Benthik adalah salah satu permainan rakyat yang biasanya dimainkan oleh anak-anak. Perlengkapan benthik tidak memerlukan alat yang kompleks (rumit) atau sulit didapat. Untuk memainkan benthik hanya memerlukan dua ranting kayu yang berukuran panjang sekitar 30 cm (disebut “benthong”), dan yang berukuran pendek sekitar 10 cm (disebut “janak”). Pada umumnya, antara benthong dan janak memiliki diameter yang sama, yaitu sekitar 1 cm; bahkan umumnya benthong dan janak diambil dari ranting dengan jenis pohon dan batang yang sama. Saat kedua ranting ini beradu (dipukulkan) maka muncul suara “thik ... thik”, sehingga berdasarkan proses onomatope permainan ini disebut “Benthik”. Ranting panjang dipergunakan untuk memukul ranting yang lebih pendek. Untuk memainkan benthik diperlukan halaman yang bersih, rata dan cukup luas. Selain itu, di sekitar halaman diupayakan tidak terlalu banyak orang yang berlalulalang, karena dapat membahayakan merek...
Orang yang pertama kali menggagas upacara adat Saparan ialah: Bapak Purowidodo (Pak Lurah Widodomartani) bersama Kepala Dukuh Pondok Wonolelo pada tahun 1967. Keduanya memiliki ide dan gagasan untuk melangsungkan upacara dengan mengumpulkan trah atau keturunan Ki Ageng Wonolelo, dan merancang kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah bermusyawarah dan masyarakat bersepakat, semua keturunan Ki Ageng Wonolelo diundang dan diminta untuk mengumpulkan pusaka yang tersebar di beberapa tempat untuk disatukan dan diarak keliling kampong sampai ke tujuan akhir, yaitu kompleks makam Ki Ageng Wonolelo. Pusaka tersebut disimpan di dalam rumah Tiban. Warisan Pusaka Ki Ageng Wonolelo meliputi : Tombak, teken (tongkat) dan baju Ontrokusumo, disimpan di Pondok Wonolelo; kitab suci Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Ki Ageng Wonolelo, disimpan di Kalasan; Potongan Kayu Mustaka Masjid, disimpan di Cangkringan; bandil, disimpan di Jatinom, Klaten; dan kopiah, disim...
Upacara dandan kali atau becekan merupakan upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat di beberapa dusun, yaitu: Dusun Kepuh, Dusun Manggong, dan Dusun Pagerjuang. Dusun-dusun tersebut berada di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Dandan kali bertujuan untuk meminta hujan. Konon, di Desa Kepuharjo pernah mengalami kemarau panjang sampai 8 bulan, setelah kemarau panjang tersebut masyarakat meminta hujan dengan membawa sesaji, dan menyembelih kambing di Sungai Gendol. Tidak lama setelah upacara dilangsungkan, kemudian turun hujan yang lebat dan memberikan kesuburan di sekitar Kepuharjo. Istilah “Dandan Kali” juga diberikan karena tempat upacara berada di sungai, dengan harapan sungai tetap dialiri air dan tidak mengalami kekeringan; bukan hanya Sungai Gendol, melainkan sungai-sungai di sekitarnya seperti Sungai Kretek dan Sungai Kebeng. Persyaratan utama dalam upacara dandan kali adalah semua yang hadir atau mengikuti prosesi upacara berjenis kelamin...
Menurut R.T. Kusumakesawa (1980), kesenian tayub berawal dari dalam keraton saja, yaitu tarian yang dilakukan oleh raja apabila sedang memberikan pelajaran tentang kepemimpinan (Astha Brata) kepada putera mahkota. Tidak ada orang lain yang masuk dan melihat prosesi ini. Studi R.T. Kusumakesawa (1980) memberikan keterangan bahwa nayub itu berasal dari kata “tayub” yang terdiri dari dua kata yaitu “mataya” yang berarti tari; dan “guyub” yang berarti rukun bersama, sehingga terjadi penggabungan dua kata menjadi satu kata: “mataya” dan “guyub” menjadi “tayub” dan kadang berubah menjadi nayub. Tayub juga dikenal di dalam serat Centini, yang menyebutkan tayub sebagai tari pergaulan yang berpusat pada penari wanita, yang mempunyai beberapa istilah seperti ronggeng, taledhek (tledek,ledhek), dan tandhak. Istilahistilah tersebut merujuk pada arti penari wanita. Kesenian Tayub Lebdho Rini – di Dusun Badongan, De...
