Gatot adalah makanan khas Gunung Kidul, Yogyakarta, yang berupa olahan dari singkong. Orang Jawa biasa menyebutnya "Gathot" atau juga "Gambleh". Asal muasal makanan Gatot dan Tiwul yaitu "Gaplek". Gaplek yang sudah dikeringkan lalu direndam dengan air kapur sirih selama 12 jam. Air rendaman Gatot mentah lalu dibuang, Gatotnya dibilas bersih dan dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki kemudian dikukus 2 jam. Setelah matang, disimpan di wadah yang lebar agar cepat dingin. Dulu bersama Tiwul, Gatot merupakan makanan pokok penduduk Gunung Kidul pengganti nasi. Tanah di Gunung Kidul cenderung kurang subur, kering, berdaya dukung rendah sehingga hanya tanaman tertentu seperti jagung, kacang-kacangan, dan singkong yang berhasil dibudidayakan. Semenjak tahun 1966, terjadi perubahan pola konsumsi nasi sebagai makanan pokok akibat perkembangan zaman dan urbanisasi. Kedua makanan tradisional ini pun tergeser menjadi makanan camilan. Cara mengolah Gatot mudah. Gatot ker...
Resep: Bahan Ketela pohon Kelapa Daun pisang Bumbu Garam Cara Membuat Kupas ketela lalu rendam selama 1 ½ hari, cuci bersih lalu parut, dipipit, dan diendapkan airnya untuk diambil patinya. Campur pati dengan parutan ketela lalu kukus hingga masak. Setelah masak lalu tumbuk halus dan beri kelapa yang telah diiris tipis. Letakkan dalam papan yang dialasi daun pisang yang telah dikukus. Sumber: Murdijati Gardjiton Dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Konon Sate Karang ini sudah ada sejak tahun 1947 oleh Karyo Semito. Awalnya sate dijajakan secara keliling dengan menggunakan pikulan, tapi setelah pertengahan tahun 1950-an Pak Karyo mulai menetap di Lapangan Karang Kotagede. Usahanya lantas diteruskan kedua anaknya, yakni Prapto Hartono yang berjualan di Lapangan Karang dan Cipto yang membuka cabang di Jalan Kemasan, Kotagede. Warung yang di Lapangan Karang sekarang dikelola oleh Tri Wahyono yang merupakan putra dari Pak Prapto. Warungnya buka sore hingga malam hari, kira-kira pukul: 17.30 – 22.30 WIB. Jam buka: 17.30 – 22.30 Lokasi: Lapangan Karang, Kotagede – DI Yogyakarta Sumber: http://www.kabarkuliner.com/uniknya-sate-karang-kotagede-jogja/
Peksimoi adalah kesenian dalam bentuk slawatan yang dipentaskan oleh para penari yang juga merangkap sebagai vokalis. Kata peksimoi sendiri diambil dari kata peksi yaitu burung dan moi yaitu baik, berarti peksiomi artinya adalah mempunyai cita-cita yang tinggi, yang mendambakan kebaikan atau keluhuran. Sama seperti slawatan pada umumnya, Peksimoi ini sendiri mengisahkan riwayat nabi Muhammad S.A.W. Syair yang ada di dalamnya terdiri dari 2 macam yaitu yang berbahasa Arab dan berbahasa indonesia. Pada syair berbahasa Arab ini diambilkan dari buku Tlodo Barzanji dan berisikan dakwah dalam pendidikan Islam. Pada syair berbahasa Indonesia ini berisikan ucapan selamat datang, terima kasih dan lain-lainnya. Fungsi dari pertunjukan Peksimoi ini adalah sebagai sarana hiburan atau tontonan bagi masyarakat. Jumlah para penari pada kesenian ini bebas, yaitu tergantung dari banyaknya anggota dan juga luasnya arena. Jenis kesenian ini yaitu tidak memakai naskah, namun menggunakan ped...
Emprak merupakan sendra tari yang diiringi dengan musik slawatan yang bercerita tentang kisah kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Emprak dapat dibilang merupakan suatu peragaan dari isi cerita yang terdapat di dalam Kitab Barzanji. Fungsi kesenian ini hanyalah sebuah hiburan atau tontonan biasa. esenian ini terlahir pada sekitar tahun 1927 di desa Pleret atau Mejing, Gamping, Sleman. Pencipta dari Emprak ini adalah Kyai Derpo, beliau merupakan putra dan seorang abdi dalem dari kraton yang bernama Dipowedono. Jumlah pemain dalam kesenian ini berkisar antara 30 orang yang terdiri dari 20 orang sebagai penari dan 10 orang sebagai pemain alat musik atau pengiring. Awal mulanya para penari Emprak terdiri dari seorang pria semua, tetapi ditahun 1950 mulai ada penari seorang wanita. Para penari ini berusia antara 15 tahun sampai 35 tahun. Kostum yang dipakai para pemain Emprak bersifat realistis dan juga berorientasi ke Arab. Kostum para pemain yaitu terdiri dari serban, kupluk atau pec...
