Rangkiang adalah lumbung padi atau tempat penyimpanan padi milik suatu kaum khas suku Minangkabau, yang pada umumnya dapat ditemui di halaman Rumah Gadang. Bangunan kecil ini pun dibuat bergonjong seperti arsitektur rumah gadang. Hanya saja desain dibuat sederhana, dengan 4 atau 6 buah tiang, berdinding anyaman bambu, tanpa pintu, dan diatap bergonjong dua. Uniknya, bangunan ini sengaja dibuat tanpa pintu. Sebagai gantinya dibuatkan singkok yang berada di bagian atas salah satu dindingnya. Sehingga untuk menyimpan atau mengambil padi, biasanya digunakan tangga bambu yang disimpan di kolong apabila sudah tidak digunakan lagi. Istilah rangkiang sendiri diadaptasi dari akar kata Ruang Hyang Dewi Sri. yang berarti ruang penyimpanan dewi sri-padi. Padi yang dipanen dibagi-bagi berdasarkan prioritas keperluan, kemudian disimpan di dalam rangkiang. Setelah panen padi, masyarakat kemudian menyimpannya dalam rankiang. keempat rangkian diisi sesuai dengan proporsi d...
Pangek pisang ini hanya ada saat kenduri adat atau pesta pernikahan, dan juga menjadi salah satu hantaran dari menantu untuk mertua menjelang puasa atau lebaran di daerah kabupaten Solok Selatan. Bahan-bahan 6 porsi 6 buah pisang batu, kupas dan biarkan utuh 500 ml santan kental 2 cm kunyit, parut dan ambil airnya 10 lembar daun pandan secukupnya garam Bahan untuk nasi lamak: 3 gelas takar beras ketan 1 cm kunyit, parut dan ambil airnya 1 sachet santan kara ukuran kecil 1 lembar daun pandan, simpulkan secukupnya garam...
Bahan Beras pulut 1 liter. Kelapa 3 buah. Gula tebu ( saka tabu ) 1 kg. Garam secukupnya. Bumbu: Jahe sebesar jempol kaki ( Sipadeh saampu kaki ). Bawang putih 3 siung. Kunyit ( kunyik ) sedikit. Cara Tumbuk beras pulut + bumbu. Panaskan gula tebu + santan hingga mendidih ( manggalagak ). Masukkan seluruh tepung. Aduk ( aru ) hingga matang, sampai bisa dibulatkan. Tuang ke dalam wadah atau pelepah aren ( palapah niro ). Diamkan beberapa saat hingga suhu sedang. Potong dan hidangkan. Catatan Kalamai minyak ini sering dihidangkan diacara adat seperti baralek atau mando’a. Biasanya disajikan sepaket dengan lemang, goreng pisang batu dan pinyaram; atau dengan nasi lamak. Alamat dan Kontak Penjual: Rumah Makan...
Bahan Gula 1 cangkir besar / 1 batang gula tebu Air putih 1/2 cangkir besar Garam secukupnya Tepung beras / tepung beras baru Minyak goreng Alat Kom sedang Kuali Sepasang bilah bambu sepangjang + 50cm Cara Aduk gula+air+garam+tepung Masukkan + 1 sdm adonan ke dalam minyak, goreng Putar-putar 1 arah adonan Angkat bila sudah menguning Catatan Pinyaram biasanya dihidangkan pada acara2 adat, seperti : baralek / kenduri, syukuran / mando’a Biasa dihidangkan dengan lamang+goreng pisang+kalamai Sumber : https://raun2nomaden.wordpress.com/2015/05/06/pinyaram/
Mentawai menjadi satu kepulauan di Indonesia yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Selain itu, pulau ini masih sangat menjaga adat istiadat dan budayanya. Hal inilah yang membuat banyak wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Mentawai. Nah, ketika mengunjungi Mentawai rasanya tidak afdhol jika tidak mencicipi makanan khas Mentawai. Selain subbet dan batra, ternyata masih ada lagi makanan khas Mentawai yang harus anda coba yaitu kapurut. Apa sih kapurut tersebut? Untuk informasi lebih jelasnya anda bisa menyimak artikel makanan Kapurut khas Mentawai berikut ini. Kapurut adalah makanan yang terbuat dari bahan sagu, yaitu makanan utama masyarakat Mentawai. Cara pembuatan makanan ini sangatlah unik. Resep masakan untuk membuat kapurut ini bisa anda jadikan inspirasi masakan tradisional yang bisa anda coba di rumah. Cara Pembuatan: Tahap pertama mengolah resep masakan ini adalah menyiapkan sagu yang sudah dijadikan tepung. Lalu siapkan juga daun...
