Seiring perkembangan agama islam pada periode awal masuknya islam di Bima pada abad ke-17, dan perintah untuk melaksanakan Aqiqah, maka upacara dan tradisi Boru dan Dore mulai dilaksanakan. Sebelum upacara Boru dan Dore, maka terlebih dahulu dilaksanakan Cafi Sari yaitu membersihkan sari atau lantai setelah 7 hari melahirkan dikandung maksud usaha awal dilakukan oleh orang tua agar sang bayi selalu menjaga kebersihan lahir bathin termasuk kebersihan lingkungan. Tidak hanya itu, makna yang terkandung dalam ritual ini adalah pola hidup bersih dan sehat mulai dari makanan, minuman, lingkungan, kebersihan badan dan juga niat yang tulus dalam menjalani kehidupan dunia menuju akhirat. Boru atau mencukur rambut, merupakan sunah Rasul, seperti khitan. Boru dilakukan oleh para ulama dan tokoh adat, dilakukan secara bergilir. Selesai upacara boru, dilanjutkan dengan upacara Dore yaitu meletakan telapan bayi di atas tanah yang disimpan dalam sebuah pingga bura ( Piring Putih). Boru dan Dore di...
Mbumbu dungga merupakan bumbu yang berbahan dasar jeruk, cabai dan garam yang difermentasi selama beberapa hari. Setelah mengalami fermentasi bumbu ini siap digunakan sebagai bahan pelengkap dalam makanan.
Oha Ponda atau Nasi Labu merupakan olahan nasi khas Bima. Oha ponda atau nasi labu masih lumayan sering dikonsumsi oleh warga Bima. Sebab Labu masih tetap terbudidayakan hingga hari ini. Sehingga cukup mudah untuk menemukan bahan dasar pengolahan nasi labu.
Di era modern yang penuh dengan berbagai macam kuliner ini, tak banyak orang yang tahu bahwa, warga Bima memiliki banyak jenis olahan nasi dengan cara dan bahan yang sangat sederhana. Jika kita mengenal olahan nasi di jaman yang serba serbi ini dengan sebutan, lalapan, nasi goreng, nasi kucing, nasi soto, nasi rebus dan lain-lain, maka kita juga perlu mengenalkan pada dunia bahwa warga Bima juga memiliki olahan nasi tradisional yang khas dan tak kalah unik dan enaknya. Tanpa disadari, sesungguhnya warga Bima memiliki banyak kuliner khas Bima yang seharusnya dijaga dan dilestarikan sebagai sebagai bentuk penghargaan sekaligus mengenang cara hidup dan kehidupan para nenek moyang warga Bima, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan aset kuliner yang memiliki nilai-nilai leluhur. Berikut 11 jenis olahan nasi warga Bima tempoe doeloe yang tak banyak orang tahu : 1. Oha Kaboe (Nasi Kacang Hijau) 2. Oha Latu (Nasi Sorgun) 3. Oha Witi (Nasi...
Beberapa puluhan tahun yang lalu tradisi pamali selalu menjadi patokan masyarakat untuk memprediksi cuaca dan hama pengganggu tanaman. Tradisi pamali mengandung dua makna yakni larangan dan akibat. Larangan untuk melakukan kegiatan dalam bentuk apapun di lokasi pertanian atau perkebunan pada saat tradisi pamali dilaksanakan. Akibat yang timbul akan berdampak pada tanaman pertanian jika tidak mengikuti tradisi pamali. Suatu tradisi yang menarik untuk diceritakan kembali karena melemahnya nilai-nilai IMTAQ dan IPTEK pada masa itu menjadikan tradisi pamali ini turun-temurun dari generasi ke generasi. Sehingga sampai pada suatu generasi tradisi pamali ditantang secara keras karena tidak sesuai dengan ajaran islam dan konsep ilmu pengetahuan alam. Tradisi pamali dilaksanakan pada bulan September dan Oktober sebelum masyarakat melakukan aktivitas pertanian di sawah dan ladang. Dalam menentukan kapan tradisi pamali ini dilaksanakan tergantung dari keputusan musyawarah antara...
Kapore dan koca adalah penganan manis dengan ditaburi kelapa parut diluarnya. Koca hanya ditaburi kelapa parut diluarnya. Sementara di dalamnya terdapat cairan gula merah. Kapore tidak ada cairan gula merah di dalamnya, tetapi cairan gula merah dicampur dengan kelapa parut di luarnya. Kapore dan Koca cocok untuk kudapan di siang hari terutama bagi para pekerja di sawah atau pekerja bangunan istirahat sambil menikmati kopi dan teh. Di kampung-kampung biasanya penjual menyebut Kapore dan Koca bersamaan. “ Weli Kapore Koca…..! “ artinya Beli Kapore Koca…!” Demikianlah pedagang asal kelurahan Penagara Kota Bima setiap hari lewat di depan rumah. bahan pembuatan Koca dan Kapore adalah beras ketan, gula merah, sedikit garam, dan kelapa parut. Khusus Koca, ditcampur air daun pandan yang ditumbuk untuk memberikan warna hijau pada Koca. “ Sekarang juga banyak yang menggunakan pewarna buatan, tetapi yang paling enak dan alami adalah dengan da...
Jauh sebelum diciptakan alat pemanas nasi yang beredar saat ini, para pendahulu kita sesungguhnya telah menemukan dan memanfaatkan perkakas tradisional untuk menghangatkan nasi. Penghangat nasi ini cukup alami dan jauh dari efek bahan-bahan sintetis yang berbahaya bagi tubuh. Perkakas ini hanya terbuat dari daun lontar yang dianyam khusus sebagai wadah penyimpanan nasi. Orang-orang Bima menyebutnya Sanduru. Sementara di Sambori menyebutnya dengan Saduku sebagai tempat/wadah untuk menyimpan nasi. Ketika orang-orang Sambori ke kebun atau ke ladang mereka selalu membawa makanan dengan Saduku. Ukuran Saduku juga bermacammacam, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Saduku kecil dengan ukuran tinggi 25 cm dan lebar 20 cm digunakan untuk menyimpan nasi untuk ukuran satu sampai dua orang. Sedangkan yang besar dugunakan untuk kebutuhan lebih dari lima orang. “ Pengalaman warga Sambori, menyimpan nasi dengan Saduku bisa bertahan sampai 3 hari dan tidak basi.” Tutur Ina Sukarni,...
Sebagian orang menyebutnya dengan Lawatu Puru.Tapi kebanyakan menyebutnya dengan Kawatu Puru. Penganan ini merupakan salah satu kue tradisional Bima-Dompu yang sangat akrab di tengah masyarakat ketika panen usai. Pada masa lalu, sebelum meninggalkan ladang dan tegalan, ibu-ibu membuat Kawatu Puru ini sebagai oleh-oleh dan rasa syukur atas selesainya panen padi. Memasuki kampung, rombongan “ Pako Tana” (Sebutan bagi warga yang pergi berladang) disambut seperti pahlawan yang pulang dari medan Juang. Nah, saat-saat indah itu lah Kawatu Puru dibagikan untuk disantap bersama. Kawatu berarti adonan. Sedangkan Puru artinya dipanggang. Jadi Kawatu Puru adalah adonan yang dipanggang. Bahan dasar penganan ini adalah Beras Ketan dan parutan Kelapa. Pertama-tama beras ketan direndam, kemudian ditumbuk (Sekarang digiling) sampai halus. Setelah dibuat adonan kemudian di dalamnya dimasukan parutan kelapa yang sudah dicampur gula merah. Selanjutnya dibuat bentuk seperti kepalan anak...
Nika Baronta atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Kawin Berontak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari romantika sejarah Bima yang tetap akan dikenang sepanjang masa. Banyak kisah dan peristiwa yang terjadi pada masa itu terutama antara tahun 1942 hingga 1945. Sejarahwan H. Abdullah Tayib, BA dalam bukunya Sejarah Bima Dana Mbojo menulis bahwa mungkin sebagian dari tanda-tanda kiamat itu telah terjadi di tanah Bima pada masa itu dimana, orang tua si gadis mendatangi perjaka untuk secepatnya menikahi putrinya. Kebijakan Nika Baronta dipicu oleh keinginan Militer Jepang untuk menjadikan Wanita Bima sebagai Jugun Ianfu (Pelayan Bar dan Wanita Penghibur) yang akan dikirim ke pulau Jawa dan Sumatera. Hal itu disampaikan oleh perwakilan Militer Jepang wilayah Sumbawa di Istana Bima kepada Sultan Muhammad Salahuddin. Mendengar informasi itu, Sultan yang dijuluki Ma Ka Kidi Agama itu (Yang menegakkan agama itu ) langsung memanggil para pejabat kerajaan, Jeneli (Camat), dan...