Di Kulon Progo, DI Yogyakarta, dahulu nasi bukanlah panganan utama. Nasi dianggap makanan masyarakat yang mencukupi. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa nasi selayaknya makanan mewah. Masyarakat Kulon Progo lebih mengutamakan makanan yang terbuat dari singkong. Makanan ini disebut growol. Bentuknya acak. Warnanya dominan putih. Sedikit dengan perpaduan warna cokelat kehitaman. Teksturnya seperti berpasir. Bahannya bukan dari sembarang singkong. Singkong yang dipilih untuk growol biasanya bertekstur lebih keras dibanding singkong lainnya. Tumbuhnya biasa di tanah kering. Hal ini sesuai dengan kondisi tanah di Kulon Progo pada umumnya. Kini growol telah berubah. Bukan berubah bahannya, melainkan berubah perannya sebagai makanan sampingan. Peran growol tersisihkan dengan adanya nasi. Masyarakat Kulon Progo mulai beralih ke nasi sejak ratusan tahun lalu, ketika beras mulai tersebar di kabupaten di sisi barat Provinsi Yogyakarta ini. Serat Centhini yang ditulis pada 1814 men...
Besengek Tempe Benguk banyak dibuat oleh masyarakat dari Dusun Nganggrung, Kabupaten Kulon Progo. Karena itu namanya sering disebut Besengek Nganggrung. Daerah Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta terutama daerah Desa Sentolo kabupaten Kulon Progo yang merupakan suatu daerah yang letaknya dipinggiran kota, berjarak lebih kurang 13 km dari kota kabupaten Kulon Progo (Wates) dan sekitar 17 km dari kota Propinsi Yogyakarta adalah suatu wilayah penghasil biji benguk dan koro. Tanaman benguk ini sangat banyak ditemukan di wilayah Kulon Progo khususnya daerah Desa Sentolo, sehingga banyaknya biji benguk tersebut menginspirasi penduduk Kulon Progo untuk mengolahnya menjadi tempe benguk, karena harga biji benguk yang lebih murah dan mudah didapat daripada biji kedelai. Nama botaninya adalah Mucuna Pruriens , sejenis kacang koro dengan induk tanamannya tumbuh merambat, dalam ilmu tumbuh-tumbuhan, Kacang Benguk satu keluarga dengan Buncis dan Kapri, memiliki butiran kacang yang lebih...
Semelak pace adalah minuman tradisional masyarakat Jogja yang sekurang-kurangnya sudah dikenal pada awal abad ke-19. Minuman ini merupakan ekstrak buah mengkudu atau pace yang diberi gula Jawa, jeruk nipis, dan garam. Meskipun buah mengkudu yang masak baunya menyengat, tetapi khasiat minuman semelak pace dikenal sangat bagus untuk beberapa gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, dan masuk angin. Minum semelak pace merupakan upaya menangkal penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan, karena itu masyarakat Jawa banyak memanfaatkan semelak pace ini untuk minuman sehari-hari untuk pemeliharaan kesehatan. Sayang penjual minuman ini semakin berkurang karena memang generasi muda sudah tidak mengenal lagi minuman kesehatan seperti ini. Sumber: Murdijati Gardjiton Dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Bakpia kudapan khas Yogyakarta asalnya dari negeri Tiongkok, Tou Luk Pia yang berarti kue pia kacang hijau. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa Bakpia berasal dari kata “Bak” dan “Pia”, Bak artinya daging babi dan Pia adalah kue yang terbuat dari tepung. Jadi secara harafiah, bakpia adalah kue tepung berisi daging babi. Di Yogyakarta mayoritas penduduknya Muslim yang mengharamkan daging babi, akhirnya daging yang semula melekat pada bakpia diganti kacang hijau yang menyehatkan dan harganya murah pada saat itu. Kwik Sun Kwok adalah yang berjasa dalam dunia bakpia. Berkat keuletannya, bakpia mulai dapat berakulturasi dengan budaya Jawa. Ia lah yang mencetuskan ide pertama kali untuk mengganti isi bakpia dari daging menjadi kacang hijau. Pada tahun 1948, ia mulai menjajakan bakpia buatannya ke kampung-kampung di Yogyakarta. Ia menjual bakpianya tidak dengan kardus seperti sekarang tapi hanya dengan besek tanpa label. Bakpia terbuat dari te...
Enthung merupakan kuliner musiman yang dikenal cukup luas di wilayah hutan jati mulai dari Blora, Bojonegoro, Saradan, Caruban, Ngawi, dan terutama Gunung Kidul. Ulat jati atau biasa disebut dengan enthung beserta kepompongnya atau ungkrung banyak diburu oleh masyarakat Gunung Kidul untuk diolah menjadi masakan. Biasanya enthung paling nikmat jika dibumbu bacem. Tekstur kenyal dari ungkrung berpadu dengan manis legitnya bumbu bacem. Untuk menemukan ulat jati dan ungkrung sangat mudah karena banyaknya hutan di kawasan Gunung Kidul. Sebelum dibacem, ulat jati dan ungkrung tersebut direbus dengan air mendidih. Sama dengan belalang, bagi yang takut alergi, bisa ditambahkan dengan arang saat direbus. Ulat jati ini bisa disuguhkan sebagai kudapan atau lauk dengan nasi yang hangat. Makanan ekstrem ini lebih nikmat jika dicampur nasi thiwul. Ulat jati yang diperolehnya, kemudian langsung dicuci. Dengan cekatan, dia langsung meracik bumbu bacem untuk memasak ulat jati yang diperole...