Golek Lambangsari merupakan ciptaan KRT. Purbaningrat (1865–1949), adalah empu tari dan karawitan. Usianya cukup panjang, 85 tahun, sehingga pernah mengalami tiga kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono. Hidupnya diabadikan sepenuhnya untuk kesenian dan keraton. Sejak masa Sultan Hamengkubuwono VII – menurut buku ”Mengenal tari klasik gaya Yogyakarta” (1981) – KRT. Purbaningrat sudah aktif di Keraton Yogyakarta. Bahkan, ketika itu sudah berpangkat Bupati Anom Wedana Ageng Punakawan dengan kewajiban utama sebagai pimpinan tari, seni tembang, dan seni karawitan di Keraton Yogyakarta. KRT Purbaningrat seorang penari handal, bahkan pada masa Hamengkubuwono VII sudah memegang peran Prabu Sri Suwelo dan Prabu Bethara Kresna dalam wayang wong. Selain menari dan menabuh gamelan, KRT. Purbaningrat juga seorang pencipta tari Dang ending karawitan. Ia juga mengolah karya-karya tari yang ditawarkan creator lain, khususnya dari kalangan internal. Tari yang ditanganin...
Golek Pucong Kethoprak merupakan tarian yang diciptakan oleh KGPAA. Mangkubumi, putra Hamengkubuwono VI atau adik Hamengkubuwono VII; dan gendingnya diciptakan oleh KRT. Wiraguna (Putra Mangkubumi). Istilah ”Golek pucong kethoprak” terdiri dari beberapa kata yaitu: ”Golek” berarti jenis tarian tradisional Jawa (beksan) putri; ”Pucong”, nama gending utama untuk mengiringinya; dan ”Kethoprak”, adalah aksen rasa gerak tari yang biasa dibawakan pemain seni kethoprak tradisi. Menurut RM. Dino Satomo (2010), golek pucong kethoprak hadir sebagai penanda relasi antara seni kerakyatan dan seni istana. Para penarinya harus seorang sinden, sehingga berkaitan dengan dua hal yaitu: Asumsi bahwa para sinden telah memiliki penguasaan daya rasa gending lebih daripada penari yang bukan pesinden atau pengrawit, sehingga rasa gending segera didapatkan dari tariannya; Adanya motivasi memperkaya sumber penari dari kalangan pelaku seni kar...
Tari Rara Ngigel Ini merupakan tarian daerah Yogyakarta yang bercerita mengenai seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa sehingga juga ditarikan oleh para wanita akan tetapi terkadang juga bisa dilakukan berpasangan dengan pria. Tarian ini menjadi penggabungan dari ciri khas Yogyakarta yakni lemah lembut dan juga tegas dimana dalam pertunjukannya, para penari akan memakai busana campuran antara adat budaya Jawa dengan Cina. https://budayalokal.id/tarian-yogyakarta/
Tari Kumbang Tari kumbang merupakan tarian dari Yogyakarta yang bercerita mengenai sepasang kumbang jantan dan betina yang sedang saling berkejaran dan beterbangan seperti sepasang kekasih lalu terbang ke bunga untuk menghisap sari bunga bersama. Kumbang jantan dan betina yang sedang memadu kasih tersebut akan diiringi dengan suasana romantis dimana ketika dipertunjukkan, para penonton juga akan diajak untuk berimajinasi dengan suasana romantis yang tercipta tersebut. https://budayalokal.id/tarian-yogyakarta/
Tari Arjuna Wiwaha Tarian di Yogyakarta ini merupakan tarian tradisional yang biasa ditampilkan di lingkungan Keraton Yogyakarta. Ini merupakan tari yang menceritakan tentang Arjuna yang banyak terkena godaan pada saat sedang bertapa di Indrakila. Godaan tersebut dikirim dari para bidadari cantik oleh Indra yang kemudian diperintahkan untuk menggoda Arjuna agar tapa yang dilakukannya gagal. Namun dengan keteguhan hati Arjuna, para bidadari gagal untuk menggoda Arjuna sampai akhirnya Indra yang datang dan menyamar sebagai seorang Brahmana dalam kondisi tua renta. Mereka kemudian berdiskusi hingga akhirnya Indra menunjukkan jati dirinya. https://budayalokal.id/tarian-yogyakarta/