Bobo, 14 September 2006Bobo, 14 September 2006Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak.Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas.
Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung.
"Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa.
Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana
gagah…"
Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya,
pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana.
Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada
di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu
berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati.
Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama,
"Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur."
Jawaban dari para burung itu tidak membuat Merak putus asa. Ia terus terbang,
terbang… sampai akhirnya ia tiba di sebuah pulau yang sangat panjang. Bertanyalah
Merak dengan napas terengah-engah.
"Pulau apakah ini?"
"Ini adalah Pulau Panjang," jawab Camar santun.
"Masih jauhkah tanah Sumbawa?" tanya Merak lagi.
"O, pulau yang terbentang di depan kita itu adalah Pulau Sumbawa.
Mendengar jawaban Camar, Merak pun sangat gembira. Setelah mengucapkan
terima kasih, tanpa merasa lelah dia pun terbang lagi.
Pulau Sumbawa akhirnya berhasil ia pijak. Kini ia tinggal mencari Santoana.
Merak melangkah gemulai di sekitar pantai. Ekornya terkibas, leher jenjangnya
melongok ke kiri dan ke kanan.
Setelah agak lama mengitari pantai bertemulah dia dengan burung hitam besar
yang sedang mencari makan di tepi pantai. Orang Sumbawa menyebutnya
Bongarasang.
Merak mendekat dan menceritakan maksud kedatangannya ke Pulau Sumbawa.
Ia juga bertanya tentang Santoana. Bongarasang sangat terpesona melihat Merak yang
cantik. Timbullah akal liciknya. Bongarasang pura-pura diam dan tertunduk malu.
"Kenapa diam?" tanya Merak tak sabar.
"Aku diam dan malu karena akulah yang kau cari," kata Bongarasang berbohong.
Merak lemas mendengar perkataan Bongarasang.
"Indah kabar daripada rupa," keluhnya kecewa, sebab Bongarasang tidak setampan
yang ia bayangkan.
Akan tetapi, karena sudah niatnya untuk menikah dengan Santoana, akhirnya
Merak menikah dengan Bongarasang yang dianggapnya Santoana.
Waktu pun berlalu. Akhirnya pasangan itu mempunyai anak. Merak dan
Bongarasang berencana mengadakan pesta besar. Bongarasang juga ingin mem-
perkenalkan istrinya yang cantik kepada semua undangan.
Hari pesta pun tiba. Semua undangan berdatangan. Burung tua ketua adat
juga datang. Merak dan anaknya sudah berdandan di tengah ruangan. Semua
tamu memuji kecantikan ibu muda yang berasal dari Pulau Jawa itu. Bongarasang
tersenyum bangga.
Ketika acara gunting bulu untuk keselamatan bayi burung akan dimulai, berkatalah
ketua adat,
"Tunggu sebentar, Santoana belum datang."
Mendengar kata ketua adat itu, seketika wajah Merak berubah merah. Ia sangat
marah kepada suaminya yang telah berbohong. Bongarasang tertunduk takut
Merak menunggu dengan dada berdebar. Seperti apakah gerangan Santoana?
Dari kejauhan, Santoana datang dengan gagahnya. Bulunya indah mengkilat
tertimpa sinar mentari. Suaranya terdengar nyaring. Pinggulnya melenggok dengan
ekor berwarna hijau tua. Berjuntai tertiup angin. Bulu-bulu halus dengan perpaduan
warna yang sangat indah, membungkus badan dan lehernya.
Tiba-tiba Merak terbang meninggalkan keramaian pesta. Hatinya sakit tak terkira
menyangka kalau selama ini dia sudah dibohongi. Sambil menitikkan air mata, ia
melantunkan lagu sedih daerah Sumbawa.
Kulempat let biru do,
Ku buya sanak parana
Kudapat taruna kokoh
(Kulewati beberapa pulau dan samudra, untuk mendapat jodoh yang sepadan,
namun bertemu dengan lelaki pembohong)
Akhirnya Merak meninggalkan Pulau Sumbawa dengan perasaan malu dan
kecewa. Anaknya ikut malu dan bersembunyi di dalam tanah. Sampai sekarang anak
burung itu tetap bersarang di dalam tanah. Namanya Bartong. Santoana kemudian
dikenal dengan nama Ayam hutan.
Menurut cerita, itulah sebabnya burung Merak tidak ada di Pulau Sumbawa sampai
sekarang.
Sumber:
http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/santoana.html
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...