jawa tengah
3.394 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Tradisi Selapanan Masyarakat Jawa
Ritual Ritual
Jawa Tengah

Tinggal di lingkungan masyarakat Jawa maka kita akan mendapati banyak tradisi yang dilakukan. Salah satunya yaitu tradisi yang bernama Selapanan. Selapanan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat pada bayi setelah 35 hari kelahirannya. Hari ke-35 kelahiran seorang manusia menjadi sangat penting bagi manusia. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan kalendar Jawa, dimana masyarakat Jawa menghitung hari dalam hitungan minggu sebanyak 7 hari (Senin – Minggu) dan hitungan pasaran dimana satu pasaran berjumlah 5 hari (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi). Perhitungan selapan berasal dari perkalian antara 7 dan 5 yang menghasilkan 35 hari. Pada hari ke 35 ini didapatkan pertemuan angka kelipatan antara 7 dan 5. Lantaran hari itu adalah hari lahir si bayi berdasarkan hitungan penanggalan Jawa. Contohnya, bayi yang lahir di hari Selasa Wage maka di hari ke-35 akan bertemu lagi dengan hari Selasa Wage yang sama. Tradisi Selapanan dilakukan dalam rangka rasa syukur atas kelahiran dan k...

avatar
OSKM18_16618261_M.Wijaya
Gambar Entri
Dolanan Kreweng
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Tengah

Dolanan Kreweng merupakan permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak generasi '70-an di daerah Jawa Tengah, khususnya Solo. Asal nama permainan ini dari bahasa jawa, dolanan berarti permainan dan  kereweng yang berarti pecahan genting.  Permainan ini merupakan permainan  jauh-jauhan melempar pecahan genting yang dapat meloncat-loncat di permukaan air. Biasanya permainan ini dilakukan di tepi sungai atau di tepi waduk/danau. Cara bermainnya pun sangat sederhana. Pertama, pergi ke tepi danau atau sungai. Selanjutnya, cari pecahan genting atau batu yang tipis sesuai dengan kemauan para pemain. Selanjutnya, para pemain bergantian melempar pecahan genting ke arah danau atau sungai. Tak ada batas waktu di dalam permainan ini. Dalam permainan ini, kemenangan dapat diraih apabila pemain melempar paling jauh dan pantulannya terhadap permukaan air paling banyak. Permainan ini dilakukan dengan pecahan genting, karena pada zaman '70-an, acapkal...

avatar
OSKM18_16318271_DZAKI SATRIO WIDANTO
Gambar Entri
Sedulur Papat Limo Pancer
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

            Istilah Sedulur Papat Limo Pancer sampai sekarang diketahui bersumber dari suluk Kidung Kawedar atau disebut pula Kidung Sarira Ayu, bait ke 41-42. Suluk ini diyakini masyarakat sebagai karya Sunan Kalijaga.             Sedulur Papat Limo Pancer dipercaya menyimbolkan empat macam nafsu yang berada di dalam diri manusia; nafsu keindahan, nafsu amarah, nafsu serakah, dan nafsu keutamaan, serta dari keempatnya, terdapat diri sendiri atau hati nurani manusia di tengah-tengah semua itu.             Kepercayaan Sedulur Papat Limo Pancer berwujud kepercayaan bahwa saat dikandung, setiap manusia dibungkus kulit ari dan bisa tersambung dan mendapat nutrisi dari ibu melalui tali pusar. Sedulur Papat Limo Pancer menyatakan bahwa kulit ari dan tali pusar itu bukan sekadar organ melainkan memiliki kekuatan intrinsik, menjadi roh penjaga y...

avatar
OSKM18_16918237_Fito Ezekiel Halor Jatmiko
Gambar Entri
Omah Trasan
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Omah Trasan merupakan tempat wisata yang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga dan orang terkasih karena suasananya yang sejuk, asri, dan kental dengan Budaya Jawa. Omah Trasan merupakan taman yang dikelilingi dengan Rumah Kuno Jawa. Di taman ditanami pohon jati. Semilir angin yang menerpa pohon jati menambah kesejukan dalam taman. Udara sejuk yang diciptakan dari pohon jati menambah suasana syahdu meskipun saat siang hari. Di bawah pohon jati terdapat beberapa meja dan kursi yang bisa digunakan untuk bersantai yang didukung dengan pemandangan indah dari hiasan Rumah Kuno Jawa dan patung-patung di tengah taman. Yang menjadi ciri khas Omah Trasan yaitu ada berbagai macam becak dan dokar sebagai hiasan taman. Di sana kita dapat mengambil foto dengan mengendarai becak dan dokar dengan background pohon jati yang menambah keunikan dari foto kita. Selain itu, ada juga berbagai barang antik yang diletakkan dalam lemari dan di dinding-dinding rumah. Barang-barang antik berupa perab...

