Candi Bojongmenje berada dalam kawasan Kampung Bojongmenje RT.03 Rw.02, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, dengan keletakan geografis pada garis koordinat 107º 48'110" - 06º 57'958" dan daerahnya merupakan dataran tinggi ± 698 m di atas permukaan laut. Candi itu tepat berada di bawah tanah pemakaman umum masyarakat Desa Cangkuang dengan luas 843 m² , dikelilingi oleh tembok pabrik tekstil, lahan kebun penduduk dan dekat dengan aliran Sungai Cimande yang berjarak ± 75 m dari situs. Candi Bojongmenje terletak sebelah tenggara ± 24 km dari pusat Kota Bandung, di sisi selatan jalan raya Rancaekek yang menghubungkan Kota Bandung dengan Tasikmalaya-Garut-Ciamis. Untuk menuju ke lokasi dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau roda 2 dengan kondisi jalan raya kualitas 1 cor dan dilapisi hotmix. Sampai Blok Bojongmenje, Cangkuang, Rancaekek dilanjutkan dengan jalan kaki melalui pemukiman penduduk yang cukup padat dan dinding-dinding pabrik. Pada tanggal 18 Agustus 2002 penduduk Bojongmenje, Ahmad Muhammad tengah mencari rayap di pemakaman umum Desa Cangkuang untuk umpan memancing ikan. Ketika menggali tanah tersebut Ahmad mendapatkan batu-batu. Karena penasaran pada tanggal 19 Agustus 2002 bersama teman-temannya berjumlah 12 orang melanjutkan penggalian hingga menemukan tatanan batu yang diduga merupakan reruntuhan bangunan candi.
Berdasarkan hasil peninjauan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Balai Arkeologi Bandung dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung pada tanggal 20 Agustus 2002, dapat diketahui bahwa tatanan batu yang merupakan sisi barat bangunan candi. Tatanan batu tersebut membujur arah utara-selatan sepanjang sekitar 4 m terdiri 9 balok batu bersusun sebanyak 5 lapisan. Susunan batu ini menujukkan profil kaki candi terdiri bagian pelipit, di atasnya terdapat ojief (bingkai padma, sisi genta) dan di atasnya lagi terdapat tonjolan persegi yang merupakan variasi bentuk half round. Seluruh batu dalam keadaan polos dalam arti tidak dijumpai adanya relief. Menurut informan sekitar tahun 1940-1942 tank-tank Belanda menggilas dan menghancurkan Candi Kukuk dan situs-situs lainnya di daerah sekitar Bojongmenje, menjadikan daerah itu tidak angker lagi. Kemudian sisa-sisa bangunan terkubur dan dilupakan orang dengan berdirinya bangunan pabrik di daerah itu mulai tahun 1989-1990. Penduduk menemukan berbagai bentuk arca yang menambah kenyakinan bahwa ditempat tersebut memang ada candi. Demikian juga barang antik yang ditemukan ketika menggali sumur, tidak pernah diambil dan dikuburkan kembali sesuai dengan tabu atau pamali yang hidup di kalangan penduduk. Berita keberadaan Situs Bojongmenje pertama kali diberitakan dalam Surat Kabar Harian Gala Media tanggal 20 Agustus 2002, yang dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat dan apresiasi masyarakat sungguh menakjubkan dengan banyaknya masyarakat yang berdatangan menyaksikan penemuan candi itu, sehingga mendadak lokasi candi menjadi ramai dan bermunculan warung-warung dan penjual kaki lima yang mengelar dagangan di sekitar lokasi ditemukannya candi tersebut. Sedang penelitian dalam bentuk ekskavasi penyelamatan dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Balai Arkeologi Bandung dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung mulai bulan Oktober 2002. Hasil penelitian terhadap Candi Bojongmenje dapat mengungkap lebih banyak data tentang keberadaan bangunan candi tersebut. Candi Bojongmenje yang tersisa merupakan bangunan bagian kaki candi, sedang bagian tubuh dan atap tidak ditemukan. Bangunan kuno yang terletak di tepi Sungai Cimande ini, memiliki denah empat persegi dengan ukuran 6,40 x 6,77 meter dan tinggi 0,86 meter, dibangun dengan menggunakan bahan batu tufa. Didirikan di atas suatu fondasi yang tersusun dari pasangan balok batu dengan ukuran panjang 7,67 meter, lebar 7,40 meter. Secara keseluruhan bagian kaki tersebut terdiri atas bingkai panil, bingkai rata dan bingkai padma yang tersusun atas 5 lapis batu yang terdiri dari pasangan balok-balok batu bertakik pada bagian bawah yang disusun dengan sistem tumpuk. Sisa candi terdiri dari satu lapis batu di bagian luar (batu kulit), sedang di bagian tengah diisi dengan batu-batu lain yang berfungsi sebagai batu isian. Candi Bojongmenje merupakan tinggalan yang cukup langka di Daerah Jawa Barat khususnya di bagian dataran tinggi Jawa Barat.
