Pendhalungan adalah sebutan untuk wilayah di Provinsi Jawa Timur yang kebudayaan masyarakatnya merupakan perpaduan antara kebudayaan Jawa dan Madura. Wilayah Pendhalungan meliputi Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Di wilayah Pendhalungan kita dapat menemukan beragam tradisi-tradisi unik yang merupakan hasil akulturasi kedua kebudayaan tersebut. Salah satu tradisi tersebut adalah tradisi Petik Laut. Tradisi ini merupakan ritual yang dilakukan Nelayan Pendhalungan untuk mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuham Yang Maha Esa atas anugerah-Nya berupa hasil kekayaan laut. Tradisi ini telah dilakukan oleh nelayan setempat sejak turun temurun. Tradisi ini biasa dilakukan setiap tahun. Namun, waktu pelaksanaannya berbeda-beda setiap daerah. Contohnya, masyarakat Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo melakukan petik laut pada saat menjelang tahun baru, sedangkan masyarakat Muncar, Kabupaten Banyuwangi melakukan Petik Laut setiap pertengaha...
Ritual Mandi Lumpur Ungkapan rasa syukur atas rezeki berlimpah kepada sang pencipta dilakukan dengan beramai-ramai mandi lumpur. Ritual turun temurun itu dilakukan oleh petani Dusun Mrica, Tongas, Kabupaten Probolinggo. aKetika akan memulai ritual, ratusan warga sudah berkumpul di sawah yang akan digunakan untuk ritual mandih celot atau mandi lumpur. Ritual ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan muda, namun orang tua pun ikut melakukannya, mereka pun berkumpul di sawah, dan mereka langsung saling melempari air dan lumpur ke peserta lain. Tak hanya itu, para peserta ritual pun juga memperebutkan lima bebek yang dilepas di 'lautan' lumpur. Tradisi unik ini menjadi perhatian ratusan warga sekitar yang antusias menyaksikan keseruan petani bermandikan lumpur dari pinggiran sawah. Mereka mengaku senang dapat menjalin kekompakan dengan sesama petani, dalam menyambut musim tanam kali ini. Di dalam ritual ini tidak ada yang namanya perbedaan pangkat m...
Mlaku Mbungkuk, budaya yang mulai hilang dari kebiasaan Mlaku Mbungkuk adalah salah satu kebiasaan orang Jawa yang bertujuan untuk menghormati orang yang lebih tua. Kebiasaan ini maksudnya adalah membungkuk/merendahkan tubuh saat berjalan di hadapan orang yang lebih tua. Kebiasaan ini sudah ada sejak zaman dulu dan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Mlaku Mbungkuk biasanya disertai dengan meluruskan tangan ke bawah agak depan, serta tangan satunya di belakang. Untuk lebih sopannya, orang yang mlaku mbungkuk biasanya disertai dengan ucapan, "Permisi, Pak/Bu" atau dalam bahasa jawa, " nyuwun sewu, Pak, Bu". Perlu diingat bahwa saat membungkuk, harus berjalan pelan-pelan, bukan malah berlari. Kebiasaan orang Jawa ini memang terlihat sepele, hanya membungkukkan badan, lalu mengucapkan "Permisi". Namun hal itu menunjukkan etika kita terhadap orang yang lebih tua, sopan santun, menghormati, dan menghargai 'posisi' orang tersebut. Mirisnya, se...
GREBEG TENGGER TIRTO AJI Grebeg Tengger Tirto Aji, mungkin banyak dari kita, atau bahkan yang sudah lama tinggal di Malang yang tidak mengetahui upacara adat ini. Hal ini mungkin adalah hal yang wajar karena walaupun upacara ini sudah lama dilakukan, upacara ini baru dipublikasi ke masyarakat luas 5 tahun lalu, atau tepatnya Tahun 2013. Upacara Grebeg Tirto Aji merupakan upacara pengambilan air suci yang dilaksanakan masyarakat Suku Tengger. Upacara ini biasa dilakukan ketika selesai musim panen. Setiap tahunnya upacara ini dilakukan di tempat yang sama, yaitu di Pemandian Mendit, Kabupaten Malang. Prosesi upacara ini dimulai dengan kirab hasil bumi dan dua buah gunungan besar, kemudian didoakan oleh dukun adat. Kemudian dilanjut dengan tari 7 Bidadari sebagai perlambang untuk mengambil air. Setelah tarian selesai, Bupati Kabupaten Malang akan mengambil air suci untuk warga yang disaksikan ketua adat Suku Tengger. Setelah itu, dilanjutkan dengan syukuran yang diisi denga...