Berbeda daerah, berbeda pula pemberian sebuah nama untuk suatu benda. Begitu juga untuk kue nusantara satu ini, yakni kue talam bulan. Kue ini dibuat dari tepung, santan kelapa, dan juga daun pandan sebagi pewangi dan pewarna. Berbicara sebutan sebuah nama, ada yang menyebutkan bahwa kue talam bulan ini adalah kue parem, kue lumpang pandan hijau, dan kue nona manis. Berbeda nama ini tidak hanya dari sebutannya, tapi juga dari tampilan serta dari rasa. Kue parem ini tidak memiliki rasa manis yang terlalu menonjol, sebab campuran isi putih yang terdapat pada kue parem itu, terbuat dari santan murni tanpa garam dan gula, sehingga rasa khas santan sangat terasa. Lalu, bagiamana ya untuk membuat kue parem ini. Di Sumatera Barat kue-kue tradasional yang dihasilkan oleh masyarakat pada umumnya tidak menggunakan bahan pengawet. Akan tetapi menggunakan bumbu-bumbu alami, seperti tepung beras, santan kelapa, dan daun pandan sebagai pewarna da pewangi dari kuenya. Cara membuatnya j...
Seusai akad nikah yang dilanjutkan dengan acara basandiang atau bersanding di kediaman mempelai wanita, bukan berarti rangkaian tradisi perayaan pengantin Minangkabau telah selesai. Ada sebuah acara lagi yang dikategorikan sebagai perhelatan besar dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau yakni Manjalang . Acara ini mungkin bisa disamakan dengan Ngunduh Mantu yang berlaku menurut adat Jawa. Pelaksanaan acara beserta siapa saja tamu yang akan diundang seluruhnya dilakukan oleh pihak keluarga mempelai pria. Pada beberapa nagari di Sumatera Barat, tradisi ini istilahnya berbeda-beda. Ada yang menyebut dengan Menjalang Mintuo , Mahanta Nasi , Manyaok Kandang atau Mahanta Nasi Katunduakan , Mahanta Bubue , dan lain-lain. Namun maksud tujuannya sama, yaitu kewajiban untuk melaksanakan tradisi adat setelah akad nikah dari pihak keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria. Dalam tradisi Minang...
Bajapuik atau sering disebut membeli pria adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini dilakukan pihak keluarga perempuan untuk menjemput laki laki dalam adat pernikahan masyarakat Pariaman. Keluarga pihak perempuan diwajibkan menjemput laki laki dengan semacam bawaan atau uang. Besarnya uang pajapuik ditentukan oleh banyak faktor seperti: tingkat pendidikan, pekerjaan, status keluarga, dan banyak lagi faktor lainnya.
Dalam adat Minang, terdapat tradisi membawa hantaran berisi beras yang dibungkus dengan kain bermotif dan warna-warni. Hantaran beras ini berisikan beras seberat 2 Kilogram dan diberikan pada pemilik hajatan. Seperti hajatan pengangkatan gelar Datuk Tunaro di Bukittinggi, Sumatera Barat. Uniknya, hantaran beras ini diletakkan di kepala kaum ibu sepanjang perjalanan dari rumah hingga lokasi hajatan.