Bahan-bahan 1 ekor ikan tuna 10 buah cabe keriting 3 buah cabe hijau 3 siung bawang merah 3 siung bawang putih Garam Gula secukupnya Air Langkah Bersihkan ikan tuna buang insangnya, bersihkan potong jadi 4 bagian, rendam dengan jeruk dan garam sekitar 5 menit Panaskan minyak goreng, masukan ikan goreng hingga matang, kemudian angkat...
Bahan-bahan 250 gram Udang segar (kerat punggungnya kemudian cuci bersih) 5 buah kentang, kupas potong kotak, goreng 6 buah buncis, potong 2 cm, sisihkan Bumbu Halus : 3 buah cabe kriting 5 buah cabe rawit 7 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 butir kemiri 1/4 sdt ketumbar 1/4 sdt merica 1 batang sereh, geprek 2 lembar daun salam 3 lembar daun jeruk...
Bahan-bahan 1/2 kg jengkol tua 1/2 kg cumi2 segar 4 gelas santan dr 2 buah kelapa tua 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 5 cm daun kunyit 1 buah serai digeprek 1 buah asam kandis 1 buah jeruk nipis 3 sdm minyak goreng secukupnya garam dan gula bumbu halus : 5 siung bawang merah 3 siung bawang putih 1 buah kemiri 1 cm kunyit...
Bahan-bahan 1 porsi 1 ons Ikan peda 4 siung bawang merah 3 buah cabe hijau 1 sdm gula pasir Secukupnya penyedap rasa Secukupnya merica bubuk Secukupnya garam Secukupnya Minyak Secukupnya air Langkah 15 menit Pertama potong ikan peda jadi dua bagian, lalu goreng dan sisihkan. ...
Rayola - Tanah pusako Pondok tirih balantai tanah Badindiang tadiah cando ka rabah Di sinan denai mandeh lahiakan Babaduang kasih tangih bamulo Di sinan denai mandeh lahiakan Babaduang kasih tangih bamulo Ulah dek mamak nan mati raso Nyo jua juo tanah pusako Mandeh tasisiah pai manjauh Ka urang mambaok tangih Mandeh tasisiah pai manjauh Ka urang mambaok tangih Di rantau urang ma adu untuang Hujan jo paneh kawan sadendang Di sinan denai yo di gadangkan Bapaluah ibo jo aia mato Kini mandeh alah tiado Nan hanyo tingga tanah pusaro Taragak kampuang lah hilang bayang Lah hilang tando kama di cari Taragak kampuang lah hilang bayang Lah hilang tando kama di cari… Ulah dek mamak nan mati raso Nyo jua juo tanah pusako Mandeh tasisiah pai manjauh Ka urang mambaok tangih Mandeh tasisiah pai manjauh Ka ura...
Manusianya sudah masuk dalam bilangan orang tua di dalam kampung. Tetapi tubuhnya masih berisi dan pendek. Semasa muda ia dikenal jalo silat. Hingga sekarang kakinya masih cepat menyepakkan sesuatu.Sejak sedari muda ia memelihara kumis yang dipi;in, hingga kedua ujungnya tampak runcing. Panduko Sarek walau ia telah tua, kemauannya masih keras. Ia tidak mau ketinggal dengan anak-anak muda dalam memncari nafkah, ke sawah maupun ke ladang. Kadang-kadang dengan sampannya ia menangkap ikan di danau. Disamping itu Panduko Sarek mempunyai sifat yang disenangi anak-anak muda. Ia ahli membuat cerita yang lucu-lucu dan garahnya banyak. Karena sifatnya ini ia sangat dikenal oleh masyarakat kampung terlebih lagi oleh anak-anak muda. Ia belum latah seperti kebanyakan orang-orang tua lainnya. Pada suatu hariPandukoSarek tampak sangat letih pulang dari sawah. Matahari terasa membakar di samping sawah yang dicangkulnya kekurangan air. Maklum disaat itu hujan telah lama tak turun. Baru saja ia s...
Cerita ini terjadi di daerah Batang Kapas diwaktu zaman dulunya. Ada orang beranggapan cerita ini mitos dan ada juga beranggapan cerita ini memang benar-benar terjadi, dibuktikan adanya kuburan Gadih Basanai di Gunung Ledang. Cerita ini menceritakan percintaan yang gagal dan diakhiri dengan kematian Gadih Basanai bersama tuangannya Aliamat. Gadih Basanai anak tunggal dari orang tuanya, setelah berumur 17 tahun orang tuanya meninggal dunia. Sejak itu dia menumang tinggal di rumah mamaknya Sutan Basyarudin. Mamaknya ini mempunyai anak tunggal laki-laki bersama Aliamat. Kedua insan ini terjadilah percintaan dan langsung dipertuangkan oleh mamaknya. Aliamat sebelum kawin pergi bertapa di gunug Ledang. Hasil dari pertapaannya, berupa benda-benda yang mujizat seperti minyak dalam botol, cdrmin sebuah dan sisir sebuah. Ketiga benda-benda ini tidak boleh dipakai oleh Gadih Basanai, bila dipakai berbahaya atau bisa berakibatkan maut. Aliamat minta izin pada mandenya akan pergi merant...
Cerita ini terjadi di negeri Surantih daerah Pesisir Selatan. Cerita ini populer di daerah Surantih, sampai saat ini. Cerita ini bertenden, Anak Durhaka terhadap mandenya. Jalan cerita ini membahayakan kehidupan orang yang suka berjudi menyabung ayam. Ayah Bujang Jibun adalah seorang pemain besar atau jago main. Bujang Jibun sewaktu kecilnya dibuaikan oleh mandenya di ruangan rumah, agar bujang Jibun tertidur, mandenya pergi ke dapur untuk memasak dan sementara itu ayahnya pulang dari gelanggang dengan membawa seekor ayam. Sesampainya ayah Bujang Jibun di rumah, langsung dipanggilnya mande Bujang Jibun, dengan menyampaikan kata pada mande Bujang Jibun. Tidaklah dapat uang dengan cara berlagu saja, langsung mande Bujang Jibun menjawab dengan perkataan meminta maaf pada ayah Bujang Jibun, sambil menyusun jari nan sepulih, lalu ayah Bujang Jibun berkata: Itu sudah jelas memang banca juga yang berair. Air gelanggang jangan sampai lama tinggal, saya akan pergi menyabung aya...
Cerita Bujang Lengong di Painan merupakan cerita mitos yang populer, di kalangan masyarakat di Painan. Cerita ini bertemakan Anak Durhaka terhadap orang tuanya. Hampir sama dengan cerita Malin Kundang. Jalan ceritanya pun hampir sama, yang berlainan tempat kejadiannya. Banyak pula orang beranggapan, bahwa cerita Bujang Lengong ini, memang benar-benar terjadi, karena ada sampai sekarang pencalangnya jadi batu dan kain muatan pencalang tersebut juga menjadi batu, yang sekarang bernama batu kodi. Batu yang berlipat-lipat, seperti lipatan kain berkodi, yang terletak di tepi pantai. Sedangkan pencalangnya agak jauh ke tengah sedikit. Waktu pasang surut, pencalang ini kelihatan dari tepi pantai, dan di dalamnya ada sebahagian badan Bujang Lengong yang telah menjadi batu. Di zaman dahulu, ada berkepala, sekarang tidak ada lagi, tanggal dihempas oleh ombak. Bujang Lengong adalah anak tunggal dari orang tuanya. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, ketika dia masih kecil. Sejak itu dia dia...