Tari Golek Menak Tari golek menak adalah salah satu tarian adat Yogyakarta yang terinspirasi dari gerakan Wayang Golek Menak dengan nilai seni yang sangat tinggi. Tarian ini juga diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX karena rasa cinta dan kagumnya pada Wayang Golek Menak tersebut. Tarian ini dinamakan Golek Menak memang karena terinspirasi dari pertunjukan wayang sehingga gerakan, alur cerita, busana dan juga tokoh para penari juga mewujudkan Wayang Golek Menak. https://budayalokal.id/tarian-yogyakarta/
Beksan Jebeng diciptakan oleh Kanjeng Gusti Paku Alam II. Kemudian tari ini dilestarikan mulai dari Paku Alam III sampai Paku Alam VIII. Tari beksan Jebeng pada awalnya berkembang di Pura Pakualaman. Prinsip yang ada dari tarian ini joged ki bebas, merdika, ning ora sah nggaya; artinya, tarian ini harus dilakukan dengan jiwa yang merdeka. Gerak-gerik tarian dapat dikreasikan oleh penari, yang menghasilkan indah tidaknya suatu tarian atau pas (tepat) atau tidaknya tarian, akan dikembalikan kepada paugeran. Bersumber dari Sri Paku Alam III (1855-1864), beksan Jebeng menggambarkan peperangan antara Raden Arjuna melawan Adipati Karno dengan senjata keris dan jebeng (sejenis perisai). Beksan Jebeng adalah salah satu bentuk tarian puta alus – yang dibawakan dengan karakter gagah, tetapi ditampilkan dalam tarian yang halus. Beksan Jebeng menggunakan alat/properti jebeng seperti tameng, tetapi bukan tameng. Jebeng diartikan seperti perisai dari kulit berbentuk setengah lingkaran,...
Beksan (tari) Golek Menak adalah sebuah genre drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). Gagasan penciptaan tari ini dicetuskan Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941. Apabila dramatari Wayang Wong menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, dramatari Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak . Serat Menak bersumber dari Hikayat Amir Hamzah yang dibawa oleh pedagang Melayu dan disebarluaskan di wilayah Nusantara. Nama-nama tokoh yang berasal dari belahan dunia lain tersebut kemudian di adaptasi ke dalam bahasa Jawa, seperti nama Amir Hamzah berubah menjadi Amir Ambyah. Secara garis besar Serat Menak memuat kisah munculnya agama Islam melalui tokoh Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana, seorang putra Adipati asal Mekkah. Mewujudkan Gerakan Wayang Golek Kayu ke Dalam Gerak Tari Untuk mewujudkan gagasannya, Sri Sultan Hamengku Buwono I...
Samir merupakan kelengkapan busana Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Berbentuk menyerupai pita atau selempang kecil dengan hiasan gombyok di kedua sisi. Sekilas samir hanya berfungsi sebagai aksesori semata, namun samir merupakan kelengkapan yang sangat penting dan tidak sembarang orang boleh memakainya. Di Keraton Yogyakarta, samir adalah tanda, bahwa Abdi Dalem yang memakainya sedang menjalankan tugas, atau disebut ayahan . Tugas itu dapat berupa tugas di dalam lingkungan keraton seperti membawa pusaka, membawa makanan untuk Sultan, memberi sesaji, menabuh gamelan, ataupun ketika mengajar dalam forum resmi keraton. Juga ketika menjalankan tugas di luar lingkungan keraton, seperti menjadi utusan dalam upacara Labuhan atau Garebeg . Selain sebagai tanda tugas, samir juga menunjukkan perbedaan dalam jenjang kepangkatan Abdi Dalem . Samir dibedakan berdasar pangkat yang dimiliki Abdi Dalem yang mengenakannya. Bahan dasar samir adalah kain cindhe mot...
