1. Sendi/ Pondasi Sendi/ Pondasi terdiri dari batu sungai, ini melambangkan melompat tempat tumpuan, menyincan tempat landasan. 2. Tiang Rumah Tiang bulat bersegi delapan, menunjukkan pucuk undang nan delapan. Banyak tiang dua puluh, kaki tiang biasa dan panjang bersudut empat bertarah licak, seimbang samo satiap sudut, diatas bersending segi delapan. 3. Lantai Segalo nan ditanai dilantai nan sebilah, segalo yang dilayung dek atap nan sebengkawan, dan segalo nan dilingkung dek kungkung nan empat, itu adalah pengertian adat dengan lembaga didalam rumah. 4. Atap Ijuk Atap yang terdiri dari ijuk melambangkan Adat nan idak lapuk dek hujan nan idak lekang dek paneh. 5. Atap patah di penuturan Melambangkan pulai batingkat naik meninggal rusuk dan buku, manusia betingkat turun meninggalkan waris dan pusako. 6. Tanggo Tanggo sepan tiado memakai pelanta, maksudnyo tanggo itu langsung ke bendul rumah tujuannyo adalah tiap-tiap sesuatu ha...
Pada zaman dahulu, ketika penduduk Negeri Jambi sudah mulai banyak dan mereka memerlukan seorang raja yang bisa memimpin mereka, menyatukan negeri-negeri kecil supaya menjadi satu negeri yang besar, mereka mengadakan sayembara. Barang siapa yang ingin menjadi Raja Negeri Jambi, harus sanggup menjalani ujian, yaitu dibakar dengan api yang menyala berkobar-kobar, direndam dalam sungai selama tiga hari, dan digiling dengan kilang besi yang besar. Penduduk setempat tidak ada yang sanggup menjalani ujian it. Tokoh-tokoh terkemuka dari desa Tujuh Kuto, Sembilan Kuto, Batin Duo Belas, semuanya menyerah pada ujian keempat, yaitu digiling dengan kilang besi. Tokoh-tokoh masyarakat Negeri Jambi pada waktu itu lalu berespakat untuk mencari orang dari luar Negeri Jambi, yang sanggup menjadi Raja Negeri Jambi melalui ujian yang telah mereka tentukan itu. Perjalanan mencari orang luar Negeri Jambi tidak mudah karena zaman dulu orang harus menempuh jalan setapak, menerobod hutan, menyusuri sun...
Alkisah , di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci Jambi, ada seorang perempuan bernama Putri Tangguk. Ia hidup bersama suami dan tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya menanam padi di sawahnya yang hanya seluas tangguk (adalah alat penangkap ikan yang hanya seluas tampah penampi beras). Meskipun hanya seluas tangguk , sawah itu dapat menghasilkan padi yang sangat banyak. Setiap habis dipanen, tanaman padi di sawahnya muncul lagi dan menguning. Dipanen lagi, muncul lagi, dan begitu seterusnya. Berkat ketekunannya bekerja siang dan malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar sudah hampir penuh. Namun, kesibukan itu membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. Ia terkadang lupa mandi sehingga dakinya dapat dikerok dengan sendok. Ia juga tidak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya dan mengurus ketujuh orang anaknya. Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sudah tidur, Putri Tangguk berkata kepada suamin...
Pakaian tradisional Jambi seperti yang ada di daerah Pulau Sumatera yang lain, juga disebut dengan pakaian Adat Melayu. Pakaian adat melayu Jambi biasanya lebih mewah daripada pakaian yang digunakan sehari-hari karena disulam dengan benang emas dan dihiasi dengan berbagai hiasan untuk kelengkapannya.
Salah satu makanan Khas Jambi adalah Tempoyak. Tempoyak sendiri berbahan dasar Durian yang masak dan difermentasikan . Tempoyak rasanya sedikit asam tapi lebih banyak manisnya. Adonan tempoyak dibuat dengan cara menyiapkan daging durian, baik durian lokal atau maupun durian monthong (kurang bagus karena terlalu banyak mengandung gas dan air). Durian yang dipilih diusahakan agar yang sudah masak benar, biasanya yang sudah nampak berair. Kemudian daging durian dipisahkan dari bijinya, setelah itu diberi sedikit garam. Setelah selesai, lalu ditambah dengan cabe rawit yang bisa mempercepat proses fermentasi. Namun proses fermentasi tidak bisa terlalu lama karena akan memengaruhi rasa akhir. Setelah proses di atas selesai, adonan disimpan dalam tempat yang tertutup rapat. Diusahakan untuk disimpan dalam suhu ruangan. Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas (bukan freezer -nya) namun fermentasi akan berjalan lebih lambat. Tempoyak yang berumur 3-5 hari cocok untuk d...
Di Kabupaten Tebo, terdapat satu desa kecil bernama Semabu yang memiliki tradisi unik. Tradisi tersebut biasa muncul jika di desa tersebut ada acara pesta, baik pernikahan, sunatan, dan pesta lainnya. Tradisi tersebut adalah adanya hidangan nasi ibat. Nasi tersebut terkenal karena dapat tahan selama tiga hari. Nasi ibat sebenarnya adalah nasi putih. Namun, dalam penyajiannya, nasi putih tersebut dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Disamping dapat mengawetkan nasi tersebut hingga tiga hari, aroma khas yang timbul dari daun pisang menjadi daya tarik tersendiri ketika menyantapnya. Dalam penyajiannya, nasi ibat ditemani oleh aneka lauk pauk yang lezat dan menggugah selera. Nasi ibat ini juga seringkali dijadikan sebagai bekal untuk anggota keluarga yang akan melakukan perjalanan jauh. Hal tersebut dapat menghemat biaya dan memudahkan orang tersebut, karena daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus dapat langsung dibuang.
Salah satu tokoh yang legendaris di Jambi adalah Rang Kayo Hitam. Beliau merupakan salah satu raja ternama di dataran tanah Jambi. DI bawah pimpinanannya kerajaan Melayu Jambi menjadi kerajaan yang besar dan terkenal. Ia merupakan salah satu putra dari pasangan Putri Selaro Pinang Masak dan Datuk Berhalo. Pada masa pemerintahannya, ia sempat melakukan satu gebrakan besar. Saudaranya yaitu Rang Kayo Pingai bermaksud mengirimkan upeti kepada raja Mataram, namun hal tersebut dihalangi oleh Rang Kayo Hitam. Raja Mataram yang murka berniat mengirimkan pasukan ke tanah Jambi. Sebelum hal itu terjadi, Rang Kayo Hitam bersama Rang Kayo Pingai terlebih dahulu mendatangi Jawa lengkap dengan peralatan perang. Kedatangan Rang Kayo Hitam dihentikan oleh pasukan Raja Mataram di pelabuhan. Seketika itu juga Rang Kayo Hitam merubah dirinya menjadi seorang bocah yang disekujur tubuhnya penuh dengan kudis. Pasukan kerajaan merasa jijik dan meninggalkan anak kecil tersebut. Raja Mataram me...
Jika Anda ingin tahu salah satu oleh-oleh khas daerah Jambi, tepatnya Kerinci, mungkin dodol kentang dapat menjawab rasa penasaran tersebut. Awalnya mengapa masyarakat di daerah Kerinci menciptakan dodol kentang karena di daerah tersebut kentang menjadi salah satu komoditas unggulan. Disamping unggulan, jumlahnya yang melimpah juga mengundang rasa kreativitas masyarakatnya untuk berekperimen dan menambah penghasilan mereka disamping bertani. Rasa dodol kentang ini berbeda dengan dodol lainnya. Tidak begitu kenyal dan lebih lembut, dengan rasa manis yang tidak terlalu menggigit. Meskipun bahan utamanya adalah kentang, namun dalam pembuatannya, dodol kentang tentu membutuhkan bahan-bahan pendukung lain. Diantaranya adalah kelapa, gula, tepung ketan, garam, dan lain sebagainya. Terdapat beraneka varian rasa dari dodol kentang, diantaranya adalah original, stroberi, pandan, coklat, dll. Bahan-bahan: kentang kelapa gula tepung ketan putih garam vanili...
Batik khas Jambi, motif Sungai Batang Hari :