Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumatera Barat
Cerita Gadih Basanai
- 28 Desember 2018

Cerita ini terjadi di daerah Batang Kapas diwaktu zaman dulunya. Ada orang beranggapan cerita ini mitos dan ada juga beranggapan cerita ini memang benar-benar terjadi, dibuktikan adanya kuburan Gadih Basanai di Gunung Ledang.

Cerita ini menceritakan percintaan yang gagal dan diakhiri dengan kematian Gadih Basanai bersama tuangannya Aliamat. Gadih Basanai anak tunggal dari orang tuanya, setelah berumur 17 tahun orang tuanya meninggal dunia. Sejak itu dia menumang tinggal di rumah mamaknya Sutan Basyarudin. Mamaknya ini mempunyai anak tunggal laki-laki bersama Aliamat. Kedua insan ini terjadilah percintaan dan langsung dipertuangkan oleh mamaknya.

Aliamat sebelum kawin pergi bertapa di gunug Ledang. Hasil dari pertapaannya, berupa benda-benda yang mujizat seperti minyak dalam botol, cdrmin sebuah dan sisir sebuah. Ketiga benda-benda ini tidak boleh dipakai oleh Gadih Basanai, bila dipakai berbahaya atau bisa berakibatkan maut. Aliamat minta izin pada mandenya akan pergi merantau ke pulau Pagai bersama ayahnya. Sekembali dari Pagai baru kawin dengan Gadih Basanai. Aliamat kembali dan berjanji pada Gadih Basanai, sepulang dari Pulau Pagai, oleh-oleh dari rantau dibelikan berupa pakaian dan perhiasan.

Sepeninggal Aliamat, Gadih Basanai selalu merindukan kekasihnya, seperti sehari serasa sebulan. Gadih Basanai seorang Gadih cantik, banyak juga pemuda lain yang jatuh cinta kepadanya. Telah bertujuh pemuda meminangnya tetap ditolaknya. Mertuanya sangat sayang kepadanya. Ketika anaknya Aliamat akan berangkat ke Pulau Pagai ada meninggalkan amanat, cermin minyak dalam botol dan sisir yang terletak di bubungan rumah gadang yang diikatkan pada tonggak tuo,tidak boleh dipakai oleh Gadih Basanai, berbahaya (bisa berakibatkan maut) Amanat ini dipegang teguh oleh mandenya.

Pada suatu hari, panas terik, Gadih Basanai pergi berlima dan mandi di tepian. Sesudah dia berlimau langsung dia pulang ke rumahnya. Gadih Basanai minta cermin, minyak rambut, sisir kepada mertuanya. Jawabnya mertuanya: tidak ada. Dijawab Gadih Basanai, mande berdusta. Jaeab mertuanya lagi memang ada, tetapi dilarang oleh Aliamat, berbahaya bila dipakai.

Tunggu rumah sebentar, saya akan mandi puladitepian. Gadih Basanai ingin tahu, apa sebabnya dia dilarang oleh tunangannya. pakah dia tidak cinta kepada saya. Dengan tidak pikir panjang, langsung diambilnya benda tersebut dan dipakainya. Apa yang terjadi sesudah itu, Gadih Basanai waktu itu juga sakit perut. Mertuanya menyesal sekali perbuatan Gadih Basanai melanggar amanat kekasihnya. Dicarikan obatnya oleh mertuanya, tetapi tidak juga btertolong dan meninggal dunia. Sebelum dia meninggal ada meninggakan amanat kepada mertuanya, supaya dia dikuburkan di gunung Ledang.

Yang akan menguburkan pemuda yang bertujuh, yang pernah jatuh cinta kepadanya. Di atas perkuburannya pancangkan bendera putih supaya kelihatan oleh tunanangannya dari pulau Pagai. Amanat tersebut dilaksankan oleh mertuanya.

Pada malamnya Aliamat bermimpi buruk, dan perasaannya tidak senang bertahan lama di Pagai dan ingin pulang ke kampung. Mimpinya yang buruk ini disampaikan pada ayahnya. Ayahnya terpaksa mengabulkan permintaan anaknya untk pulang. Langsung dicari pencalang yang akan berangkat hari ini juga, dapatlah pencalang untuk berangkat ke Padang. Setiba di Padang langsung ke tokoh membeli oleh-oleh untuk Gadih Basanai di rumah. Oleh-oleh tersebut berupa pakaian selengkapnya dan barang-barang perhiasan.emudoan bersama ayahnya langsung naik motor menuju kampung halamannya. Tiba di rumah malam hari, lalu dibangunkannya mandenya, mandenya terkejut kedatangan anaknya, yang tidak disangka-sangka akan pulang malam hari. Mandenya selalu dalam kesedihan, karena baru kematian menanunya Gadih Basanai.