Salah satu bagian dari upacara daur hidup masyarakat Jawa adalah upacara supitan , yakni upacara sunat atau khitan bagi anak laki-laki. Sunat adalah proses memotong kulit zakar sehingga kepala penisnya terlihat, dengan maksud untuk menghilangkan sesuker atau kotoran yang ada dalam penis. Bagi penganut agama Islam, proses ini adalah hal yang wajib dilakukan. Berikut adalah tahap-tahap pelaksanaan Supitan untuk Putra Dalem (anak Sultan) yang dilaksanakan di lingkungan Keraton Yogyakarta, berdasarkan Pranatan Lampah Lampah atau pedoman tata laksana pada tanggal 12 Mei 1975. Satu hari sebelum pelaksanaan upacara, gamelan Gangsa Slendro dan Pelog ditata di G edong Gangsa sebelah utara dan selatan sejak pukul 15.00, lalu mulai ditabuh hingga pukul 18.00 oleh Abdi Dalem Punakawan Kridamardawa . Sementara gamelan Kanjeng Kiai Kebo Ganggang ditata di Bangsal Mandalasana . Selain itu, krobongan , atau pekobongan (bangunan berbentuk bilik kecil non-permanen)...
Apabila kedua calon pengantin sudah setuju untuk membina rumah tangga maka pihak calon pengantin pria akan menyatakan kesungguhannya melalui upacara lamaran. Setelah diterima dengan baik oleh keluarga Sultan, maka proses berikutnya adalah penentuan tanggal pernikahan berikut semua prosesi yang mengiringi dan siapa saja yang terlibat dalam upacara Dhaup Ageng . Sebagai tanda akan memasuki tahap kehidupan baru, Sultan akan memberikan nama dan gelar baru kepada kedua calon pengantin. Dengan ini maka seluruh identitas kependudukan serta panggilan kedua belah pihak akan berganti menyesuaikan dengan nama dan gelar baru masing-masing. sumber :https://kratonjogja.id/siklus-hidup/3/dhaup-ageng
Nyantri merupakan upacara peyambutan calon mempelai pria beserta seluruh keluarganya untuk memasuki lingkungan Keraton Yogyakarta. Nyantri diibaratkan sebagai proses memperkenalkan calon mempelai pria mengenai adat istiadat, peraturan, serta keseharian keluarga kerajaan. Kerabat Sultan mewakili pihak keraton menjemput calon mempelai pria beserta keluarga di tempat tertentu yang berada di sekitar lingkungan Keraton Yogyakarta. Penjemputan dilakukan menggunakan iring-iringan kereta kuda dari tempat tersebut menuju Kompleks Kasatriyan , sebuah tempat di Keraton Yogyakarta yang diperuntukan bagi laki-laki. Keluarga dan calon mempelai pria kemudian dijamu oleh keluarga keraton sebagai bentuk penyambutan dan ucapan selamat datang. sumber :https://kratonjogja.id/siklus-hidup/3/dhaup-ageng
Orang yang pertama kali menggagas upacara adat Saparan ialah: Bapak Purowidodo (Pak Lurah Widodomartani) bersama Kepala Dukuh Pondok Wonolelo pada tahun 1967. Keduanya memiliki ide dan gagasan untuk melangsungkan upacara dengan mengumpulkan trah atau keturunan Ki Ageng Wonolelo, dan merancang kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah bermusyawarah dan masyarakat bersepakat, semua keturunan Ki Ageng Wonolelo diundang dan diminta untuk mengumpulkan pusaka yang tersebar di beberapa tempat untuk disatukan dan diarak keliling kampong sampai ke tujuan akhir, yaitu kompleks makam Ki Ageng Wonolelo. Pusaka tersebut disimpan di dalam rumah Tiban. Warisan Pusaka Ki Ageng Wonolelo meliputi : Tombak, teken (tongkat) dan baju Ontrokusumo, disimpan di Pondok Wonolelo; kitab suci Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Ki Ageng Wonolelo, disimpan di Kalasan; Potongan Kayu Mustaka Masjid, disimpan di Cangkringan; bandil, disimpan di Jatinom, Klaten; dan kopiah, disim...
Tari Rara Ngigel Ini merupakan tarian daerah Yogyakarta yang bercerita mengenai seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa sehingga juga ditarikan oleh para wanita akan tetapi terkadang juga bisa dilakukan berpasangan dengan pria. Tarian ini menjadi penggabungan dari ciri khas Yogyakarta yakni lemah lembut dan juga tegas dimana dalam pertunjukannya, para penari akan memakai busana campuran antara adat budaya Jawa dengan Cina. https://budayalokal.id/tarian-yogyakarta/