan jalan raya Rancaekek yang menghubungkan Kota Bandung dengan Tasikmalaya-Garut-Ciamis. Untuk menuju ke lokasi dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau roda 2 dengan kondisi jalan raya kualitas 1 cor dan dilapisi hotmix. Sampai Blok Bojongmenje, Cangkuang, Rancaekek dilanjutkan dengan jalan kaki melalui pemukiman penduduk yang cukup padat dan dinding-dinding pabrik.  Pada tanggal 18 Agustus 2002 penduduk Bojongmenje, Ahmad Muhammad tengah mencari rayap di pemakaman umum Desa Cangkuang untuk umpan memancing ikan. Ketika menggali tanah tersebut Ahmad mendapatkan batu-batu. Karena penasaran pada tanggal 19 Agustus 2002 bersama teman-temannya berjumlah 12 orang  melanjutkan penggalian hingga menemukan tatanan batu yang diduga merupakan reruntuhan bangunan candi. 

Berdasarkan hasil peninjauan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Balai Arkeologi Bandung dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung pada tanggal 20 Agustus 2002, dapat diketahui bahwa tatanan batu yang merupakan sisi barat bangunan candi. Tatanan batu tersebut membujur arah utara-selatan sepanjang sekitar 4 m terdiri 9 balok batu bersusun sebanyak 5 lapisan. Susunan batu ini menujukkan profil kaki candi terdiri bagian pelipit, di atasnya terdapat ojief (bingkai padma, sisi genta) dan di atasnya lagi terdapat tonjolan persegi yang merupakan variasi bentuk half round. Seluruh batu dalam keadaan polos dalam arti tidak dijumpai adanya relief. Menurut informan sekitar tahun 1940-1942 tank-tank Belanda menggilas dan menghancurkan Candi Kukuk dan situs-situs lainnya di daerah sekitar Bojongmenje, menjadikan daerah itu tidak angker lagi. Kemudian sisa-sisa bangunan terkubur dan dilupakan orang dengan berdirinya bangunan pabrik di daerah itu mulai tahun 1989-1990. Penduduk menemukan berbagai bentuk arca yang menambah kenyakinan bahwa ditempat tersebut memang ada candi. Demikian juga barang antik yang ditemukan ketika menggali sumur, tidak pernah diambil dan dikuburkan kembali sesuai dengan tabu atau pamali yang hidup di kalangan penduduk. Berita keberadaan Situs Bojongmenje pertama kali diberitakan dalam Surat Kabar Harian Gala Media tanggal 20 Agustus 2002, yang dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat dan apresiasi masyarakat  sungguh menakjubkan dengan banyaknya masyarakat yang berdatangan menyaksikan penemuan candi itu, sehingga mendadak lokasi candi menjadi ramai dan bermunculan warung-warung dan penjual kaki lima yang mengelar dagangan di sekitar lokasi ditemukannya candi tersebut.  Sedang penelitian dalam bentuk ekskavasi penyelamatan dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Balai Arkeologi Bandung dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung mulai bulan Oktober 2002. Hasil penelitian terhadap Candi Bojongmenje dapat mengungkap lebih banyak data tentang keberadaan bangunan candi tersebut. Candi Bojongmenje yang tersisa merupakan bangunan bagian kaki candi, sedang bagian tubuh dan atap tidak ditemukan. Bangunan kuno yang terletak di tepi Sungai Cimande ini, memiliki denah empat persegi dengan ukuran 6,40 x 6,77 meter dan tinggi 0,86 meter, dibangun dengan menggunakan bahan batu tufa. Didirikan di atas suatu fondasi yang tersusun dari pasangan balok batu dengan ukuran panjang 7,67 meter, lebar 7,40 meter. Secara keseluruhan bagian kaki tersebut terdiri atas bingkai panil, bingkai rata dan bingkai padma yang tersusun atas 5 lapis batu yang terdiri dari pasangan balok-balok batu bertakik pada bagian bawah yang disusun dengan sistem tumpuk. Sisa candi terdiri dari satu lapis batu di bagian luar (batu kulit), sedang di bagian tengah diisi dengan batu-batu lain yang berfungsi sebagai batu isian. Candi Bojongmenje merupakan tinggalan yang cukup langka di Daerah Jawa Barat  khususnya di bagian dataran tinggi Jawa Barat.

Sebelumnya temuan yang demikian umumnya ditemukan di dataran rendah bagian utara Jawa Barat seperti yang diperlihatkan komplek percandian Batujaya, Cibuaya, dan di dataran tinggi hanya Candi Cangkuang di Kabupaten Garut. Candi Bojongmenje dapat dikatakan merupakan temuan langka di daerah Jawa Barat, karena selama ini belum ada laporan yang pernah menyinggung tentang peninggalan itu.   Para ahli memperkirakan bahwa Candi Bojongmenje berasal dari abad ke 5 – 6 (Haryono, 2002), abad ke 7 (Djubiantono, 2002). Hal ini terjadi kemungkinan karena dilatarbelakangi oleh ketuaan usia kepurbakalaan daerah Jawa Barat yang ditandai oleh kerajaan tertua yaitu Tarumanagera  yang berasal dari abad ke 4 atau ke 5 Masehi. Candi Bojongmenje ini mewakili jenis percandian yang berasal dari kawasan pengunungan atau dataran tinggi  karena candi Jawa Barat dari kawasan dataran tinggi pada umumnya dibuat dari batu alam yaitu andesit, tufa seperti Candi Cangkuang di Garut, sedangkan di Jawa Barat bagian utara, atau di dataran rendah dibuat dari tanah liat bakar (bata) seperti Situs Batujaya dan Cibuaya.  Ditemukannya lingga dan yoni pada kegiatan pemugaran tahun 2004 pada fondasi kaki candi memperjelas bahwa agama yang melatari pembangunan candi Bojongmenje ini adalah agama Hindu-Šiava (Siwaisme) karena lingga-yoni merupakan simbolisasi dari Dewa Siwa yang berpadu dengan Dewi Parwati untuk keperluan pemujaan. Di Jawa Barat aliran Sivaisme juga berkembang di candi Cangkuang, Kabupaten Garut. 

Sebagai candi batu yang relatif langka di Jawa Barat, Pemda Jabar melalui Disbudpar Propinsi Jabar telah melaksanakan upaya pelestarian candi seperti memindahkan makam umum ke lokasi lain, dan membangun fasilitas pengamanan berupa pagar dan pondok peristirahatan, dimaksudkan agar candi dapat lebih optimal untuk penelitian, pendidikan maupun pariwisata. Hambatan dalam pengelolaan candi tersebut dikarenakan ada sebagian tanah candi masih milik masyarakat yang tidak bersedia diberikan ganti rugi tanah yang dibutuhkan bagi pelestarian dan pengembangan kawasan candi. Sehingga proses pemugaran yang telah dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala tahun 2004 tidak berjalan sebagaimanamestinya. 

Alamat: Kampung Bojongmenje RT 03 RW 02, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek

Koordinat : 6 57' 57" s, 107 48' 6" E

Telepon:

Email:

Internet:

Arah: 24 km arah tenggara Kota Bandung, di sisi selatan jalan raya Rancaekek yang menghubungkan Kota Bandung dengan Tasikmalaya-Garut

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna