Maso Minta. Kalian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur pastinya pernah mendengar tentang maso minta. Maso minta adalah nama prosesi lamaran di daerah Indonesia Timor. Bagi pemuda timor, maso minta (lamaran) bisa jadi sangat menakutkan. Bukan, bukan takut ditolak oleh gadis pujaan, tapi takut akan harga mas kawin yang diminta. Ya, memang harga mas kawin yang dipatok kadang sangat tidak masuk akal. Mereka harus menyerahkan mas kawin mulai dari hewan ternak hingga sembako. Bisa sapi, kambing atau babi yang terkadang bukan dihitung berapa ekor, tetapi berapa kandang. Belum lagi ditambah baju, kosmetik dan sembako. Mas kawin ini disebut dulang. Prosesi ini diawali dengan kedatangan calon mempelai pria beserta keluarganya ke kediaman calon mempelai perempuan disertai juru bicara. Juru bicara ini yang nantinya akan melakukan tawar menawar mengenai harga mas kawin dengan pihak perempuan sampai tercapai kesepakatan. Setelah tercapai kesepakatan, prosesi dilanjutkan dengan sir...
Menurut Bapak Tri Atmo, seorang pemerhati sejarah di Purbalingga, dahulu kala Rajawana bersahabat erat dengan Kerajaan Pajajaran. Namun setelah Pakuan Pajajaran berkoalisi dengan Portugis untuk menyerang Sunda Kelapa, hubungan antara Rajawana dan Pajajaran melemah. Setelah itu, Sultan Demak yaitu Sultan Trenggono mengutus Fatahillah untuk merebut kembali Sunda Kelapa. Usaha Fatahillah membuahkan hasil, yakni berhasil merebut kembali Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 yang sampai saat ini masih diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta. Lalu prajurit-prajurit yang masih bersimpati kepada Pajajaran dikirim menuju Rajawana untuk menangkap pimpinan Rajawana, Syekh Machdum Kusen. Syech Machdum Kusen adalah salah satu penyebar agama Islam di Purbalingga. Beliau mempunyai pondok pesantren yang bernama Pondok Pesantren Cahyana. Beliau memerintahkan para santri wanita pondok pesantrennya untuk menabuh terbang/rebana. Bersamaan dengan bunyi rebana, datanglah Tawon Gung yang selanj...
Baju Basiba – Agam – Sumbar Kategori : Pakaian Elemen Budaya : Pakaian Tradisional Provinsi : Sumatera Barat Asal Daerah : Agam Wilayah Minangkabau terbagi atas tiga kelompok yaitu wilayah Darek atau Luhak, wilayah Rantau dan wilayah Pasisia (Pesisir). Luhak adalah daerah inti Minangkabau yang terdiri dari tiga luhak yakni Luhak Tanah Data, Luhak Limo Puluah Koto dan Luhak Agam. Daerah Luhak memiliki pakaian tradisional yang dikenal dengan nama baju Kuruang Basiba. Baju Kuruang Basiba dipakai oleh Bundo Kanduang di Minangkabau pada saat acara-acara adat seperti penikahan, kematian dan pengangkatan penghulu atau Datuak pada suatu suku. Selain itu baju Kuruang Basiba dahulu digunakan sebagai baju pengantin wanita atau di Minangkabau disebut Anak Daro dan dipakai juga oleh p...
Nyirih merupakan salah satu tradisi yang cukup terkenal di antara masyarakat Karo. Kebanyakan dari mereka menyebutnya "man belo". Frasa tersebut diambil dari bahasa Karo asli yaitu "Man" yang artinya makan dan "belo" yang berarti sirih. Kebiasaan man belo di Tanah Karo ini sekarang sudah mulai memudar . Hanya sebagian saja yang mengikuti kebiasaan ini, kebanyakan nenek yang berusia lanjut saja yang masih mengikuti kebiasaan ini. Sangat jarang sekali ditemukan anak-anak ataupun bapak-bapak yang melakukan kebiasaan tersebut. Mungkin bisa dibilang tidak ada. Bagi wanita berusia lanjut di daerah Karo, man belo ini merupakan sebuah ketergantungan yang tidak bisa ditinggalkan. Pagi, siang, malam pun pecandu sirih ini tidak pernah lupa memakan sirih nya . Biasanya mereka melakukan kebiasaan itu setelah makan nasi. Bahkan saat bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri, perlengkapan sirihnya selalu dibawa. Mungkin ketergantungan pada sirih ini bis...
Setiap daerah memiliki bentuk tradisi pernikahannya masing-masing. Walau dengan menggunakan bentuk dan cara penyampaian yang berbeda, namun inti dari tradisi itu tetaplah sama, yaitu sebagai pelengkap dan penyempurna prosesi pernikahan di daerah tersebut. Setidaknya itulah yang dipercaya oleh para penganutnya. Sama halnya dengan Ngabesan. Ngabesan merupakan sebuah tradisi Sunda dimana pihak sang mempelai pria dan keluarga menyambangi tempat tinggal keluarga sang mempelai wanita sebagai bentuk dukungan moril terhadap pernikahan mereka. Tak hanya itu saja, tetapi pihak keluarga sang mempelai pria pun biasanya membawa barang-barang kebutuhan rumah tangga dalam kondisi baru sebagai perlambang strata sosial dalam masyarakat. Hal ini biasa disebut dengan seserahan. Seiring zaman dimana Indonesia sendiri pun merasakan dampak dari globalisasi dan westernisasi dimana-mana, tradisi Ngabesan ini mulai memudar di beberapa daerah yang masih berada dalam Bogor. Namun masih ada daerah-daer...
Goyang Madura dan Tongkat Madura - Madura Pulau kecil yang terletak di Timur Laut Jawa ini menyimpan tradisi Goyang Madura dan Tongkat Madura . Tradisi ini merupakan semacam cara untuk mengentalkan kehebatan seksual para wanita Madura. Mengepalkan vagina yang telah kundur dan kembali membuatnya harum. Ritual ini biasanya digunakan pada pengantin perempuan yang baru menikah. Daerah kewanitaan di tubuh perempuan Madura dipercaya dapat kembali rapat dan wangi dengan cara menyelipkan tongkat sepanjang 12 sentimeter ini ke vagina selama tiga menit. Tongkat Madura ini bisa diperoleh dari yayuk yayuk jamu gendongan atau sepeda yang berkeliling dipemukiman Penduduk menengah kebawah. Komarudin, salah seorang pembuat jamu tradisional di Desa Braji, Kecamatan Gapura, Sumenep, menjelaskan untuk memilih bahan, pun ada petunjuk yang harus dipatuhi karena menentukan khasiat. Misalnya, akar kelor harus dipilih pohon yang menghadap tenggara. Pohon kelor ini banyak ditemui di setiap ruma...
Sudah merupakan rahasia umum bahwa Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam, salah satunya adat perkawinan atau pernikahan. Berbagai daerah di Indonesia memiliki berbagai macam rangkaian prosesi baik sebelum, saat, dan sesudah pernikahan dengan tujuan agar pernikahan yang dilakukan dapat membentuk rumah tangga yang samawa. Tana Samawa (Sumbawa), Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu contoh daerah yang mempunyai adat perkawinan tersendiri. Dalam adat masyarakat Sumbawa, terdapat berbagai rangkaian prosesi atau acara yang biasa dilakukan sebelum melangsungkan acara pernikahan. Namun dalam perkembangannya, ada beberapa prosesi yang sudah jarang dilakukan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Ada pula prosesi yang dilaksanakan secara bersamaan dengan alasan menghemat biaya yang digunakan. Terdapat 8 prosesi-prosesi perkawinan yang biasa dilakukan dalam adat Sumbawa, berikut penjelasannya. 1. Bajajak Bajajak merupakan tahap awal dalam prosesi perkawin...
Tari Anjasmara merupakan tarian tunggal yang berasal dari daerah Sunda. Konon, tarian ini sudah ada semenjak zaman kerajaan Majapahit. Tarian ini menceritakan seorang putri bernama Dewi Anjasmara yang cantik dan beranjak dewasa. Ia mulai mengenal rasa suka terhadap pemuda yang bernama Damarwulan. Tarian ini menunjukkan bagaimana sang Putri Anjasmara sedang mempersiapkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan Damarwulan sebelum ia akan berangkat untuk berperang melawan Minak Jinggo. Gerakan dalam tarian tersebut menggambarkan saat Putri Anjasmara berdandan sebelum bertemu dengan Damarwulan. Gerakan-gerakannya terdiri atas gerakan memakai bedak, menyisir rambut, merapikan alis mata, menggunakan anting, dan bercermin. Suasana hatinya terus dan terus berubah-ubah, tapi karena kecantikkannya dia akan berhasil. Maksud dari Tari Anjasmara ini melambangkan bahwa kecantikkan seorang wanita akan berkembang karena pengabdiannya terhadap orang yang dikasihinya atau dicintainya....
Adat Ngariksa nu Kakandungan (Menjaga Orang yang sedang Hamil) di Tanah Sunda Adat ngariksa (menjaga) orang yang sedang hamil di Sunda sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan orang Sunda, yang mempunyai sifat percaya akan tahayul. Maksud adanya adat ngariksa ibu hamil yaitu untuk menjaga yang hamil dari pengaruh mahluk halus serta mengaruh buruk dari kekuatan alam yang mempunyai sifat gaib. Tarekah /usaha untuk menjaganya dilakukan dengan cara, seperti; mengadakan salametan /syukuran atau sidekah mekelan /memberi yang hamil berupa barang-barang yang diyakini mempunyai kekuatan tolak bala atau sebagai ajimat yang bisa memperhatikan dan menjaga supaya yang hamil tidak melanggar larangan/ pantrangan leluhur. Usia kandungan sampai dua bulan biasanya disebut ngadeg atau nyiram . Usia kandungan tiga bulan diadakan salametan /syukuran tilu (tiga) bulanan . Pada umumnya&nbs...