avatar
OSKM18_16818058_Satrio Bagus Barselino
Gambar Entri
Candi Asu
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Candi yang terletak di Desa Candi Pos, Kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah ini merupakan peninggalan Raja Salingsingan, hal ini dibuktikan dengan adanya sungai bernama Salingsing--namun masyarakat setempat kesulitan menyebutnya sehingga lebih dikenal dengan nama Sungai Tlingsing--yang mengalir di dekat Candi Asu. Nama 'Asu' sebenarnya berasal dari bahasa Jawa yaitu 'Ngaso' yang artinya istirahat atau peristirahatan. Karena pada jaman dahulu orang orang beragama hindu sering membuang abu sisa pembakaran mayat di candi tersebut. Namun ada pula yang beranggapan bahwa asal nama Candi Asu sebetulnya karena banyaknya anjing di sekitar candi, 'Asu' dalam bahasa jawa berarti anjing. Sumber : narasi kerabat OSKMITB2018

avatar
OSKM2018_19818135_Nisrina Qoulan Tsaqila
Gambar Entri
Puspa Bangsa Sebagai Penyegar Mata
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Jawa Tengah

Termasuk ke dalam salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia, Melati Putih dinobatkan sebagai Puspa Bangsa menurut Kepres No. 4 Tahun 1993. Bunga Melati yang juga tersebar di penjuru dunia ini seringkali dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai dekorasi dalam pernikahan hingga tabur bunga di pemakaman. Bunga yang memiliki ciri fisik berwarna putih kecil dan baunya yang harum ini ternyata memiliki banyak manfaat lain, salah satunya masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa memanfaatkannya sebagai penyegar mata tradisional. Cara pembuatan penyegar mata pun mudah. Pertama-tama, sediakan beberapa bunga melati dan satu gelas air bersih. Lalu, rendam bunga melati dalam segelas air bersih yang telah disediakan selama satu malam penuh. Setelah itu, kedip-kedipkan mata pada air tersebut. Air penyegar mata ini dapat menghilangkan rasa gatal atau kelelahan pada mata. Jika setiap hari rutin melakukan ini, maka mata akan terasa jernih dan segar.  Pada zaman serba instan i...

avatar
OSKM18_16318258_Jasmine Nur Mahdani
Gambar Entri
Sambut Bulan Suci dengan Megengan
Ritual Ritual
Jawa Tengah

          Bulan Suci Ramadhan merupakan salah satu bulan dalam kalender Islam yang mewajibkan setiap pengikutnya untuk menjalankan ibadah puasa. Di tanah Jawa sudah cukup kental akan budaya yang mengiringi bidang keagamaan yaitu terdapat akulturasi antara Islam dan Jawa. Berbagai daerah memiliki tradisi tersendiri untuk menyambut Bulan Suci ini. Seperti di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah yang memiliki ritual megengan. Megengan diambil dari Bahasa Jawa yang artinya menahan. Dari segi bahasa sudah terdapat kaitan bahwa tradisi megengan yang berarti menahan sejalan dengan perintah di bulan Ramadhan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan ibadah tersebut.           Tradisi megengan diawali dengan ziarah kubur yaitu dengan cara mendatangi makam para leluhur kemudian membersihkan dan menaburi bunga serta mendoakan arwah para leluhur. Puncak tra...

avatar
OSKM_16918051_AuliaNurLathifa
Gambar Entri
RITUAL PEODALAN PURA PUNCAK JAGAD SPIRITUAL
Ritual Ritual
Jawa Tengah

          Wonogiri merupakan sebuah kabupaten yang terletak di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah. Wonogiri menyimpan banyak sekali potensi yang dapat menjadi unggulan, baik dari segi pariwisata, keindahan alam, hingga kebudayaan yang banyak berkembang di dalamnya. Salah satu diantaranya adalah peodalan.           Tak disangka ternyata di daerah yang cukup terpencil ini didirikan pura. Pura ini didirikan di puncak bukit kapur pegunungan sewu yang juga termasuk dalam daerah kompleks Museum Karst seluas 25 hektar yang berada di desa Gebangharjo dusun Mudal Pracimantoro, Wonogiri. (50 Kilometer arah barat daya Kota Wonogiri). Pura yang diberi nama Pura Puncak Jagad Spiritual ini sudah mulai dibangun sejak tahun 2007 saat masa pemerintahan H. Begug Purnomosidi.           Lalu apa itu peodalan? Secara umum, peodalan atau odalan, merupakan upacara keagamaan untuk memperingati hari kelahiran pura (tempat suc...

avatar
OSKM_16718242_Fatiha Syahla Shafiya
Gambar Entri
Monumen Perjuangan Dk. Posongan Kec. Comal
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Monumen perjuangan ini berada di Dukuh Posongan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Propinsi Jawa Tengah. Monumen ini adalah saksi bisu dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah, tepatnya ketika Belanda melaksanakan Agresi Militer Belanda Ke-2 pada tahun 1947. Saat itu terjadi pertempuran antara pejuang Indonesia melawan pasukan Belanda (KNIL). Dalam pertempuran tersebut sebanyak 215 pejuang gugur, dua diantaranya adalah prajurit dari Pangkalan C.A.IV Tegal yaitu Kapten KKO Mendung dan Serma KKO Iskandar. Kasmuri(53 th) menuturkan bahwa gugurnya kedua prajurit tersebut bermula pada saat keduanya sedang menaiki kereta api menuju Tegal setelah melaksanakan dinas di Surabaya. Kereta yang dinaiki oleh Kapten KKO Mendung dan Serma KKO Iskandar dihadang oleh pasukan KNIL di sekitar Dukuh Posongan, penghentian tersebut terjadi karena disana sedang terjadi peperangan antara pejuangan dengan pasukan KNIL. Ketika itu mereka langsung turun dan ikut bergabung dengan pejuang un...

avatar
OSKM_16318137_Hananda FITB 2018