Pada malam itu juga Aliamat menanyakan kepada mandeya, di mana Gadih Basanai? Jawab mandenya, Gadih Basanai telah meninggal dua hari yang lalu, disebabkan melanggar amanat ananda, yang terletak dibubungan rumah. Benda-benda tersebut dipakainya, tanpa setahu mande. Akibatnya dia sakit perut, langsung mande obati,tertapi tidak berhasil. Dan dikuburkan di Gunung Ledang. Mendengar kata mandenya demikian, Aliamat panik dan langsung minta izin kepada mandenya, untuk pergi ke kuburan Gadih Basanai pada malam itu juga.

Oleh-oleh untuk Gadih Basanai tetap dibawa kekuburan tersebut. Setiba di sana dia menangis tersedu-sedu dan langsung kuburan tersebut digalinya dan berhasil mayat Gadih Basanai dikeluarkan dari dalam kubur.

Kemudian mayat tersebut dibawa keluar dan disandarkan pada pohon kayu besar, dekat pandan perkuburan Gadih Basanai. Mayat Gadih Basanai diberinya berpakaian dan perhiasan, yang dibelinya dari Padang, sdebagai oleh-oleh dari Pagai. Waktu itu kelakuan Aliamat hampir sama dengan orang gila, berbicara seorang diri. Tiba-tiba terdengar suara gaib, kuburan kembali mayat tersebut, pergilah Aliamat kekayangan dan minta air hubungan nyawa dari Puteri Indojalito. Mayat ini dapat hidup kembali serti biasa. Mendengar suara tersebut, Mayat Basanai, dikuburkannya kembali sebagaimana biasa.

Hari sudah pagi., Aliamat tutun dari Gunung Ledang, hendak naik ke kayangan. Setiba disampaikannya, bahwa dia minta air hubungan nyawa. Puteri Indojalito berjanji memberikan, asal Aliamat tabah menghadapi segala percobaan yang akan datang. Dengan arti kata umur Gadih Basanai diperpanjang untuk beberapa tahun lagi.liamat sangat berbesar hati, karena maksudnya telah terkabul. Aliamat minta permisi untuk pulang kembali ke bumi. Setiba di rumah, dia langsung pergi ke Gunung Ledang, di mana Gadih Basanai dikuburkan. Kuburan Gadih Basanai digali untuk kedua kalinya, mayat tersebut berhasil dikeluarkan dari kuburannya dan langsung dibawa keluar.

Setiba di luar, air hubungan nyawa dipercikan kerumah ke seluruh tubuh Gadih Basanai. Tak lama kemudian mayat tersebut hidup kembali. Alangkah besar hati Aliamat, karena kekasihnya dapat hidup kembali. Serta merta Gadih Basanai dibawa pulang ke rumahnya.

Setiba di rumah, rakyat di kampung heran, kenapa dia dapat hidup kembali, begitu pula orang tua Aliamat. Langsung diadakan perhelatan besar-besaran antara Gadih Basanai dengan Aliamat. Kebahagiaan seperti itu tidak lama, hanya beberapa tahun, menurut jani yang telah dibuat, dengan Puti Indojalito di kayangan. Sampailah ajal Gadih Basanai kembali tanpa sakit. Dan dikuburkan di Gunung Ledang, di tempat kuburannya yang dulu.

Aliamat tidak tabah mengalami percobaan terhadap dirinya. Ingat telah berobah menjadi gila, siang malam dikuburkan kekasihnya Gadih Basanai. Akhirnya kesehatannya terganggu dan jatuh sakit lalu meninggal dunia. Maka dikuburkan berdekatan dengan kuburan Gadih Basanai di Gunung Ladang. Berakhirlah cerita Gadih Basanai sebagaimana yang dapat kami kemukakan di sini.Tenden cerita ini adalah percintaan yang gagal antara bujang dengan Gadis.

Apakah cerita ini mitos, marilah kita serahkan pada ahlinya.

Pandangan masyarakat di Batang Kapas, cerita ini memang terjadi dalam masyarakat waktu itu. Pandangan ilmiah, memang mitos, karena jalan cerita tidak masuk di akal manusia hidup dua kali. Apakah ada air hubungan nyawa, apakah ini merupakan symbolik saja. Apakah ada manusia biasa dapat naik ke kayangan (langit) sekalipun. Cerita kami sadur dari tukang rebab di Bican.

Demikianlah keringkasan cerita ini, yang dapat kami kemukakan.

 

 

Sumber : Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu