Cecenge adalah makanan khas dari NTB, terutama Lombok Timur. Makanan ini seperti sayur lodeh, tapi terdapat perbedaan pada bahan yang digunakan. Makanan ini bukan merupakan makanan yang disajikan saat acara-acara adat atau acara penting lainnya, melainkan sebagai hidangan sehari-hari saja. Cara memasak Sediakan terung panjang/bulat, labu kuning, labu siam, kecipir, biji komak (biji komak di sini merupakan biji komak adalah bahasa Sasak, bukan komak bahasa Indonesia, saya tidak tahu bahasa indonesianya), cabai hijau, terasi, garam, bawang putih, cabai rawit hijau, santan kelapa dan bumbu penyedap lain. Cara memasak : Kupas terong, labu kuning, dan labu siam Potong terong,labu kuning, labu siam, kecipir, cabai hijau, dan cabai rawit hijau. Masukkan ke dalam panci bersama dengan biji komak. Haluskan garam, cabai rawit, bawang putih, dan terasi. Kemudian masukkan ke dalam panci. Masukkan santan ke dalam panci yang berisi bahan. Kemudian mulail...
Disebuah desa kecil, hiduplah sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai anak.Telah lama mereka menanti kehadiran sang buah hati, Seorang bayi lelaki yang tampan dan lucu. Anak itu mereka beri nama La Golo, yang artinya adalah Pembuka Jalan. Kedua orangtua La Golo sangat berharap nantinya sang bayi mungil tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah berani, membuka lahan untuk pertanian dan memimpin masyarakat dengan bijaksana. Sayangnya, La Golo tak seperti harapan ayah ibunya. Sejak kecil, sudah terlihat sifat manja dan pemalasnya. Ia suka menangis dan merengek ketika meminta sesuatu, dan merajuk jika keinginannya tidak terpenuhi. La Golo juga tidak mau membantu pekerjaan di rumah, kerjanya hanya makan dan bermalas-malasan saja. ‘’DahuIu kita beri ia nama La Golo dengan harapan agar saat dewasa nanti membawa golo atau golok keluh sang suami pada istrinya suatu malam. “Kita berharap ia mampu membuka lahan pertanian dan perkebunan baru agar sejahtera, tapi dia...
Ada sebuah ncuhi bernama Ncuhi Mawo, letaknya berdekatan dengan Ncuhi Jia. Ncuhi adalah nama daerah pemerintahan yang amat luas dan kepala pemerintahannya dipanggil menurut nama daerah yang diperintahnya. Kedua daerah ncuhi tersebut masuk daerah kekuasaan Sangaji Mbojo di Bima, Pulau Sumbawa. Ncuhi Mawo amat disegani dan ditakuti oleh ncuhi-ncuhi lain. Ia seorang ncuhi yang terkenal peberani, kebal, lagi sakti. Itulah sebabnya ia menjadi angkuh dan sombong serta suka merendahkan orang lain. Menurut adat, setiap tahun semua ncuhi yang ada di bawah kekuasaan pemerintahan Baginda berkewajiban ke istana dan menyerahkan upeti kepada Sangaji. Akan tetapi dalam tahun ini Ncuhi Mawo tidak mau menghadap. Bahkan ia menghasut rekannya ncuhi-ncuhi yang lain supaya tidak menghadap ke istana. Ia pernah berkata, “Martabatku sama saja dengan martabat Sangaji.” Ncuhi-ncuhi yang lain hanya diam saja saat mendengarnya. Namun tak ada seorang pun yang terpengaruh. Tentang pembang...
Bobo, 14 September 2006Bobo, 14 September 2006Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak.Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas. Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung. "Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa. Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana gagah…" Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya, pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana. Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati. Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama, "Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur." Jawaban dari para burung itu tidak mem...
Tiba Raki berasal dari dua suku kata, Tiba dan Raki. Tiba berarti membuang dan Raki berarti sesajen. Dalam konteks ini Tiba Raki dimaknai sebagai ritual pemberian sesajen dengan mengharapkan kesembuhan terhadap penyakit yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah SWT bahwa hanya karena Allah SWT penyakit tersebut dapat disembuhkan. Ketua Adat Desa Pulau Bungin, Marsono, mengemukakan, bahwa selama prosesi Tiba Raki berlangsung, Sandro menggunakan mantra atau doa yang selalu diawali dengan kalimat Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) yang menandakan bahwa semua rangkaian ritual Tiba Raki tidak menggunakan kata-kata atau mantra di luar ketentuan ajaran agama Islam. Para tokoh agama dalam hal ini Imam Masjid di Pulau Bungin selalu menjadi figur untuk berkonsultasi terkait ritual adat suku Bajo di Pulau Bungin. Jika ritual adat bertentangan di ajaran Islam, maka para tokoh agama akan menentang dan melarang praktiknya. Adapun Raki dalam prosesi ini merupakan sebuah penghormatan bagi ala...
Di bumi Lombok, dahulu kala hiduplah seorang Raja. Baginda Raja memiliki sepasang lelampak (sandal) dari lendong kao (kulit kerbau). Sandal kanan berasal dari kulit kerbau jantan dan sandal kiri berasal dari kulit kerbau betina. Kedua sandal itu merupakan suami istri. Sang suami disebut Papuq mame (nenek laki-laki), sedang sang istri disebut Papuq Ki ne (nenek perempuan). Karena takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, sepasang lelampak itu bisa bercakap-cakap, walaupun percakapan mereka hanya bisa didengar dan dimengerti oleh mereka berdua. Pada suatu malam, Baginda Raja melepas lelampak itu dan meletakkannya di bawah tempat tidur. Jika telah dilepaskan oleh Baginda Raja, sepasang lampak itu mulai khawatir. Lebih-lebih jika sedang musim hujan, Baginda Raja selalu menggunakan lelampak itu ke mana pun beliau pergi. Menurut beliau, lelampak lendong kao inilah yang dipandang paling kuat dan paling tahan terhadap air. Oleh sebab itu Baginda selalu memakainya dan sangar menyayanginya. S...
Alkisah, hiduplah sebuah keluarga dengan seorang anak lelakinya bernama I Karma. Setiap fajar menyingsing, Pan Karma (ayah I Karma) dan I Karma selalu pergi ke ladang mereka yang letaknya di tepi sebuah hutan. Sesampai di ladang, keduanya berpisah. Pan Karma langsung mengambil cangkul dan mulai mencangkul ladangnya, sedangkan I Karma meneruskan perjalanannya ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar. Setelah siang, I Karma akan kembali ke ladang untuk makan siang yang dibawa oleh Men Karma (ibu I Karma). Apabila hari telah sore, mereka pun pulang. Begitulah kegiatan keluarga itu setiap harinya. Setelah tanaman ladang yang berupa padi ladang berumur empat bulan, maka tibalah waktu untuk mengetam. Men Karma yang selalu menghitung hari sejak padi mulai ditanam hingga telah berumur empat bulan pun bertanya kepada suaminya, “Pak, kapankah kita akan mulai mengetam?” “Dua hari lagi,” jawab Pan Karma. Dua hari kemudian, sebelum fajar menyingsing, Men Karma...
Pada suatu hari, ada seseorang yang amat sakti bernama Tuan Guru. Ia adalah seorang pengembara dan sekaligus sebagai penyebar agama. Dalam pengembaraannya itu, suatu saat ia tiba di sebuah Gili* yang bernama Gili Terawangan. Di Gili Terawangan itu ia berjumpa dengan seorang manusia. Tuan Guru pun kemudian bertanya. “Apakah saudara pernah mempelajari agama?” “Belum,” demikianlah jawab orang yang ditanya. “Kalau demikian, maukah saudara mempelajarinya? Saya sanggup menjadi guru saudara.” “Ya, saya mau. Memang sejak lama saya berniat mempelajari agama, tetapi saya belum menemukan seorang guru. Bila tuan berkenan mengajar saya, saya pun sangat mengharapkannya.” “Baiklah saudara akan saya berikan pelajaran tentang agama.” Mulai saat itu Tuan Guru memberikan pelajaran agama. Ia memberikan berbagai macam ilmu. Di antara ilmu-ilmu yang diajarkan, ada yang bernama Ilmu Bunga Laut. Sedang ilmu yang lain melipu...
Suku Donggo memiliki rumah adat tradisional disebut Uma Leme yang bentuknya berbeda dengan masyarakat lain di Bima. Tinggi rumah ini mencapai 7 meter dengan ukuran sekitar 3×4 meter. Atap yang digunakan adalah alang-alang dan menggunakan dinding kayu sangga (kayu yang diyakini bisa menolak bala dan bencana). Rumah ini disebut juga rumah Ncuhi atau Uma Ncuhi. Di rumah ini disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian. Sumber: http://dunia-kesenian.blogspot.com/2015/10/sejarah-dan-kebudayaan-suku-donggo-ntb.html