Sejak lama, masyarakat Gunung Kidul memang terkenal akan pola kulinernya yang unik dan kreatif. Kehidupan yang cukup sulit di perbukitan karst membuat mereka harus pintar-pintar memanfaatkan sumber daya di sekitarnya. Lihat saja tiwul, gatot, atau belalang goreng yang merupakan makanan asli Gunungkidul, dikonsumsi sebagai pengganti sumber karbohidrat pada saat musim paceklik. Kekurangan asupan protein dari hewan ternak pun diatasi dengan gaya hidup entomophagy alias memakan serangga, termasuk belalang dan ulat jati. Ulat jati memang tidak sepopuler belalang goreng yang umum dijumpai di Gunung Kidul. Larva dari ngengat Hyblaea purea ini hanya muncul pada awal musim penghujan, ketika daun-daun jati yang meranggas mulai tumbuh kembali. Pada saat inilah masyarakat Gunung Kidul ramai-ramai datang ke kebun jati untuk mengumpulkan larva dan pupa ngengat ini. Musim ulat jati pun berakhir ketika para larva ini selesai bermetamorfosis menjadi ngengat, hanya sekitar beberapa minggu s...
Pruthul adalah nama lokal untuk kumbang sawah di Kabupaten Gunung Kidul. Pruthul termasuk hama yang meresahkan para petani sehingga banyak diburu. Oleh masyarakat Gunung Kidul, pruthul tak hanya diburu dan dibuang sia-sia tetapi diolah menjadi makanan lezat yakni digoreng untuk camilan atau dijadikan sebagai lauk-pauk. Pruthul yang sayapnya keras ini berpadu dengan gurihnya bumbu-bumbu dan digoreng kering. Akan tetapi untuk menikmati makanan ini tidak bisa setiap saat lantaran pruthul hanya muncul di awal musim penghujan. Panen kumbang sawah hanya terjadi setahun sekali. Pruthul mulai keluar dari sarangnya di awal musim hujan pada saat senja dan menempel di pepohonan dan daun padi atau tanaman lainnya. Oleh karena itu, warga mencari pruthul pada malam hari untuk diolah menjadi lauk yang gurih dan renyah. Meskipun tidak diragukan lagi kelezatannya, belum diketahui mengenai kandungan vitamin dan protein pada pruthul goreng tersebut. Sum...
Rondo royal artinya janda yang berperilaku seperti orang kaya, hartanya tidak terbatas. Ini adalah nama makanan yang terbuat dari tape ketela yang dicampur tepung terigu kemudian dibentuk bulatan dan diisi dengan sirup gula pasir warna merah atau hancuran gula kelapa kemudian diselimuti dengan adonan tepung terigu dan digoreng. Rondo royal manis dan legit beraroma tape. Cocok sekali untuk teman minum teh sore hari. Rondo royal termasuk dalam kelompok aneka makanan gorengan yang dijual di pinggir jalan dan menjadi camilan masyarakat kelas bawah bersama balok, tempe kemul, pisang goreng, gembus goreng, beserta tahu susur dan bakwan sayur. Dari dulu hingga sekarang keberadaan rondo royal dalam khasanah makanan rakyat tidak berubah. Di Jawa Barat makanan sejenis ini hanya bentuknya berbeda tapi juga terdiri atas tape dan gula, namun proses finalnya dibakar, nama makanannya adalah colenak. Satu kilogram tape, 250 gram terigu, sebagian dicairkan dengan air untuk...
Entah bagaimana riwayatnya mengapa makanan yang terbuat dari ketan yang ditanak kemudian dicetak di atas nampan dan diatur agar padat dan datar lalu di atasnya dituangi campuran tepung maizena berwarna cokelat gula karamel hingga terasa manis disebut joko brengos. Makanan ini merupakan akulturasi kuliner Jawa dan Belanda. Ketannya adalah Jawa, sedangkan lapisan di atas ketan yang berwarna cokelat bercita rasa karamel manis adalah bagian dari kuliner Belanda. Perpaduan antara ketan yang gurih dan jendalan maizena yang manis berwarna cokelat dengan cita rasa karamel adalah perpaduan yang harmonis. Makanan ini adalah kesukaan KGPAA Mangkubumi seorang pangeran yang terkenal kaya, sukses berwirausaha dan piawai mengelola berbagai usaha di Yogyakarta pada jamannya yaitu pada jaman awal abad ke-19. Joko Brengos yang disingkat kongos ini tidak terlalu populer di kalangan masyarakat di luar Keraton. Di kalangan para bangsawan makanan ini sering sekali menjadi suguhan dalam berbagai e...