Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tsunami adalah gelombang laut dahsyat (gelombang pasang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut (biasanya terjadi di Jepang dan sekitarnya). Jelas bahwa istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Jepang, tapi apakah tidak ada padanan di dalam bahasa Indonesia? Di dalam bahasa Melayu mungkin tidak ada atau memang belum ditemukan, tapi di dalam beberapa bahasa daerah lain terdapat istilah-istilah yang berpadan dengan kata "tsunami" dari bahasa Jepang. Contoh yang lazim digunakan di Aceh adalah ië beuna (air benar) dan yang tidak terlalu banyak dipakai, alôn buluëk (gelombang rakus). Di Ende, Nusa Tenggara Timur, ada istilah ae mesi nuka tana lala (air laut naik, tanah runtuh). Di Nias, Sumatera Utara, dikenal istilah oloro atau galoro , mirip dengan istilah Singkil gloro atau galoro . Di dalam bahasa Sikule disebut among atau emong , sementara dalam bahasa Simeulue dikenal s...
Di beberapa daerah, pliek-ue juga dikenal dengan nama patarana . Kalau orang Jawa melihat sayur ini, pastilah akan segera menduga bahwa sayur ini mirip sayur lodeh - hidangan sehari-hari masyarakat Jawa. Tetapi, begitu mencicipinya, akan segera tahu bahwa gulee pliek-ue sangat beda dari segi citarasa bila dibandingkan dengan lodeh. Yang jelas, bila lodeh memakai santan, maka gulee pliek-ue tidak memakai santan, melainkan memakai parutan kelapa yang sudah difermentasikan. Parutan kelapa "busuk" inilah yang sebenarnya disebut pliek-ue . Lagi-lagi, ini akan mengingatkan kita pada sayur lodeh yang dalam beberapa resep rumahan juga melibatkan penggunaan tempe "busuk". Di pasar tradisional di Aceh, aroma khas pliek-ue ini selalu menguar di mana-mana dan membuat kita lapar. Dalam proses memasaknya, pliek-ue ini direndam air sekitar sepuluh menit, kemudian ditiriskan. Selain berfungsi untuk melembabkan kembali (rehidrasi), perendaman...
Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes. “Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang. Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka. “Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan...
Motif yang dominan dari tenun Aceh terdiri dari pengulangan bentuk geometris ke arah horizontal. Tenun Aceh kedua ujungnya dijahit sehingga menjadi sarung. Selain motif geometris, biasanya terdapat motif bunga di bagian bawah atau pada keseluruhan kain untuk mengisi ruang-ruang kosong di antara bentuk geomertris. Kasab merupakan teknik menyulam tradisional dari daerah Aceh dengan menggunakan benang berwarna emas atau perak. Sumber: " Tenun Handwoven Textile of Indonesia" (2011)
Seunungkee adalah tungku tradisional yang banyak terdapat di kalangan masyarakat Aceh. Tungku ini hingga sekarang masih digunakan oleh masyarakat Aceh, terutama mereka yang tinggal di wilayah perdesaan. Seunungkee ada yang terbuat dari tanah liat (Seunungkee tanoh) dan Seunungkee yang terbuat dari batu (Seunungkee batee). Seunungkee tanoh 1. Bahan Bahan untuk membuat seunungkee tanoh adalah tanah liat. Tanah liat yang baik untuk membuat tungku ini adalah tanah liat yang mengandung sedikit pasir. Tanah yang mengandung sedikit pasir mempunyai daya lekat yang lebih kuat daripada tanah yang lebih banyak unsur pasirnya. Tanah yang dipilih untuk membuat tungku harus tanah yang basah. Jika seunungkee tanoh dibuat pada saat musim kemarau atau tanah tersebut dalam keadaan kering, maka tanah tersebut harus disiram air terlebih dahulu. 2. Cara Pembuatan Tanah liat yang telah dikumpulkan selanjutnya dilumat-lumatkan. Hal ini dimaksudkan...
Seunungkee adalah tungku tradisional yang banyak terdapat di kalangan masyarakat Aceh. Tungku ini hingga sekarang masih digunakan oleh masyarakat Aceh, terutama mereka yang tinggal di wilayah perdesaan. Seunungkee batee Seunungkee batee berarti tungku batu. Dari namanya telah jelas bahwa bahan baku tungku ini ialah batu. Batu yang baik sebagai bahan untuk membuat seunungkee batee adalah batu kali yang berukuran sama dan berbentuk lonjong. Batu kali tahan terhadap api dan biasanya permukaannya halus. Jumlah batu untuk membuat tungku tergantung keperluan. Untuk membuat sebuah tungku satu mata, diperlukan tiga batu. Kalau ingin menambah satu mata lagi, cukup menambah dua batu, begitu seterusnya. Tungku dua mata menggunakan batu lima buah sedangkan untuk membuat tiga mata tungku digunakan tujuh buah batu. Cara Pembuatan Cara membuat tungku berbahan batu relatif mudah. Caranya membuatnya adalah: pilih lokasi di mana tung...
Masyarakat Gayo, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan peralatan...
Masyarakat Suku Aneuk Jamee, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapue. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat men...
Masyarakat Suku Tamiang, NAD menyebut tempat memasak dengan kata dapur. Kamus bahasa Aceh-Indonesia (Abu Bakar et. al., 2001:159) mengartikan kata dapu sebagai dapur sebagai ruangan untuk memasak dan tungku. Kata dapu sering digabungkan dengan kata rumoh sehingga menjadi rumoh dapu, yang berarti ruang dapur di belakang rumah Aceh. Tulisan ini menggunakan kata dapur untuk menunjuk ruang yang digunakan untuk memasak sedangkan tungku merujuk pada perapian untuk mengolah makanan. Masyarakat Aceh menganggap dapur sebagai ruang pribadi yang hanya boleh dimasuki anggota keluarga. Adalah hal yang tidak sopan jika ada seorang tamu yang masuk ke dapur. Bahkan, anggota keluarga pria yang baru, misalnya menantu, baru boleh masuk ke dapur bila sudah menjadi anggota keluarga selama bertahuntahun Atau paling tidak ketika pasangan suami istri tersebut sudah mempunyai dua atau tiga anak. Fungsi Dapur: Tempat menyimpan pe...