Dalam khazanah cerita rakyat Betawi terdapat sebuah cerita yang terkenal yaitu “Nyai Dasima”. Ketenaran cerita ini dapat dibuktikan dengan kemunculan dalam berbagai bentuk : prosa (novel, bacaan anak – anak), puisi (syair, pantun), drama (Komedie Stamboel, Miss Riboet), film dan sinetron. Cerita ini semakin bertambah popular karena adanya lintas budaya. Cerita ini tidak saja terdapat dalam budaya Betawi dengan ditampilkan dalam pertunjukan lenong, misalnya, tetapi juga dalam budaya Sunda (Gending Karasmen), dan budaya Jawa (Rombongan Sandiwara Lokaria). Pada tahun 1896 G. Francis menerbitkan novel yang diberi judul Tjerita Njai Dasima . Henry Chambert – Loir dalam “Malay Literature in the 19th Century” menyebutkan bahwa di Leningraad terdapat cerita “Nyai Dasima” dalam koleksi Akhmad Beramka tentang syair nomor 68. Tidak disebutkan tahun penciptaan manuskrip ini, namun Akhmad Beramka aktif menulis antara tahun 1906 sampa...
Rapai Gerimpheng merupakan paduan antara bermain alat musik yaitu rapai dan bersyair. Rapai ini bentuknya seperti rebana yang berukuran besar. Karena ukurannya yang besar rapai ini sangat berat untuk diangkat sehingga ketika bermain rapainya diletakkan dikakinya. Sedangkan syair biasanya dipimpin oleh syeh kemudian syair tersebut juga dinyanyikan kembali oleh pemain lainnya. Rapai pulot geurimpheng ini dimainkan oleh pemain sebanyak 12 orang. 8 orang berfungsi sebagai penabuh sekaligus penari yang dinamakan dengan aneuk pulot , sementara 3 orang lainnya berfungsi sebagai penggiring dan satu orang sebagai penyair atau disebut syahi atau syeh . Dalam pertunjukan rapai gerimpheng merupakan paduan antara musik yang berasal dari tabuhan rapai yang selaras dengan gerakan tarian yang energik. Rapai gerimpheng terdiri dari beberapa babak yang diawali dengan memberi salam dengan mengangkat tangan serenta...
Ki Lapidin adalah tokoh Subang di era Belanda. Ki Lapidin yang merupakan jagoan Subang yang hidup pada zaman Pamanoekan and Tjiasem Lands atau sering dikenal P&T Lands. Selama ini belum banyak yang tahu ternyata Subang memiliki cerita rakyat yang melegenda. Terutama generasi muda banyak yang belum tahu tentang cerita Ki Lapidin yang ternyata ada sosok jagoan Subang yang membela rakyat kecil pada jaman P&T Lands dulu. Ceita tentang Ki Lapidin, dalam buku Ki Lapidin disebut bahwa Ki Lapidin merupakan sosok jagoan yang membela masyarakat kecil dan menjadi pahlawan bagi warga Subang saat menghadapi penjajah Belanda. Namun diakhir cerita Ki Lapidin harus mati digantung di Wisma Karya Subang. Cerita Ki Lapidin Jagoan Subang dan Lagu Kembang Gadung Cerita Ki Lapidin dalam beberapa waktu terakhir menyeruak ke publik. Sejumlah pegiat seni-budaya mengurai kisah Ki Lapidin dalam bentuk buku ata...
Kesenian Sijobang Kampar merupakan suatu bentuk teater monolog tradisional yang dimainkan oleh seorang seniman dengan berdendang, pantun dan syair serta gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Kesenian Sijobang umumnya dipentaskan pada malam hari setelah acara kenduri khitanan, kenduri akikah dan terkadang setelah upacara perkawinan. Kesenian Sijobang pada prinsipnya boleh saja ditampilkan pada siang hari, namun seniman Sijobang lebih menyukai penampilan pada malam hari karena suhu udara yang dingin menyebabkan suara mereka tidak cepat hilang dan tidak cepat lelah. Sijobang lebih banyak ditampilkan pada acara khitan dan kenduri akikah karena memang ditujukan sebagai cerita untuk menghibur dan sekaligus sebagai media transmisi nilai-nilai budaya serta adat kepada anak-anak. Pertunjukan dimulai setelah sholat Isya sekitar pukul 20.00 wib dan istirahat pada pukul 24.00 wib setiap malamnya. Pagi harinya sang seniman pergi menunaikan berbagai keperluannya, dan pada malam harinya k...
SETIAP daerah di Indonesia mempunyai tradisi berbeda-beda dalam menyambut tahun baru, salah satunya di Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Di Manado ada Tradisi Mekiwuka, tradisi menyambut tahun baru. Mekiwuka merupakan ungkapan rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan disepanjang tahun yang telah dilewati. Beberapa daerah di Sulut juga memiliki tradisi ini, hanya istilahnya yang berbeda, seperti Kawukaan di Kakas, Kabupaten Minahasa dan Sakaiba di Tondano "Kalau Kakas di Minahasa tradisi ini disebut Kawukaan, sedangkan di Tondano disebut Sakaiba dan biasanya di buat pada malam tanggal 24 Desember dan malam tanggal 31 Desember. 24 desember "Maako Kawukaan" atau menjelang pembukaan dan 31 Desember "Kawukaan," ujar Jemmy Lombogia, warga Kakas, Kabupaten Minahasa. Mekiwuka merupakan parade yang dilakukan pada saat tengah malam jelang pergantian tahun dengan menggunakan alat musik tradisional masuk keluar rumah warga, bersilaturahmi saling mengucap syukur menyambut tahun yang...
MUNA BARAT, iNews.id - Adu kuda atau perkelahian kuda merupakan salah satu atraksi budaya warisan para raja-raja muna yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra). Tradisi adu kuda ini hanya satu-satunya di Indonesia, yang dalam bahasa lokal setempat disebut “kapogiraha adhara”. Dahulu kala, ajang adu kuda hanya diselenggarakan dalam rangka menyambut dan menghormati tamu-tamu Kerajaan Muna. Namun saat ini, budaya itu juga ditampilkan saat menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hajatan besar lainnya. iNews berkesempatan melihat langsung tradisi yang masih dijaga warga setempat. Jika ingin melihat langsung perkelahian kuda, bisa langsung berkunjung ke daerah Tanah Lapang Wakantei, Desa Latugho, Kecamatan Lawa, di Kabupaten Muna Barat, Sultra. Di Kecamatan Lawa ini, tradisi adu kuda rutin dilakukan hampir setiap bulan sebagai bagian dari hiburan r...
Masyarakat Desa Poopo, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara menyebutnya Wolaiy. Bentuknya memang seram. Tapi topeng ini nggak dipakai untuk ritual atau tradisi yang berkaitan sama mistis. Wolaiy biasanya ditempatkan di ladang atau sawah untuk menakuti hama, terutama monyet hitam atau Yaki. Disana tak semua orang bisa membuat topeng Wolaiy, sebuah seni yang hamper punah bahkan. Saat saya kesana, saya bertemu Imanuel dan Jack. Mereka berdua pemuda yang sudah terlatih membuat topeng Wolaiy. Untuk membuatnya, dibutuhkan pelepah daun rumbai atau pohon Seho yang berukuran besar dan lebar. Lalu setelah didapat, pelepah rumbai lalu dibersihkan. Mereka pun menyiapkan pisau tajam untuk memahat muka Wolaiy. Tinggi topeng Wolaiy sekitar satu setengah meter, dan jika dihitung dengan pemakainya bisa sampai tiga meter! Jangankan Yaki, manusia juga dibuat seram olehnya. Wolaiy lalu diarak disekitar sawah dan ladang dengan menyanyikan lagu Wolaiy… &ldqu...
Bedhaya Ketawang terdiri dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya artinya penari wanita di Istana. Ketawang berasal dari kata ‘tawang’ yang berarti bintang di langit. Tarian ini sangat kental dengan budaya Jawa dan dianggap sakral. Tari yang digelar satu tahun sekali ini diperagakan oleh sembilan perempuan dengan tata rias seperti pengantin Jawa. Sembilan pernari tersebut memiliki sebutan masing-masing, yaitu: Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, Dan Boncit. Nomor sembilan juga dapat direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang dari arti Ketawang. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatar belakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama, Panembahan Senopati, dengan Dewi Laut Selatan, bernama Ratu Kencanasari atau biasa disebut Kanjeng Ratu Kidul – sebutan di kalangan masyarakat Jawa. Fokus dari tarian ini adalah pada adegan cinta a...
Awal mula Sumang tidak diketahui sejak kapan, karena sudah ada sejak jaman dahulu. Yang jelas Sumang lahir pada saat pemuda pemudi sudah mulai meninggalkan atau melanggar adat istiadat Gayo. Adapun pengertian dari Sumang adalah suatu aturan yang tidak boleh dilakukan atau dikerjakan. Macam-macam Sumang seperti Sumang Penengonen, Sumang Pelangkahan, Sumang Peceraken dan Sumang Pengunulen. Pada dasarnya hukum adat Sumang hanya berkembang di dataran tinggi Gayo, yaitu di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Awalnya Sumang sangat berjalan kental pada masyarakatnya, namun akhir-akhir ini Sumang menjadi pudar. Hal ini dikarenakan masuknya budaya luar yang mempengaruhi orang Gayo itu sendiri. Disamping itu hukum Sumang menjadi luntur pada masyarkat Gayo karena kurangnya kesadaran akan menjaga serta memelihara betapa pentingnya hukum Adat itu. Sumang Penengonen adalah sesuatu perbuatan yang janggal untuk dilihat dan tidak layak untuk dikerjakan S...