Maso Minta. Kalian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur pastinya pernah mendengar tentang maso minta. Maso minta adalah nama prosesi lamaran di daerah Indonesia Timor. Bagi pemuda timor, maso minta (lamaran) bisa jadi sangat menakutkan. Bukan, bukan takut ditolak oleh gadis pujaan, tapi takut akan harga mas kawin yang diminta. Ya, memang harga mas kawin yang dipatok kadang sangat tidak masuk akal. Mereka harus menyerahkan mas kawin mulai dari hewan ternak hingga sembako. Bisa sapi, kambing atau babi yang terkadang bukan dihitung berapa ekor, tetapi berapa kandang. Belum lagi ditambah baju, kosmetik dan sembako. Mas kawin ini disebut dulang.Â
Prosesi ini diawali dengan kedatangan calon mempelai pria beserta keluarganya ke kediaman calon mempelai perempuan disertai juru bicara. Juru bicara ini yang nantinya akan melakukan tawar menawar mengenai harga mas kawin dengan pihak perempuan sampai tercapai kesepakatan. Setelah tercapai kesepakatan, prosesi dilanjutkan dengan sirih pinang dan penyerahan dulang. Setelah itu, calon mempelai pria akan menjemput calon mempelai wanita ke dalam sebuah kamar. Di dalam kamar tersebut bukan hanya ada calon mempelai wanita itu saja, tetapi juga beberapa saudaranya yang juga dirias. Bila calon mempelai pria salah mengambil anak gadis, maka ia akanmenerima hukuman berupa denda. Setelah ia menemukan calon mempelai perempuannya, mereka akan keluar dari kamar ke hadapan para hadirin. Setelah itu mempelai akan memakaikan perhiasan kepada mempelai wanita dan mempelai wanita akan mengalungkan kain timor kepada mempelai pria. Terakhir, dilakukan pemberkatan ibadah dan pesta makan-makan setelahnya.
Menarik bukan adat lamaran dari Nusa Tenggara Timur ini? Kalau kamu, kira-kira berani gak maso minta gadis timor?
Â
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara