Beberapa puluhan tahun yang lalu tradisi pamali selalu menjadi patokan masyarakat untuk memprediksi cuaca dan hama pengganggu tanaman. Tradisi pamali mengandung dua makna yakni larangan dan akibat. Larangan untuk melakukan kegiatan dalam bentuk apapun di lokasi pertanian atau perkebunan pada saat tradisi pamali dilaksanakan. Akibat yang timbul akan berdampak pada tanaman pertanian jika tidak mengikuti tradisi pamali.
Suatu tradisi yang menarik untuk diceritakan kembali karena melemahnya nilai-nilai IMTAQ dan IPTEK pada masa itu menjadikan tradisi pamali ini turun-temurun dari generasi ke generasi. Sehingga sampai pada suatu generasi tradisi pamali ditantang secara keras karena tidak sesuai dengan ajaran islam dan konsep ilmu pengetahuan alam.
Tradisi pamali dilaksanakan pada bulan September dan Oktober sebelum masyarakat melakukan aktivitas pertanian di sawah dan ladang. Dalam menentukan kapan tradisi pamali ini dilaksanakan tergantung dari keputusan musyawarah antara Karindo (Ketua Pamali) dan masyarakat.
Kegiatan pamali dilakukan selama empat hari berturut-turut dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut :
Kegiatan Hari Pertama :
1. Memetik daun sirih di kebun Lewi Ruma (Kebun Raja) dilakukan oleh kaum laki-laki yang dipercaya oleh Karindo (Ketua Pamali).
2. Pergi memancing ke sungai atau biasa disebut dengan istilah “mambeli”. 3. Mengambil kayu di tempat yang jauh dari jangkauan kambing, sapi dan kerbau.
4. Kayu yang diambil digunakan untuk memasak nasi sebagai bahan dalam membuat tape.
Kegiatan memasak nasi dilakukan di rumah Karindo (Ketua Pamali). Dalam membuat tape mempunyai langkah sebagai berikut :
a. Beras direndam sampai terlihat agak kering.
b. Setelah terlihat kering, kemudian diamati oleh Karindo (Ketua Pamali) apabila pada beras yang direndam tersebut ditemukan benda atau binatang yang menempati beras tersebut seperti ada garis, maka Karindo (Ketua Pamali) menyimpulkan bahwa hama pada tahun ini akan banyak menyerang tanaman pertanian masyarakat. Jika tidak ada garis yang terlihat maka hama pada tahun ini akan jarang menyerang tanaman pertanian.
c. Memasak nasi untuk membuat tape dengan menggunakan kayu yang tidak tersentuh dari jangkauan kambing, sapi dan kerbau dengan jumlah potongan kayu yang digunakan untuk memasak tape ini harus berjumlah ganjil.
d. Jika nasi yang dimasak hasilnya lembek (seperti bubur) maka Karindo (Ketua Pamali) menyimpulkan bahwa curah hujan pada tahun ini akan tinggi, namun sebaliknya jika nasi yang dimasak hasilnya mentah maka Karindo menyimpulkan bahwa curah hujan pada tahun ini akan berkurang. Nasi kemudian dicampur dengan ragi yang dibuat secara tradisional. 5. Setelah beberapa hari tape akan terbentuk. Pengamatan dilakukan oleh Karindo (Ketua Pamali) untuk memberikan kesimpulan terkait dengan curah hujan. Jika tape mengandung banyak air maka Karindo menyimpulkan bahwa curah hujan pada tahun ini akan tinggi. Namun sebaliknya jika tape terlihat kering maka curah hujan pada tahun ini akan berkurang.
Kegiatan Hari Kedua :
Pada kegiatan pamali hari kedua dihadiri oleh seluruh masyarakat baik dari kaum laki-laki, perempuan bahkan anak-anak. Kaum laki-laki bertugas untuk pergi berburu kijang sedangkan kaum perempuan dan anak-anak bertugas untuk menganyam dan menjahit di Piri Jau (Tanah lapang yang sudah ditentukan oleh Karindo). Berbagai macam hasil karya kerajinan tangan dibuat oleh kaum perempuan bersama anak-anak sambil menunggu hasil berburu dari kaum laki-laki.
Dalam berburu kijang, kaum laki-laki membawa perlengkapan berburu seperti tombak dan perangkap. Jika kijang berhasil ditangkap maka pembagian daging kijang dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Sedangkan bagian tubuh kijang yang tidak boleh dibagikan ke masyarakat adalah kepala, karena kepala kijang harus diberikan kepada Karindo (Ketua Pamali).
Kegiatan Hari Ketiga :
Kegiatan hari ketiga hanya dihadiri oleh kaum laki-laki. Kegiatan berburu seperti hari kedua masih terus dilanjutkan. Kaum perempuan diperbolehkan membuat kerajinan tangan di rumah masing-masing.
Kegiatan Hari Keempat :
Kegiatan pada hari keempat merupakan kegiatan puncak dari tradisi pamali dimana berburu dan membuat kerajinan masih dilakukan sampai sore hari. Pada saat kaum laki-laki pulang berburu dilanjutkan dengan ritual Ka’a Ruhu (Membakar Rumput) yang berada di sekitar Watu Kabu (Mata air tertutup batu) sebagai langkah terakhir untuk memprediksi potensi curah hujan pada tahun itu. Jika rumput terbakar sempurna maka Karindo (Ketua Pamali) menyimpulkan bahwa tahun ini curah hujan akan berkurang. Akan tetapi jika rumput tidak terbakar secara sempurna maka Karindo menyimpulkan bahwa tahun ini curah hujan akan tinggi.
Kegiatan pamali yang dilakukan selama empat hari selalu menjadi momentum yang harus dilewati oleh masyarakat Londu. Prosedur dan ketentuan yang berlaku tidak boleh dilanggar oleh masyarakat karena tuntunan akibat yang akan ditimbulkan menuntut masyarakat agar tetap menjalani tradisi pamali ini. Pada saat kegiatan pamali, masyarakat tidak boleh melakukan kegiatan dalam bentuk apapun di sawah dan ladang karena akan berdampak pada tanaman yang mereka tanam.
Jika ada masyarakat yang bercocok tanam pada saat ada kegiatan pamali maka tanaman yang mereka tanam tidak akan tumbuh secara sempurna. Tradisi pamali selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Desa Londu maupun sekitarnya yang selalu menjadikan tradisi pamali Londu sebagai patokan masyarakat untuk bercocok tanam. Artinya masyarakat selalu menghindari kegiatan bercocok tanam pada saat ada kegiatan pamali Londu.
Seiring dengan perkembangan IMTAQ dan IPTEK menjadikan tradisi pamali ini ditinggalkan karena tidak sesuai dengan ajaran islam dan konsep ilmu pengetahuan alam. Suatu hal yang mustahil jika kita bisa memprediksi curah hujan dan hama pengganggu tanaman hanya dengan melakukan ritual pada saat kegiatan pamali.
Tradisi pamali Londu yang pernah turun-temurun dari generasi ke generasi memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keyakinan masayarakat dalam memprediksi cuaca dan hama pengganggu tanaman.
Berbagai macam cara yang dilakukan oleh tokoh pendidik di Desa Londu untuk memberantas tradisi pamali sering menimbulkan perdebatan antara tokoh pendidik dengan Karindo (Ketua Pamali).
Ada tiga tokoh pendidik yang sangat berpengaruh dalam memberantas tradisi pamali ini yakni H.Sunardy S.Pd, H.Ma’ruf S.Pd, H. Muhammad Hasan Ama.Pd. Ketiga tokoh ini melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman tentang ajaran Islam dan konsep ilmu pengetahuan alam kepada Karindo (Ketua Pamali) dan pengikutnya sejak tahun 1988-1995. Waktu yang cukup lama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar meninggalkan tradisi pamali.
Pada tahun 1993-1995 masyarakat melihat pembuktian dari ketiga tokoh pendidik tersebut bahwa tidak ada pengaruh potensi curah hujan dan hama pada tanaman dengan diadakannya tradisi pamali tersebut. Sejak tahun 1995 sampai saat ini tradisi pamali sudah tidak pernah dilakukan lagi oleh masyarakat Desa Londu karena sudah menyimpang jauh dari ajaran agama Islam dan konsep ilmu pengetahuan alam.
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...