Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”. Namun lepas dari kedua versi itu, dalam pengertiannya yang umum saat ini, kerapan adalah suatu atraksi lomba pacuan khusus bagi binatang sapi. Sebagai catatan, di daerah Madura khususnya di Pulau Kangean terdapat lomba pacuan serupa yang menggunakan kerbau. Pacuan kerbau ini dinamakan mamajir dan bukan kerapan kerbau. Asal usul kerapan sapi juga ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa kerapan sapi telah ada sejak abad ke-14...
Tanpa Kebudayaan Tidak Akan Ada Peradaban, Anak Muda Tulang Punggung Kebudayaan Suara musik yang dimainkan ‘pengrawit’ terdengar kompak. Alat musik kendang, tipung, kempul, kenong, angklung, dan sompret saling beradu satu sama lain. Musiknya yang khas seperti memanggil orang-orang di luar sana untuk datang. “Ini masih pemanasan. Acara puncaknya belum dimulai,” ujar seorang pria yang memainkan alat musik kempul. Karuan, hanya berselang beberapa menit, rumah megah beralamatkan Rungkut Asri Barat no. 2, Surabaya, itu mendadak ramai penonton. Orang kampung langsung menyerbu. Dari jauh sana, orang-orang juga datang. Tampaknya acara kesenian tradisional yang digelar sudah menjadi langganan masyarat setempat. Rumah itu memang cukup besar. Para pengrawit tampil di halaman yang cukup luas. Sementara jika kita masuk ke dalam, nyaris ruang tamunya dipenuhi bangunan kayu jati sebagai penopangnya. Yah, rumah itu selama ini d...
Ceker pedes adalah salah satu akanan yang baru-baru ini popular di Malang Jawa Timur. Terlebih lagi hawa di kota ini tergolong sejuk dan dingin sehingga ceker pedas yang memberikan sensasi pedas dan hangat sangat digemari oleh masyarakat Malang maupun pendatang dari luar Malang. Sesuai dengan namanya Ceker Pedas yaitu menu hidangan pedas yang unik dari kaki ayam atau yang biasa dipanggil Masyarakat Indonesia dengan sebutan “ ceker “. Nah, bagi Anda yang menyukai kuliner pedas dan tentunya senang makan ceker, warung lesehan yang satu ini sepertinya wajib Anda kunjungi ketika berada di kawasan Kota Malang dan sekitarnya. Hidangan ini sebenarnya cukup sederhana serta murah karena hanya terbuat dari ceker kaki ayam yang dibumbui oleh sambal super pedas. Kisaran harga yang ditawarkanpun tak begitu mahal sekitar 1000-2500/ ceker sehingga harga ini cukup pas dikantong. Bagi kalian yang tidak sempat ke Malang untuk mencicipi langsung hidangan ini bias mencoba langsung membuatnya...
Ceritanya, Suku Osing ini dipercaya sebagai pecahan dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke wilayah timur Jawa saat Belanda menyerang. Suku Osing ini juga kerap kali disebut sebagai "Wong Blambangan." Setelah melarikan dari Kerajaan Majapahit, masyarakat Osing ini mendirikan Kerajaan Blambangan yang masih kental dengan nilai-nilai Hindu. Hal ini masih terlihat hingga kini, beberapa kesenian masyarakat Osing, tercorak nilai Hindu, dan mirip dengan kesenian Bali, Kesenian Gandrung misalnya. Pada awalnya masyarakat Osing ini beragama Hindu, namun secara perlahan mereka memeluk agama Islam. Mei 2016
Serat Jatikusuma merupakan salah satu naskah Jawa pesisiran yang menceritakan tentang petualangan seorang putra raja bernama Raden Jatikusuma dari negeri Asmarakandhi bersama dua abdinya yang bernama Jumput dan Cleput. Raden Jatikusuma jatuh cinta kepada seorang putri dari kerajaan Jong Biraja yang bernama Sasmitarasa. Namun tidak direstui oleh ayahnya yaitu Raja Tubatul Iman karena Jong Biraja adalah negeri kafir. Cerita berlanjut dengan petualangan Jatikusuma hingga akhirnya berhasil menikah dengan Sasmitarasa. Naskah Serat Jatikusuma menjadi koleksi Perpustakaan Pusat UI dengan kode CI.11a (Cerita Islam dengan nomor urut 11a) dan nomor panggil L8.44a. Naskah ini berbentuk prosa menggunakan bahasa Jawa dan beraksara latin. Tebal naskah adalah 33 halaman dengan jumlah baris 37 per halaman. Naskah CI.11a merupakan jilid pertama dalam satu set yang terdiri dari tiga naskah kecil, CI.11a-c. Naskah ini memuat ringkasan cerita naskah KBG 703 yang tersimpan di dalam Perpust...