Sebelumnya temuan yang demikian umumnya ditemukan di dataran rendah bagian utara Jawa Barat seperti yang diperlihatkan komplek percandian Batujaya, Cibuaya, dan di dataran tinggi hanya Candi Cangkuang di Kabupaten Garut. Candi Bojongmenje dapat dikatakan merupakan temuan langka di daerah Jawa Barat, karena selama ini belum ada laporan yang pernah menyinggung tentang peninggalan itu. Para ahli memperkirakan bahwa Candi Bojongmenje berasal dari abad ke 5 – 6 (Haryono, 2002), abad ke 7 (Djubiantono, 2002). Hal ini terjadi kemungkinan karena dilatarbelakangi oleh ketuaan usia kepurbakalaan daerah Jawa Barat yang ditandai oleh kerajaan tertua yaitu Tarumanagera yang berasal dari abad ke 4 atau ke 5 Masehi. Candi Bojongmenje ini mewakili jenis percandian yang berasal dari kawasan pengunungan atau dataran tinggi karena candi Jawa Barat dari kawasan dataran tinggi pada umumnya dibuat dari batu alam yaitu andesit, tufa seperti Candi Cangkuang di Garut, sedangkan di Jawa Barat bagian utara, atau di dataran rendah dibuat dari tanah liat bakar (bata) seperti Situs Batujaya dan Cibuaya. Ditemukannya lingga dan yoni pada kegiatan pemugaran tahun 2004 pada fondasi kaki candi memperjelas bahwa agama yang melatari pembangunan candi Bojongmenje ini adalah agama Hindu-Šiava (Siwaisme) karena lingga-yoni merupakan simbolisasi dari Dewa Siwa yang berpadu dengan Dewi Parwati untuk keperluan pemujaan. Di Jawa Barat aliran Sivaisme juga berkembang di candi Cangkuang, Kabupaten Garut.
Sebagai candi batu yang relatif langka di Jawa Barat, Pemda Jabar melalui Disbudpar Propinsi Jabar telah melaksanakan upaya pelestarian candi seperti memindahkan makam umum ke lokasi lain, dan membangun fasilitas pengamanan berupa pagar dan pondok peristirahatan, dimaksudkan agar candi dapat lebih optimal untuk penelitian, pendidikan maupun pariwisata. Hambatan dalam pengelolaan candi tersebut dikarenakan ada sebagian tanah candi masih milik masyarakat yang tidak bersedia diberikan ganti rugi tanah yang dibutuhkan bagi pelestarian dan pengembangan kawasan candi. Sehingga proses pemugaran yang telah dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala tahun 2004 tidak berjalan sebagaimanamestinya.
Alamat: Kampung Bojongmenje RT 03 RW 02, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek
Koordinat : 6 57' 57" s, 107 48' 6" E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah: 24 km arah tenggara Kota Bandung, di sisi selatan jalan raya Rancaekek yang menghubungkan Kota Bandung dengan Tasikmalaya-Garut
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...