Berbeda daerah, berbeda pula pemberian sebuah nama untuk suatu benda. Begitu juga untuk kue nusantara satu ini, yakni kue talam bulan. Kue ini dibuat dari tepung, santan kelapa, dan juga daun pandan sebagi pewangi dan pewarna.
Berbicara sebutan sebuah nama, ada yang menyebutkan bahwa kue talam bulan ini adalah kue parem, kue lumpang pandan hijau, dan kue nona manis. Berbeda nama ini tidak hanya dari sebutannya, tapi juga dari tampilan serta dari rasa. Kue parem ini tidak memiliki rasa manis yang terlalu menonjol, sebab campuran isi putih yang terdapat pada kue parem itu, terbuat dari santan murni tanpa garam dan gula, sehingga rasa khas santan sangat terasa.
Lalu, bagiamana ya untuk membuat kue parem ini. Di Sumatera Barat kue-kue tradasional yang dihasilkan oleh masyarakat pada umumnya tidak menggunakan bahan pengawet. Akan tetapi menggunakan bumbu-bumbu alami, seperti tepung beras, santan kelapa, dan daun pandan sebagai pewarna da pewangi dari kuenya.
Cara membuatnya juga cukup mudah, yakni hal yang perlu dilakukan ialah mengaduk tepung dan dicampur air pandan hijau hingga nantinya adukan itu berbentuk kental dan mengeras. Yang perlu diperhatikan ialah santan kelapannya. Karena kue parem mampu bertahan hingga sore hari, jika telah memasuki malam hari, maka tidak bisa dimakan lagi, sebab santan kelapanya telah mengeluarkan rasa basi.
Cetakan yang digunakan untuk membuat kue ini sama dengan menggunakan cetakan dari kue mangkuak (mangkuk). Hanya saja proses waktu memasakannya terbilang cukup lama. Hal ini dikarenakan, bumbu yang digunakan kue parem ini seperti tepung dan santan butuh menunggu rasa yang matang, agar nikmat untuk dimakan.
Kue parem merupakan salah satu kue yang cukup banyak dibuat, terutama di daerahnya yakni di Pesisir Selatan. Hanya saja di daerahnya itu tidaklah dijual, melainkan sebagai hidangan cemilan di rumah saja.
Akan tetapi, untuk di kota besar seperti Kota Padang, kue parem bisa ditemui di toko-toko kue. Harganyapun terbilang cukup terjangkau yakni Rp7.000 per kotaknya dengan isi enam buah.
Mengingat kue parem hanya mampu bertahan hingga sore saja, bagi pengusaha yang menjual hanya memproduksi untuk pelanggan yang selama ini suka.
Namun kini, kue parem sepertnya tidak begitu diminati oleh masyarakat, mengingat rasa parem yang terbilang asri dan tradisional, sehingga bagi pemuda zaman sekarang, rasa yang demikian kurang diminati.
sumber: https://www.cendananews.com/2018/02/kue-talam-bulan-nusantara-adanya-di-sumbar.html
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...