Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumatera Barat
Cerita Panduko Sarek
- 28 Desember 2018

Manusianya sudah masuk dalam bilangan orang tua di dalam kampung. Tetapi tubuhnya masih berisi dan pendek. Semasa muda ia dikenal jalo silat. Hingga sekarang kakinya masih cepat menyepakkan sesuatu.Sejak sedari muda ia memelihara kumis yang dipi;in, hingga kedua ujungnya tampak runcing. Panduko Sarek walau ia telah tua, kemauannya masih keras. Ia tidak mau ketinggal dengan anak-anak muda dalam memncari nafkah, ke sawah maupun ke ladang. Kadang-kadang dengan sampannya ia menangkap ikan di danau.

Disamping itu Panduko Sarek mempunyai sifat yang disenangi anak-anak muda. Ia ahli membuat cerita yang lucu-lucu dan garahnya banyak. Karena sifatnya ini ia sangat dikenal oleh masyarakat kampung terlebih lagi oleh anak-anak muda. Ia belum latah seperti kebanyakan orang-orang tua lainnya. Pada suatu hariPandukoSarek tampak sangat letih pulang dari sawah. Matahari terasa membakar di samping sawah yang dicangkulnya kekurangan air. Maklum disaat itu hujan telah lama tak turun. Baru saja ia sampai di rumah, ia langsung bersandar di dinding. Kedua kakinya terunjur dan matanya terkalok-kalok. Ia berusaha membuka kancing bajunya satu-satu.

Diatas rumah tidak seorangpun yang tampak olehnya. Ia hanya mendengar seseorang sedang memasak di dapur. Dengan suara parunya ia bersorak meminta kopinya. Sambil menunggu ia terus juga mengalaikan kapalanya. Kopi yang ditunggu-tunggunya itu tidak juga kunuung datang. Tenggorokannya terasa kering lantaran kehausan. Karena kopi yang ditunggu-tunggunya tidak datang, amarahnya hampir tidak bisa dikendalikan. Matanya kembali terbuka dan ia melengong ke kiri dan ke kanan. Di atas meja ia melihat sebuah mangkok yang ditutup. Tidak ayal lagi ia berpendapat bahwa kopinya telah lama disediakan oleh cucucnya.Dengan amarah yang mulai mengendor, Panduko Sarek merangkak ke arah meja. Setiba di sana digapainya mangkok itu dan langsung dibawanya ke mulutnya. Sekali teguk saja maka tamatlah semua isi mangkok itu. Tetapi sayang mulutnya tercibir lantaran ia merasakan sesuatu yang berbeda dari biasa. Lidahnya terasa asin. Ia meludah beberapa kali. Asin lidahnya itu tetap juga terasa. Kembali amarahnya meluap.

"Oi Uiak Gadempan, apa yang kamu masukkan ke dalam kopi saya." Pandiko Sarek bersorak sambil merentakkan kakinya.

"Rupanya kalian hendakmembunuh saya dengan berani memasukkan garam ke dalam kopi."

Cucunya si Upiak Gadempam yang sedang bekerja di dapur terkejut mendengar raung engkunya itu. Ia berlari ke tengah rumah dengan langkah yang berderam-deram. Baru saja ia tercogok, kembali Panduko Sarek merarau, "Saya sangat jerih pulang dari sawah. Di dapati kopi di atas meja tidak pula samalero. Mengapa garam yang kaun jadikan gula?"

Ternganga mulut Upiak Gadempam mendengar keterangan engkunya itu.

"Kopi engku belum lagi hamba sediakan. Yang engku minum dimangkok itu bukanlah kopi."

Mata Panduko Sarek terbelalak. Ia kembali meludah-luda.

"Jadi apa?" tanyanya.

"Kecap, engku."

"Kocap (baca kecap)?"

Dengan ketakutan Upiak Gadempam menganggukkan kepalanya.

"Apa gunanya kecap itu?"

"Bukankah engkau menyuruh membakar ikan untuk engku makan sekembalinya dari swah?"

Kembali Panduko Sarek membulalakkan matanya.

"Benar-benar anak celaka kau rupanya. Kocap (baca kecap) rupanya yang telah saya minum."

Entah apa yang cucunya itu tertawa. Amarah Panduko Sarek menjadi-jadi.

"Apa yang kau anggap lucu makanya engkau tertawa, setan?"

"Tidak ada yang lucu, engku. Hanya perut saya geli mendengar engku menyebut kecap dengan kocap."

"Apa saja nama tidak menjadi soal. Nyatanya lantaran perbuatanmu saya telah terminum kocap (baca kecap)."

"Bukan salah hamba, engku. Engku yang tidak mau bertanya -tanya sebelum minum."

Hampir saja kaki Panduko Sarek melayang ke tubuh gadis itu. Untung saja ia segera bisa mengendalikan fikirannya.

"Tidakkah engkau mendengar rarau saya sejak tadi meminta kopia."

Upik Gadampam menggelengkan kepalanya.

"Tidak?"

"Tidak, engku."

Panduko Sarek  mengurut dadanya.

"Kalian sama saja," orang tua itu menggerutu.