Tironan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam memperingati hari lahirnya setiap bulan atau disebut weton jawa. Tradisi ini dilaksanakan dengan cara membuat jenang merah dan putih. Jenang ini dibacakan doa dan diletakkan dan jangan dimakan atau buang sampai hari berganti. OSKMITB2018
GREBEG TENGGER TIRTO AJI Grebeg Tengger Tirto Aji, mungkin banyak dari kita, atau bahkan yang sudah lama tinggal di Malang yang tidak mengetahui upacara adat ini. Hal ini mungkin adalah hal yang wajar karena walaupun upacara ini sudah lama dilakukan, upacara ini baru dipublikasi ke masyarakat luas 5 tahun lalu, atau tepatnya Tahun 2013. Upacara Grebeg Tirto Aji merupakan upacara pengambilan air suci yang dilaksanakan masyarakat Suku Tengger. Upacara ini biasa dilakukan ketika selesai musim panen. Setiap tahunnya upacara ini dilakukan di tempat yang sama, yaitu di Pemandian Mendit, Kabupaten Malang. Prosesi upacara ini dimulai dengan kirab hasil bumi dan dua buah gunungan besar, kemudian didoakan oleh dukun adat. Kemudian dilanjut dengan tari 7 Bidadari sebagai perlambang untuk mengambil air. Setelah tarian selesai, Bupati Kabupaten Malang akan mengambil air suci untuk warga yang disaksikan ketua adat Suku Tengger. Setelah itu, dilanjutkan dengan syukuran yang diisi denga...
Larung Tumpeng merupakan tradisi masyarakat yang berada di Telaga Sarangan. Tradisi ini merupakan tradisi tahunan yang diadakan pada hari Jumat Pon dengan tujuan mengucap syukur dan memohon keselamatan kepada penunggu Telaga Sarangan. Selain tujuran ritual, Larung Tumpeng ini juga memiliki tujuan agar menambah daya tarik pengunjung Telaga Sarangan sebagai salah satu objek wisata alam yang terletak di Jawa Timur. Perlengkapan yang dibawa pada tradisi Larung Tumpeng ini adalah tumpeng nasi raksasa dan beberapa sayuran dan buah-buahan yang ditumbuhkan di Sarangan. Tumpeng raksasa ini memiliki tinggi sekitar 3 meter yang diletakkan pada wadah kayu yang sangat besar. Prosesi Larung Tumpeng di Telaga Sarangan ini biasanya diawali dengan memikul tumpeng beserta sesaji-sesaji lainnya dari Balai Kelurahan Sarangan menuju Punden Desa Sarangan. Di punden desa inilah sesepuh desa membacakan doa. Setelah itu, tumpeng dibawa mengelilingi Telaga Sarangan menggunakan perahu untuk dilarungka...
BANYUWANGI – Masyarakat Using Banyuwangi memiliki banyak tradisi di bulan Syawal. Selain Seblang, Barong Ider Bumi, setiap usai Lebaran ada tradisi Puter Kayun. Puter Kayun adalah tradisi napak tilas masyarakat Using Boyolangu, Kecamatan Giri Banyuwangi dengan cara beramai-ramai naik delman. Ritual ini digelar satu tahun sekali, tepatnya hari ke-10 bulan Syawal. Ratusan warga ini mengendarai dokar (delman) dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol sejauh lima belas kilometer. Seperti siang tadi, Jumat (15/7), belasan dokar dihias aneka bunga cantik dan beragam asesoris yang menarik, layaknya andong wisata. Dokar-dokar ini adalah milik warga Boyolangu yang memang masih memegang adat Puter Kayun. Puter Kayun dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dalam kesempatan itu, Bupati Anas mengatakan bahwa tradisi puter kayun yang masuk Banyuwangi Festival ini berasal dari masyarakat yang tumbuh dari bawah. Bupati pun bangga bahwa tradisi p...
Malam Midodareni adalah salah satu ritual dalam proses pernikahan adat Jawa yang terjadi semalam sebelum pernikahan, dimana mempelai pria tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan mempelai wanita. Dalam istilah modern, Midodareni juga bisa dikenal dengan nama pingitan. Malam Midodareni berasal dari legenda antara Jaka Tarub dan istrinya Dewi Nawangwulan. Konon, Dewi Nawangwulan kembali ke bumi untuk mengunjungi anaknya, Dewi Nawaningsih, pada malam sebelum pernikahannya. Dari cerita inilah, muncul Midodareni yang berasal dari istilah "widodari" atau "bidadari". Artinya, masyarakat percaya bahwa bidadari dari kayangan akan menyambangi rumah mempelai wanita untuk membuatnya menjadi cantik seperti bidadari pada hari pernikahannya esok. Midodareni sendiri biasanya dilaksanakan pada malam hari setelah proses siraman. Ritual ini dilaksanakan dengan melakukan doa bersama antara keluarga dan kerabat yang bersangkutan, dimana mempelai wanita akan tetap berada di dalam kamar dan memper...