Jangkrik Genggong berasal dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo yang terletak di pesisir pantai yang mayoritas penduduknya adalah nelayan. Upacara Adat Jangkrik Genggong merupakan upacara perayaan untuk anak laki-laki sebagai tanda bahwa anak tersebut telah beranjak dewasa. Usai dilaksanakan upacara adat ini, anak tersebut boleh turun ke laut untuk berlayar. Yang unik dari salah satu kekayaan wisata budaya Pacitan ini selalu ada ikan kakap merah sebagai hidangan wajib yang harus disajikan. Menurut mitosnya, Sang Ratu Penguasa Pantai Selatan selalu meminta Gendhing Jangkrik Genggong kepada sesepuh desa (dukun). Itulah sebabnya, upacara adat ini disebut Jangkrik Genggong. Ritual Jangkrik Genggong ini dianggap sebagai ritual sedekah bumi yang berkaitan dengan mitos penguasa laut selatan. Upacara ini dilaksanakan dari siang hingga malam hari. Pada puncak acara di malam hari, dilaksanakan paguyuban seni Tayub. Tujuh sumur tua dikeramatkan. Dipercaya mempunyai kekuatan gaib dan ada m...
Jawa Timur memiliki kekayaan kuliner khas yang cukup banyak. Salah satunya adalah Lontong Kupang. Bagi masyarakat Surabaya, lontong ini bukanlah hal yang asing, meski ia juga dikenal akrab di Sidoarjo. Kupang adalah hewan laut semacam kerang jenis tiram. Bentuknya kecil, berukuran sekitar 3 sampai 5 mm, dengan warna tubuh coklat agak pucat. Hewan kerang yang biasa disebut kerang putih atau corbula faba (latin) ini biasanya dapat ditemukan di pinggir pantai atau lumpur air asin. Untuk menangkap Kupang, para nelayan menggunakan peralatan yang sederhana. Mereka cukup menyabit rerumputan dan tetumbuhan laut di mana Kupang menempel. Habitat Kupang memang menempel pada tumbuh-tumbuhan laut pada pantai yang punya karakteristik tenang, ombak yang tidak terlalu besar, dan pada saat air laut surut. Di kedua daerah Jawa Timur, yakni Surabaya dan Sidoarjo, ada sedikit perbedaan pada ukuran kupang. Kupang di Surabaya lebih kecil daripada Kupang yang di Sidoarjo. Meski demikian, kelezatanny...
Tauwa adalah nama makanan itu. Warnanya putih susu dengan bentuk seperti puding. Teksturnya terasa sangat lembut sehingga hapir tidak bisa merasakannya ketika tauwa itu sedang kita nikmati. Kuah yang berupa minuman wedang jahe yang hangat menjadi pelengkap tauwa. Tauwa ini sangat mudah dijumpai karena biasanya banyak penjualnya yang menjajakan tauwa dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Mereka biasanya menjual tauwa dengan menggunakan sepeda yang pada bagian belakangnya terdapat kotak-kotak kayu sebagai wadah tauwa, kompor, coret dan sebagainya. Walau tampak sederhana, siapa sangka kalau tauwa ini merupakan jejak kuliner peranakan Tionghoa di nusantara. Menurut Dahana Adi, seorang pegiat sejarah dan budaya di Kota Surabaya yang biasa dipanggil dengan Mas Ipung- tauwa disebut sebagai kuliner peranakan Tionghoa karena pada masa lampau makanan ini merupakan makanan favorit yang biasa dikonsumsi oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Sedangkan di Tiongkok sana, ta...
Es Paes adalah salah satu kuliner dari Jawa Timur. Es Paes bukanlah nama minuman melainkan nama kue/camilan yang mirip dengan arem-arem. Es Paes ini berbentuk lontong yang dicampuri parutan kelapa serta kacang hijau. Cara buatnya pun tidak susah, bisa dilihat pada resep di bawah ini: Bahan-bahan: 2 ons beras 1 ons kelapa, diparut kasar ½ ons kacang hijau 2 sendok teh garam Daun pisang secukupnya Cara Membuat: 1. Pertama, cuci bersih kacang hijau yang telah disiapkan lalu rendam dalam air selama kurang lebih dua jam 2. Sementara itu, Anda bisa menyiapkan bahan-bahan lainnya seperti memarut kelapa dan sebagainya 3. Cuci juga beras yang sudah ditimbang sekitar 2 ons sampai bersih. Tiriskan. 4. Kemudian, tiriskan kacang hijau yang telah direndam dan aduk rata bersama parutan kelapa tadi 5. Tambahkan beras yang sudah dicuci dan beri garam dua sendok teh. Aduk merata hingga semua tercampur 6. Selanjutnya, bungkuslah campuran kacang hijau dengan daun pisang. Bentuk memanj...