Tari Lengger Tapeng merupakan seni pertunjukan yang berasal dari Desa Nglinggo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Tarian ini menggunakan topeng dan melibatkan beberapa penari dengan berbagai macam karakter. Seperti bidadari, hanoman, raksasa, hingga beberapa makhluk lainnya. "Lengger, artinya tari dan Tapeng itu Tayub Topeng, makai topeng. Karena para penarinya memakai topeng ketika menari," ujar Teguh Kumoro, Kepala Desa Nglinggo, akhir pekan lalu. Tarian ini termasuk langka dan jarang ditemui karena berasal dari desa setempat, Nglinggo. Bukan hanya sekedar warisan budaya, tarian ini juga memiliki beberapa makna. Jer basuki mawa bea, yang artinya membutuhkan sebuah modal untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam pepatah Jawa. Lengger Tapeng, juga menjadi salah satu bentuk ungkapan penebus nazar bagi masyarakat di Desa Nglinggo. "Kalau warga sini punya doa, atau nazar, biasanya Lengger Tapeng ini jadi nazarnya. Digelar semalaman, mulai dari jam 8 malam. Selesainya bisa p...
Jenang Putih adalah bubur yang berwarna putih. Bubur putih merupakan ubo rampe yang terbuat dari beras dan diberi sedikit garam . Bubur putih ini dimaksudkan sebagai penghormatan dan harapan seseorang yang ditujukan kepada orang tua atau leluhurnya agar senantiasa diberi doa restu dan mendapatkan keselamatan. Oleh nenek moyang orang Jawa, bubur putih dimaksudkan sebagai bibit dari ayah atau sperma atau darah putih . Pada ritual sesaji, ubo rampe jenang putih ini selalu disertai dengan jenang abang karena masing-masing memiliki makna tersendiri dan menjadi semacam pangan yang tidak bisa dipisahkan. Jenang abang dan jenang putih ini dimaksudkan sebagai lambang kehidupan manusia yang tercipta dari air kehidupan orang tuanya. Dalam hal ini bersatunya sperma atau dilambangkan sebagai darah putih. Jenang abang dan jenang putih diartikan sebagai simbol terjadinya anak karena bersatunya darah dari ayah dan ibu. Maka dari itu maksud dari sajen jenang abang dan jenang putih adal...
Jenang Abang adalah bubur yang berwarna merah. Bubur merah merupakan ubo rampe yang terbuat dari beras dengan dibumbui sedikit garam dan dicampur dengan gula Jawa sehingga berwarna merah. Jenang Abang dimaksudkan sebagai penghormatan dan permohonan kepada orang tua agar diberi doa dan restu sehingga selalu mendapatkan keselamatan. Jenang abang dimaksudkan pula sebagai lambang bibit dari ibu atau darah merah. Jenang abang dan jenang putih ini dimaksudkan sebagai lambang kehidupan manusia yang tercipta dari air kehidupan orang tuanya. Dalam hal ini bersatunya sperma atau dilambangkan sebagai darah putih. Jenang abang dan jenang putih diartikan sebagai simbol terjadinya anak karena bersatunya darah dari ayah dan ibu. Maka dari itu maksud dari sajen jenang abang dan jenang putih adalah sebagai bentuk setiap orang untuk menghormati orang tuanya. Biasanya dibuat dan dimakan pada saat syukuran alias bancakan weton atau hari kelahiran. Sumber: Wikipedia.org
Bahan segar dalam minuman ini dapat membantu sumber metabolisme yang tepat untuk keluarga anda. Memasak resep yang satu ini membutuhkan beberapa teknik memasak agar dapat sisajikan dengan tepat. Berikut resep selengkapnya Minuman hangat ini dapat anda sajikan sore hari bersama sepotong kue. Bahan: 1.000 ml air mendidih 2 sendok makan kopi bubuk 200 gram jahe bakar, dimemarkan 2 gram secang 150 gram gula pasir 8 sendok teh susu kental manis putih Cara membuat: Larukan kopi bubuk di dalam air mendidih. Saring. Rebus air kopi, jahe, dan secang di atas api kecil sampai beraroma. Tambahkan gula pasir. Aduk sampai larut. Sajikan hangat bersama susu kental manis putih. Untuk 4 porsi http://reseponline.info/resep-minuman-wedang-kopi-secang-jahe/