Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Aceh Gayo
Asal Mula Danau Laut Tawar - Gayo - Nanggroe Aceh Darussalam
- 28 Maret 2018

Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes.

“Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang.

Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka.

“Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan menemani Ayah ketika bersedih?” tanya Puteri Pukes dengan tatapan sayu. Matanya sudah lama sembab sebab beberapa hari setelah pesta pernikahannya usai, dia malah banyak menangis.

“Dan siapa yang akan mengajakku bercerita tentang alam, gunung-gunung, dan hutan?” ujar Puteri Pukes lagi dengan wajah merengut.

“Anakku, engkau sudah dewasa dan menjadi istri orang. Tidak seharusnya engkau mengucapkan kata-kata itu. Kata-katamu sangat tidak enak didengar, apalagi kalau suamimu yang mendengarnya.”

“Bu, bagaimana kalau aku merindukan Ibu? Bagaimana kalau aku ingin bertemu Ayah? Jarak Samar Kilang ke Nosar ini sangat jauh. Kita harus melintasi pegunungan, sungai, danau, bahkan hutan dan semak-belukar!” Air mata Puteri Pukes mulai meleleh. Sedih rasanya harus meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya, hanya karena menikah.

Namun, tak dapat ditolak, hari perpisahan antara Puteri Pukes dengan kedua orangtuanya pun terjadi.

”Kalau engkau sudah meninggalkan kampung ini, jangan pernah menoleh ke belakang, anakku. Supaya engkau tidak terbayang-bayang wajah ibu dan ayahmu. Kami sudah ikhlas melepasmu. Berbahagialah engkau bersama suamimu,” kata ibu Puteri Pukes sambil memeluk dan mencium pipi puterinya itu.

“Pergilah, Nak. Ikutilah kehendak dan nasihat suamimu,” kata ayah Puteri Pukes sambil memeluk Puteri Pukes yang mulai menangis lagi.

Menurut adat Gayo, seorang istri memang wajib mengabdi kepada suami dan keluarganya, serta membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

Puteri Pukes akhirnya meninggalkan rumah dan kedua orangtuanya dengan perasaan hancur. Suaminya sudah berusaha menuntun tangannya, tetapi Puteri Pukes menolak. Dia masih ingin menikmati pemandangan kampung halamannya untuk terakhir kali.

Puteri Pukes berjalan amat pelan. Setelah agak jauh dari rumah, dia berharap masih bisa melihat wajah ibu dan ayahnya untuk terakhir kali. Puteri Pukes lupa akan nasihat ibunya. Dia pun menoleh ke belakang. Sungguh dia tak pernah membayangkan akibat perbuatannya.

Serta merta langit menjadi gelap gulita. Awan bergulung-gulung seperti hendak runtuh. Petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kuat. Hujan turun dengan lebat. Rombongan Puteri Pukes, suaminya, dan para pengawal pun berlindung di dalam sebuah gua.

Beberapa waktu kemudian, hujan mulai reda. Pengawal hendak memanggil puteri Pukes untuk bersiap-siap meneruskan perjalanan. Namun, pengawal itu terkejut bukan kepalang. Dia segera tergopoh-gopoh mendekati suami Puteri Pukes.

“Tuan! Tuan! Puteri Pukes tidak dapat bergerak, Tuan! Puteri Pukes menjadi batu!” seru pengawal itu.

“Apa?” Suami Puteri Pukes terkejut. Dia mendatangi istrinya yang berteduh agak jauh di dalam gua.

Benar saja. Di hadapannya tidak ada lagi Puteri Pukes. Yang ada hanyalah seonggok batu yang menyerupai tubuh Puteri Pukes yang sedang menangis. Kedua mata patung itu benar-benar mengeluarkan air. Lama kelamaan air itu membentuk sebuah danau yang sangat luas, yang kemudian disebut Danau Laut Tawar.

Hingga kini patung Puteri Pukes masih ada di sebuah gua yang disebut juga sebagai Gua Pukes. Sesekali patung itu akan menangis, mengeluarkan air seperti air mata. Mungkinkah Puteri Pukes dikutuk menjadi patung karena tidak mendengar kata-kata ibunya? Ah, seandainya patung Puteri Pukes itu bisa bicara dan bukan hanya menangis, mungkin kita akan tahu jawabannya.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/asal-mula-danau-laut-tawar/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum