Dalam Khazanah kesenian Cirebon dan khazanah kesenian Priangan, jenis kesenian yang selalu menampilakan ceritera dengan pelaku manusia adalah wayang wong. Seperti dijelaskan oleh Soedarsono, kata "wayang" dalam bahasa Jawa kuno (kawi) berarti "bayangan" atau "pertunjukan bayangan" dan kata wwang berarti manusia. Jadi wayang wwanh adalah pertunjukan wayang yang semula aktor-aktrisnya berupa boneka dari kulit atau golek kemudian diganti dengan manusia. Setiap wayang wong Priangan memiliki cara pertunjukan khas. Cara adalah jalan (aturan, sistem) melakukan/menyajikan wayang wong Priangan untuk dipertunjukkan kepada masyarakat. Dari pertunjukan wayang wong Priangan sejak masa sebelum kemerdekaan sampai masa setelah kemerdekaan yang di alami oleh kelompok-kelompok di kalangan menak dan kelompok-kelompok di kalangan rakyat, terdapat dua cara pertunjukkan: Mandiri Mandiri adalah cara pertunjukan yang tidak bergantung pada orang lain, melainkan diselenggarakan/diadakan oleh ke...
Masyarakat Sunda zaman dahulu itu masih dipengaruhi budaya Hindu dengan adanya sistem kasta (bisa dilihat dari cara berpakaiannya). Namun secara umum pakaian Sunda itu ada 2, pakaian untuk kaum menak & untuk masyarakat biasa. Nah yang pertama itu pakaian yg biasa digunakan oleh kaum menak (pejabat/kalangan atas). Untuk laki-laki, pakaian yang digunakan : 1. Bendo, tutup kepala yang dibuat dari sisa kain samping yang dipakai. 2. Beskap, yang biasa digunakan berkerah chiang i. Dari beskap ini bisa dilihat tingkatan sosialnya melalui jumlah kancingnya. Semakin banyak jumlah kancingnya, maka semakin tinggi tingkat sosialnya (kancingnya dulu dibuat dari emas). 3. Dodot, yaitu samping (yang digunakan di Sunda biasanya samping rereng) yang sudah dilamban. Lamban itu cara melipat kain samping di tatar sunda. Untuk laki-laki, lambanannya harus ada ekornya. Cara memasangnya dengan memutar dari kanan ke kiri. 4. Alas kakinya biasanya memakai tarumpah atau pant...
Kalau disuruh menyebutkan seni pertunjukan dari daerah Jawa Barat, mungkin yang terlintas di benak Anda adalah tari jaipong, kesenian wayang golek, tari renggong, dan sebagainya. Tapi dari contoh-contoh yang sering Anda dengar tersebut, ternyata masih banyak kesenian yang terdapat di provinsi dengan luas daerah 37.174 km 2 ini. Saking banyaknya, ada beberapa kesenian yang bisa dibilang hanya sedikit orang yang tahu. Bisa disebut juga terlupakan . Pernahkah Anda mendengar tentang seni kunclung ? Nah, kesenian ini berasal dari Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Kesenian ini terutama khas dari masyarakat Cileunyi di Desa Cileunyi Wetan. Di desa ini, kegiatan ekonomi masyarakat masih banyak bergatung pada pertanian, terutama menanam padi. Kesenian ini ditampilkan saat menjelang waktu panen padi ataupun saat baru akan menanam padi. Seni kunclung memang sudah langka ditampilkan oleh masyarakat Cileunyi sendiri. Namun, jika beruntung, Anda masih bisa meli...
Nyeupah adalah budaya yang sudah cukup punah di tatar sunda ini. Biasanya nyeupah ini banyak dilakukan oleh nenek atau kakek kita, karena dengan nyeupah ini dapat membuat gigi menjadi lebih kuat dan utuh.  Selain untuk usia lanjut, anak muda pun khususnya wanita pun bisa nyeupah, karena ini sangat bermanfaat sebagai pewarna merah pada bibir secara alami. Namun seiring berkembangnya inovasi yang lebih praktis seperti pasta gigi dan obat kumur, maka nyeupah pun sudah tak dikenali lagi. Lalu cara melakukan nyeupah sendiri yaitu : Menyiapkan 1-2 lembar daun sirih Lalu rendam batu kapur hingga baunya menghilang dan teksturnya menjadi lebih lembut Oleskan diatas sirih secukupnya Tambahkan gambir ( mengakibatkan warna campuran menjadi merah karena sifatnya antioksidan) Dan terkahir masukan buah kapulaga Kunyah dan gosokkan secara merata Demikian informasi tentang budaya yang telah pudar di daerahku, semoga kita dapa...
Gondang merupakan salah satu kebudayaan daerah yang berasal dari Sunda. Pada awalnya gondang merupakan bagian dari upacara ritual untuk menghormati Dewi Padi, Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Upacara ini dilaksanakan setelah panen. Pada zaman Prabu Siliwangi, orang yang melakukan gondang yaitu wanita yang dianggap suci atau sudah tidak menstruasi (menopause). Namun seiring perkembangan waktu gondang menjadi suatu seni pertunjukan yang menggambarkan muda-mudi pedesaan yang menjalin kasih, dengan gerak dan lagu yang romantis penuh canda. Sekelompok gadis menumbuk padi dengan lesung kemudian sekelompok pemuda datang. Lalu selanjutnya mereka berdialog dan akhirnya mereka pulang berpasangan. Lagu-lagu yang dipergunakan pada kesenian ini, banyak menggunakan lagu rakyat maupun lagu perkembangan yang diubah syairnya. Salah seorang yang berperan pada perkembangan seni pertunjukan ini adalah Tatang Kosasih, ia mulai melakukan inovasi seni pertunjukan ini sejak tahun 1960-an. Syairnya yang semula...
KEMPRONGAN Kemprongan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh di daerah Kabupaten Kuningan, khususnya di Desa Sidaraja Kecamatan Ciawi Gebang dan Kecamatan Luragung. Kesenian ini sering disebut juga dengan Pesta (Fiesta, Belanda) yang artinya bersukaria. Jika dilihat dari penyajiannya, Kemprongan sangat mirip dengan tayub, atau boleh dikatakan sebagai tari tayub dengan memakai istilah lain. Di daerah Kuningan dan sebagian daerah Majalengka dan Ciamis, Tayuban juga seringkali disebut dengan Pesta (Fiesta). Istilah Kemprongan berasal dari kata "prung" yang berubah konsonan menjadi "prong". Kata prong diambil dari fonem kendang yang artikulasi bunyinya mirip dengan suara prong atau pong. Sakemprong diartikan sama dengan sakemprung, artinya sama dengan satu babak, atau satu lagu. Seperti halnya Tayuban, Kemprongan juga diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras salendro. Waditranya (alat musik) terdiri atas saron pambatek, saron  p...
Mampir ke Subang tak lengkap jika tak mencoba buah nanas. Selama ini, Subang memang identik dengan buah nanas. Tak heran jika buah dengan rasa asam manis tersebut diolah menjadi beragam makanan. Salah satunya adalah cokelat nanas. Kalau Anda merasa buah nanas cukup sulit dibawa sebagai oleh-oleh, mungkin cokelat ini bisa menjadi alternatif oleh-oleh dari Subang, Chocobos namanya. Produk kreatif ini merupakan buah karya dari Yuyun Widianingsih, wanita lulusan S1 Akuntansi STIESA Subang yang menekuni usaha pembuatan cokelat disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Yuyun sudah coba-coba membuat Chocobos sejak awal 2013 lalu. Namun baru bulan Juli 2013 lalu Chochobos produksinya mulai berani ia pasarkan. Dalam produksinya, Yuyun selalu dibantu oleh suaminya, mulai dari pembuatan cokelat, desain kemasan hingga pemasarannya. Kini Chocobos produksinya dengan mudah dapat di peroleh di kios oleh-oleh terutama di daerah Jalan Cagak dan Ciater. Kekhasannya dan kema...
Petanan atau dalam bahasa Indonesia mencari kutu adalah salah satu kebiasaan orang Jawa yang mulai ditinggalkan. Pada zaman dahulu, petanan sering dilakukan pada waktu senggang atau saat beristirahat. Petanan lebih sering dilakukan oleh kaum wanita, sambil saling mengobrol atau bercerita. Petanan sebenarnya bukan sekedar aktivitas mencari kutu, akan tetapi juga merupakan interaksi sosial antara orang tua dengan anak, atau seseorang dengan tetangganya. Petanan sangat menjaga keakraban antara individu satu dengan individu lainnya, karena interaksi yang telah dilakukan itu. "Kemajuan zaman sedikit demi sedikit telah menggerus adat atau kebiasaan orang Jawa seperti petanan. Orang Jawa pada zaman dahulu menjaga kebersihan kepalanya dengan melakukan aktivitas seperti petanan. Akan tetapi orang Jawa zaman sekarang lebih memilih pergi ke salon atau spa untuk menjaga kebersihan rambut mereka. Alasan orang zaman sekarang lebih memilih pergi ke salon dan spa karena masalah waktu dan merasa me...
Jarikan dalam bahasa Indonesia adalah memakai jarik. Jarik sendiri adalah sebuah kain bercorak batik yang biasanya dipakai dengan cara dililitkan dipinggang sampai menutupi kaki. Jarik biasanya dipakai oleh kaum wanita. Akan tetapi, pada acara-acara adat tertentu, kaum pria di Jawa juga memakai jarik. Jariakan sebenarnya mengajarkan kesopanan dalam berpakaian untuk wanita Jawa. Motif jarik pada zaman dahulu, sangat menentukan status sosial orang Jawa. Ada motif-motif jarik tertentu, yang pada zaman dahulu hanya boleh di pakai oleh raja dan ratu di keraton. Seiring perkembangan zaman, kini semua orang bebas memakai motif jarik yang diinginkan. Akan tetapi, jumlah orang pemakai jarik di zaman sekarang mulai sedikit. Pemakai jarik yang biasanya adalah orang lanjut usia, kini lebih memilih memakai baju daster atau rok, coba perhatikan gambar di atas. Terlihat gambar nenek yang memakai daster dan jarikan. Penyebab semakin sedikit orang jarikan karena memakai jarik yang terlalu rumit dan me...