"Ibumu, mamakmu, tidak seorang juga yang bisa diharapkan untuk membalas guna. Tidak seorangpun yang menuruti perintah. Hingga tengah hari tadi tidak tampak batang hidung mamakmu itu di sawah."

"Bukankah ia sedsang mengerjakan sawah anaknya pula, engku,"

"Pandai pula kau menjawab, setan. Mamamu itu terlalu penakut dengan bininya."

Upik Gadempam menekurkan kepalanya.

"Begitulah pula ibumu, disuruh kepasar berjualan

ikan, ia bergendak dengan kusir bendi." sambung Panduko Sarek.

"Tidak bisakah ia mencari bendi yang kosong untuk ke pasar itu?"

"Tentu saja tidak ada bendi yang kosong, engku." Upiak Gadempam berusaha menjawab.

"Paling kurang kusirnya ada."

"Pandai pula kau membela. Saya maksudkan janganlah ibumu itu terlalu berdekatan dengan kusir walau muatannya penuh."

"Allah, engku terlalu nyinyir."

Hampir saja kesabaran Panduko Sarek kerenanya.

"Kalian benar-benar telah moderen di tengah rumah ini. Baru gadis anyir telah berani membantah kata-kata orang tua. Perbuatlah sesuka hati kalian."

Panduko Sarek merentak dan langsung meninggalkan cucunya menuju tangga.

"Kenapa lagi engku akan pergi?" tanya Upiak Gadempam mengejar engkunya.

"Bukankah nasi telah hamba sediakan?"

"Muak saya melihat kelakuan mkalian. Dari yang kecil hingga yang besar sama saja."

Panduko Sarek terus saja berjalan. Lumpur yang tadinya melekat di kaki celananya mulai menyering. Langkahnya berat bagaikan beruk tua berjalan. Seketika Panduko Sarek memperlurus pinggangnya yang terasa pegal.Hatinya panas lantaran mendengar pidato ciucunya tadi. Di dalam perjalanan itu disentaknya celananya yang hampir kedodoran itu hingga pinggang. Wajahnya masih tetap membayangkan amarah. Orang-orang yang brselisih jalan dengannya tidak seorang juga yang mau menyapa.

Menjelang sebuah kedai kopi yang sering didatanginya, kakinya terinjak kulit pisang. Ia hampi saja terangkak. Seorang anak muda yang bernama Buyung Lelek menghampirinya.

"Hampir saja engku menangkap belalang."

Panduko Sarek membelalakkan matanya.

"Bukan menangkap belalang. Mengankap kepala ayahmu."

Tertekur kepala Buyung Lelek melihat mata Panduko Sarek yang merah lantaran marah. Ia menyadari bahwa memang tidak baik mempermainkan orang tua. Panduko Sarek terus juga berjalan. Sesampai di kedai kopi ia menghenyakkan pantanya dan langsung bersandar lemamng. Matanya terkalok-kalok tanda mengantuk. Orang lain yang berada di kedai itu melihat saja sambil bergunumi-gumikan. Dan  BUynung Lelek yang telah masuk ke kedai itu berbisik pada salah seorang temannya,. "Engku Panduko Sarek baru saja memberang."

"Tampaknya demikian," jawab temannya itu berbisik pula. Sementara itu Panduko Sarek membuka matanya. Ia menggarut-garut pinggulnya.

"Tidak punya otak kepinding ini," ia menggerutu.

"Sudah jelas orang keletihan ia menggigit pula."

"Memang kepinding itu tidak berotak, engku," sela orang lepau bergarah.

Baru saja Panduko Sarek hendak membulalangkan matanya Buyung Lelek menyahut pula, "Jangan marah juga, engku. Lebih baik kita minta kopi susu."

Kepala Panduko Sarek terlengong pada Buyung Lelek.

"Jika engkau yang membayarkan, tentu saya setuju saja."

Buyung Lelek tertwa. Takutnya hilang.

"Kopi susu dua gelas, orang lepau," terdengar suara Buyung Lelek meminta.

Orang lepau bergegas mengambilkan pesanan Buyung Lelek. Satu gelas diletakkannya di depan Panduko Sarek. Dan yang segelad lagi dekat Buyung Lelek. Mata Panduko Sarek menjadi nyalang. Ia lengsung meminum kopi itu. Dengan seteguk kopi saja seluruh amarahnya menjadi hilang. Dalam fikirannya kembali terbayang garah-garah yang akan dikeluarkannya. Ia teringat sebuah pantun.

"Kalian bersedia mendengarkan pantun saya?"

"Tentu saja engku," jawab orang serentak.

Panduko Sarek mulai berpantun:

Uncang buruk tidak bertali, tergantung di barung-barung

Si Buyung Lelek tidak berbini, memperkenyang kepinding orang.

Kedai itu hiruk- pikuk dengan gelak tertawa. Buyung Lelek tersengeng dalam hati ia berniat membalas.

"Dengarkanlah balasannya," katanya pada Panduko Sarek.

"Tinggi tandanya Katukalek, tampak nan dari kampung Panji.

Apa tenggangan Panduko Sarek, awaklah tuo binilah baji."

Panduko Sarek menyingir seperti kuda. Orang yang mendengar bersorak-sorak. Dan orang itu kembali meminum kopinya.

 

 

Sumber : Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu